Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 15 : P A N I K


__ADS_3

Biasanya, Chio tidak pernah merasakan setegang ini, dalam menghadapi hal apapun. Tapi mendengar Ara, berniat lompat dari atas gedung membuat dadanya mendadak berdebar dan jantung berdetak tak beraturan, ia benar-benar ketakutan, jika gadis itu akan mati dalam keadaan tragis.


"Ara," sekali Chio berteriak memanggil nama gadis yang sangat di cintainya, tapi ia belum mendapatkan jawab.


"Raaa, tolong, jangan buat saya panik!" dua kali, Chio memanggil lagi, tapi tetap tidak ada jawaban.


Chio berlari kesana kemari, menyusuri setiap gedung bahkan sudah membuat heboh, para mahasiswa yang mendengar jika Ara akan melompat dari gedung.


"Saya sudah bantu cari, Mas, tapi belum juga menemukan keberadaan, Ara, atau jangan-jangan, dia sudah lompat." Amel memberikan pendapat.


"Jaga ya mulut kamu, kalau Ara sudah lompat, pasti jadi tontonan banyak orang di bawah sana, ini buktinya masih sepi-sepi saja,"


"Iya juga, ya." Amel mendengus pelan. "Terus, Ara kemana dong?"


"Ya, mana saya tahu, cari sana!"


Saat Amel akan beranjak pergi untuk mengindahkan permintaan Chio, saat itu pula secara tiba-tiba Ara hadir dengan raut wajah tanpa dosa.


"Pengen banget, liat gue bunuh diri kayaknya," ucap Ara setelah berhadapan dengan Chio.


"Nampar, anak orang dosa nggak sih? Kalau nggak Dosa, izinkan saya tampar mulut, Ara sekali saja." suara Chio meninggi.


"Dih, malah nyolot, tampar nih, kalau mau!" Ara mendekatkan pipinya ke arah, Chio.


Melihat pertengkaran antara Ara dan Chio yang masih di penuhi emosi, membuat Amel memilih pergi dan menjauh, karena meninggalkan mereka sepertinya keputusan yang tepat.


Chio sendiri menatap kesal ke arah Ara, lalu menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi dari halaman kampus. Sikap keduanya menjadi pusat perhatian dan pembicara di antara para mahasiswa, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengira, jika keduanya berpacaran.


Setelah masuk kedalam mobil, tatapan Ara tak mau lepas menyorot tajam ke arah Chio, bahkan ia menatap wajah pria ini dengan perasaan penuh tanya.


"Maaf, kata Amel, kamu mau lompat dari atas gedung, jadi saya panik dan bersikap seperti tadi!" pelan-pelan, Chio berucap jujur.


"Masa," suara Ara terdengar mengejek, tapi sedetik kemudian ia pun tersenyum. "Jadi, anda takut saya, mati?"


Hening tak ada jawab kecuali tatapan Chio yang kian dalam kepada Ara.


"Jujur aja deh, anda suka saya, kan?"

__ADS_1


Chio menghela napas panjang, setelah itu mengacak-acar rambut Ara. "Jangan, mimpi kamu!"


Mendengar penuturan Chio baru saja, membuat Ara mangut-mangut. "Ya, udah kalau gitu!"


Sedetik kemudian, Ara memilih turun dari mobil Chio dan kembali masuk ke dalam kampus, tapi sebelum pergi, ia masih sempat mengucapkan terimakasih, karena hari ini Chio sudah memberi ia kado dan memberi ucapan selamat ulang tahun.


Kurang lebih lima menit, Chio terpaku seraya menatap langkah Ara yang kian menjauh. Ia sadar sekali, jika ia gengsi untuk menunjukkan perasaan yang sesungguhnya kepada Ara.


"Ini belum waktunya, saya harus meminta restu Ayah dan Umi lalu meyakinkan mereka jika, Ara gadis, baik-baik." ucapnya dalam hati.


Begitulah Chio, dalam hal apapun, ia selalu mempertimbangkan dulu matang-matang, terutama tentang perasaannya, karena bukan hanya Ara saja, kedua orang tuanya pun harus di yakinkan terlebih dahulu, secara Chio sendiri sadar, jika Umi dan Abi belum memberikan lampu hijau saat ini, karena beberapa waktu lalu, Ara berani memeluk Chio di depan banyak orang bahkan di halaman Masjid.


