Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 4 : Dia Masih Sama


__ADS_3

Orang bilang, menjadi dewasa itu seperti mengedipkan mata dan semua langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu halnya yang di rasakan Kenan, tepat dua Minggu setelah ulang tahunnya yang ke tujuh belas, takdir hidupnya langsung berubah. Kenan kehilangan Mama dan Papa, kehilangan gadis yang jadi penyemangat hidupnya, kini ia mulai paham jika menjadi dewasa memang benar-benar sulit, andai bisa Kenan ingin menjadi anak-anak selamanya yang hidup seolah tanpa banyaknya beban dan pikiran.


"Eh, Ken, ngapain disini?"


Ara sedikit terkejut, mendapati Kenan sudah berdiri di depan gerbang rumahnya, iya Kenan sengaja datang ke rumah Ara setelah pulang dari Makan orang tuanya.


"Gue mau main, silahturahmi gitu, masa ga boleh," sesedih apapun hidupnya Kenan akan tetap berusaha tampak baik-baik saja.


"I-iya boleh sih, ya udah, ayo masuk!"


Ragu-ragu Ara mempersilahkan Kenan masuk ke dalam rumah, bukan takut di marah Mama dan Papanya, Ara justru merasa canggung karena Kenan bertamu ke rumahnya dengan sangat tiba-tiba.


"Kayaknya, orang tua lo makin kaya raya ya, buktinya nih rumah lebih gede dari rumah lo yang sebelumnya." basa basi Kenan.


"Rumah besar, harta banyak, tidak menjamin kebahagiaan,"


"Heeh, lo ceramah apa gimana?"


Ara mendadak kesal, ia memasamkan wajah setelah itu mendudukan tubuh di sofa. Tanpa permisi Kenan pun melakukan hal yang sama, cowok itu mendudukan tubuh tepat di samping Ara.


"Tawarin minum, dong, gue haus nih," Kenan masih bersikap sedemikian jenaka.


"Tunggu bentar, gue ambilin."


"Oke. Tapi, jangan di kasih racun ya, gue belum siap mati,"


Dua tahun berpisah, bahkan Ara tidak melihat perubahan dari sikap Kenan, cowok itu masih sama seperti dulu, humoris dan sangat mudah mencairkan suasana. Namun siapa yang sangka, di balik sikap jenakanya, Kenan adalah orang yang paling pandai menyembunyikan kesedihan.


"Orang tua lo, kemana, Ra?"


"Biasalah, tiada hari tanpa kesibukan." jawab Ara santai.


"Tapi lo keren, Ra, bisa kuat di tengah perbedaan yang sangat nyata antara nyokap dan bokap lo."


"Gue cuma pura-pura keren, tau. Sebenernya sih masih sama aja, bahkan sampai hari ini gue masih bingung, Ken." Ara tertunduk, ia tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Bingung kenapa? Meski mungkin lo ga anggap gue cowok lo lagi, setidaknya lo masih bisa curhat ke gue ya,"

__ADS_1


Ara mengangguk cepat, Kenan masih sama, tidak berubah, ia selalu bisa membuat Ara nyaman setiap kali butuh sandaran. "Gue belum menentukan Agama Mama atau Papa yang harus gue ikutin, Ken. Gue takut jika memilih salah satu, pasti akan ada yang sedih dan kecewa, gue ga mau Mama Papa kecewa,"


"Tapi, Ra, Agama itu sebuah keharusan, lo wajib segera menentukan, gue yakin nyokap bokap lo, ga akan sedih kalau nanti lo ikut Agama salah satu dari mereka."


"Ihhhh, sok tau banget sih lo, Ken."


"Ya dong, gue kan memang serba tau,"


Di banding dengan Chio, Ara lebih mudah terbuka kepada Kenan, karena menurutnya, Kenan lebih nyaman untuk sekedar saling bertukar rasa dan pikiran, sementara bersama Chio, Ara harus bersikap seformal mungkin, baik dari segi sikap maupun cara bicara. Mungkin karena perbedaan umur Chio dan Kenan yang terpaut lumayan jauh, mewajibkan Ara, untuk bisa menepatkan diri.


"Malam ini, gue nginep di rumah lo, ya!" pinta Kenan dengan memasang wajah penuh harap.


"Kagak boleh, lu tau kan, bokap gue galaknya kayak apa,"


"Semalam aja, Ra, gue lagi galau tau,"


"Oh, rupanya lo bisa galau juga ya,"


Ara justru terus-menerus menjawab harapan Kenan dengan candaan. Sejujurnya saat ini, Kenan memang tengah bersedih, banyak hal yang memenuhi benak dan pikirannya, tapi Ara bersikap seakan tidak perduli.


"Ya udah deh, aku pulang aja,"


Wajah Kenan yang tadi murung, mendadak berubah memerah, tak di sangka ia akan memiliki waktu Ara, tanpa harus ia memaksa, hal yang paling menyenangkan berada di samping gadis yang masih sangat ia cintai ini, meski sudah berpisah dua tahun lamanya.


"Main kemana?"


"Udah, ikut aja,"


Ara menggapai tangan Kenan lalu mengajak cowok ini pergi ke suatu tempat, dan disana keduanya memilih untuk sama-sama diam, suasana mendadak hening, Kenan dan Ara bingung harus membicarakan apa.


"Hem, Ken," pada akhirnya Ara lah yang berbicara lebih dulu.


"Ya," jawabnya singkat.


*Lo, apa kabar? Gue serius ya nanya dan gue ga suka kalau lo jawab pake candaan."


"Hehe," tawa Kenan jelas tampak di buat-buat.

__ADS_1


"Kok, malah ketawa sih?"


Cowok itu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menceritakan jika ia pernah berada di titik paling hancur dalam hidup, bahkan suatu hari Kenan pernah menggores nadinya sendiri hingga ia harus di rawat di rumah sakit berhari-hari.


"Tapi sekarang, gue udah lebih baik bahkan gue bisa kuliah dan sesekali cek perusahaan, Papah,"


"Syukurlah," tapi Ara masih bisa melihat sorot kehancuran dari tatapan mata Kenan. "Sekarang, yang urus perusahaan Bokap lo, siapa?"


"Adiknya Papah, aku bersyukur sih, punya om yang pengertian dan bisa jalanin amanah Papah sebaik mungkin."


Ara mengangguk-angguk paham, ia cukup lega mendengar penuturan Kenan.


"Seharusnya, ada anak bokap gue yang urus perusahaan, tapi sayangnya dia gak mau lebih tepatnya ga perduli sama sekali."


"Maksud lo," Ara sungguh tidak paham. "Jangan bilang, bokap lo, punya anak lain," Ara mengangkat alis sebelah, ia benar-benar penasaran.


"Iya, bokap gue punya anak lain yang artinya gue punya saudara alias Abang Kandung."


"Waduh," tentu saja Ara terkejut, karena selama ini yang ia tahu, Kenan anak tunggal.


"Tapi gitu deh, gue udah usaha ambil hati Abang, tapi percuma ga ada hasil sama sekali. Gue sih, ga salahin dia, karena gue paham rasa sakit yang dia rasa, sebab dulu, saat masih kecil, Papah lebih milih buat serahin Abang gue di rawat oleh orang lain, dengan alasan dia mau nikah lagi sama nyokap gue."


"Tega banget, bokap lo,"


"Ya, karena itu Abang gue sakit hati banget, bahkan sampai Bokap gue meninggal dia tuh belum pernah ke Makam sama sekali."


"Butuh proses, Ken, karena di buang oleh orang yang seharusnya paling melindungi adalah hal yang paling nyakitin, orang tua seharusnya jadi rumah untuk pulang, tapi bokap lo malah buang dia."


"Iya."


Kenan tertunduk dalam-dalam, ada rasa sakit membenam dalam dada, ia selalu berharap sang Abang bisa memaafkan Papahnya yang sudah tiada.


"Sini!" Ara meminta Kenan menyandarkan kepala di bahunya. "Makasih Ken, lo masih mau curhat dan cerita semua masalah yang lo hadapi, gue berharap suatu hari nanti, lo dan Abang lo bisa bersama-sama, kalian akan hidup layaknya saudara yang seharusnya."


"Aaminn."


Gadis ini masih sama, selalu bisa membuat Kenan merasa aman dan nyaman. Setidaknya setelah menceritakan semua masalah kepada Ara, Kenan merasa lebih lega.

__ADS_1


TBC


__ADS_2