* * *


Hari ini sangat melelahkan bagi Kenan, karena setelah selesai kuliah ia harus datang ke perusahaan untuk membantu beberapa pekerjaan yang di minta oleh Om Bastian. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Kenan bahkan lupa makan, demi menyelesaikan semua hal yang harus di kerjakan.


"Sepertinya, kamu terlalu sibuk, sampai tidak punya waktu mengangkat telepon dari, saya."


Kenan terkejut luar biasa, saat mendapati sang Abang sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Bang, sejak kapan Lo disini?" tanya Kenan panik, ia segera meraih ponsel pintar miliknya dan mendapati sebelas panggilan tidak terjawab dari Chio. "Pasti, Lo kesel banget kan? Maaf ya, gue nggak sengaja, buat nggak angkat telepon dari, Lo."


"Gue dari kantor, ada perkejaan yang harus gue selesaikan."


"Terus, gunanya om kamu, apa? Jika perkejaan, justru kamu yang menyelesaikan,"


Kenan diam tidak menjawab, sebenarnya ia sendiri sependapat, di usia sekarang, seharusnya ia benar-benar fokus kuliah saja, tapi om Bastian justru membuat pikirannya terpecah belah.


"Bilang sama om kamu, besok temui saya!"


"Abang mau ke kantor lagi?"


"Iya." jawab Chio singkat. "Jangan sampai dia menghindar dari saya!" tambahnya lagi.


Dari cara bicara sang Abang, Kenan sudah menangkap sinyal-sinyal kebencian yang Chio tunjukan untuk Om Bastian. Entahlah, apa yang ada dalam pikiran pria ini, pasti ada alasan hingga membuat Chio tidak menyukai Omnya itu. Tentu saja, sebab berkali-kali, Chio datang ke Perusahaan, tidak sekalipun pria tua bernama Bastian tersebut mau menemuinya.


"Malam ini, saya menginap di rumah kamu."

__ADS_1


"Serius Bang?" Kenan bersorak senang.


"Hm, iya."


Sesegera mungkin Kenan beranjak dari tempat duduknya dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh, ia berniat mengajak sang Abang main game bersama malam ini.


"Saya tidak bisa main game?" tolak Chio, saat sang Adik mengajaknya bermain.


"Gue nggak percaya, jaman sekarang mana ada cowok nggak bisa main game."


"Ada, buktinya saya tidak bisa,"


Kenan tetap memaksa, Abangnya, mau tidak mau Chio pun akhirnya menuruti dan semalaman menghabiskan waktu di kamar berdua saja untuk main bersama.


Rasa bahagia itu tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata, Kenan tidak pernah menyangka jika ia akan memiliki waktu sebanyak ini untuk menghabiskan malam bersama saudara sendiri.


Huweeek!


Kenan mendadak mual, ia tergesa-gesa beranjak lalu masuk ke kamar mandi.


"Ken, kamu kenapa?" Chio tentu saja panik, karena terdengar jelas jika di dalam sana, Adiknya sedang muntah-muntah.


"Hehe, gue nggak apa-apa, Bang." sebisa mungkin Kenan tersenyum meski wajahnya tampak pucat setelah keluar dari kamar mandi.


"Kamu mual, pasti karena terlalu lama main game, dari jam sepuluh malam, ini sudah jam tiga pagi."


"Mungkin," jawab Kenan seraya terus menyunggingkan senyum meski sebenarnya kepala Kenan sangat pusing.


"Ya sudah, kamu istirahat sana!"


"Baik, Bang."


Wajah pucat, bahkan saat Chio menyentuh kening Kenan, suhu tubuh sang Adik terbilang sangat panas, karena itu Chio pun segera mengompres, supaya Kenan menjadi lebih baik.


Saat Adiknya tertidur, Chio bertanya kepada Bi Lila, apakah selama ini Kenan sering demam tiba-tiba, atau malam ini saja, dia mendadak demam tinggi.


"Iya Mas, selama Bibi bekerja dan menjaga Mas Kenan, dia memang sering tiba-tiba demam. Tapi setiap kali mau di bawa ke Dokter, Mas Kenan pasti menolak."

__ADS_1


Penjelasan Bi Lila baru saja, tentu membuat Chio merasa khawatir. "Ah, sudahlah, dia sering demam pasti karena terlalu lelah atau mungkin terlalu sering keluar malam," begitu pikir Chio untuk menepis pikiran buruk tentang kondisi kesehatan sang Adik.


TBC


__ADS_2