
Aku untuk kamu. Kamu untuk aku, namun semua, apa mungkin, iman kita yang berbeda. Tuhan memang satu, kita yang tak sama, haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan pernah pergi.
Sebait lirik dari lagu yang syarat akan makna tersebut, selalu sukses membuat Ara galau. Ia menepatkan dirinya sebagai orang yang paling patah hati di atas muka bumi, karena mencintai orang yang tak seiman. Kenyataan sampai detik ini, Ara belum memiliki pengganti, satu-satunya orang yang pernah mengisi hatinya adalah Kenan Argantara, meski masa indah itu sudah berakhir dua tahun yang lalu.
"Ra, besok kamu ke Gereja temenin Papa ya!"
Ara mengangguk ragu meski begitu ia tetap mengindahkan permintaan sang Papa. "Tapi nanti, Ara ga bisa lama nemenin Papa ibadah,"
"Kenapa, kamu ada tugas kuliah ya?"
"Bukan." gadis itu menggeleng pelan.
"Lantas, kenapa?"
Ara hanya tersenyum lalu pergi dari hadapan Papa tanpa menjawab pertanyaan pria yang sangat dihormatinya tersebut. Andai saja Papa tahu, jika hari Minggu Ara ada jadwal pengajian bersama muda-mudi di Masjid, ia yakin Papanya pasti akan kecewa.
Sssttt
Suara merdu dan lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar jelas di telinga Ara. Pemilik suara merdu itu pastilah sang Mama, yang baru saja selesai menyelesaikan Sholat Ashar. Di rumah ini Ara tak asing lagi untuk mendengarkan sang Mama mengaji bahkan tanpa canggung ia menanyakan banyak hal tentang Agama Islam kepada Mama.
"Ara, kenapa berdiri di situ? Kemarilah!"
"Haah?" mendadak gadis tersebut menjadi gugup, tapi tetap melangkahkan kaki untuk mendekati Mama, yang tampak cantik menggunakan mukenah warna merah muda.
*Kamu kenapa, kok cuma diem aja? Ara ada masalah, cerita sama Mama,"
Secepat kilat Ara menggeleng. Jika saja Mama tahu, masalah terbesar dalam hidupnya adalah orang tuanya sendiri, tapi Ara tak sampai hati untuk mengatakan kenyataan tersebut. Jujur saja, sampai detik ini Ara masih bingung, lantaran Mama dan Papa menikah tapi beda keyakinan, hal itu tampak ambigu baginya. Aneh bukan?Karena Ara pernah berada di waktu yang membuatnya sangat tidak nyaman.
* * *
"Kenan."
"Eh ya ampun, ada Ara di sini. Lo ngapain?"
Tak disangka pagi ini di Gereja Ara berjumpa dengan Kenan lagi, cowok itu sedang melakukan ibadah seorang diri.
"Gue, nemenin Papa ibadah." jawabnya gugup.
"Oh."
"Lo sendiri ngapain?" Ara balik bertanya agar keduanya tidak canggung.
__ADS_1
"Gue dugem, haha." Kenan menjawab dengan tawa yang sangat jelas di buat-buat. Menurutnya pertanyaan Ara tidak perlu di jawab, gadis itu pasti sudah paham apa yang dilakukannya setiap hari minggu.
"Dih, apaan dah, di tanya baik-baik malah becanda,"
"Pertanyaan Lo ga bermutu sama sekali."
Mendengar perkataan Kenan, Ara mendadak kesal, ia mengerutkan dahi bahkan malas menatap wajah pria ini.
"Ikut gue!" secara tiba-tiba Kenan menarik paksa tangan Ara.
"Mau kemana sih? Jangan tarik-tarik dong, sakit tau," Ara berdecak sebal. "Dua tahun ga ketemu, ternyata sikap Lo ga berubah ya, masih sama, suka maksa dan suka narik tangan gue." tambahnya lagi.
Mendengar omelan gadis di hadapannya, Kenan menjawabnya dengan tertawa. Ia tidak menyangka jika Ara masih paham dengan semua sikap dan caranya.
"Gue mau ajak lo jalan-jalan,"
"Males."
"Gue maksa. Buruan deh, disini gue masih terbilang baru, jadi belum paham tempat mana yang paling enak buat nongkrong."
"Bukan urusan gue. Lagi pula gue belum pamit ke bokap, kalau mau pergi."
"Pamit aja lewat Hp, ga usah ribet dan ga usah banyak alasan."
"Hem, memangnya kenapa, Lo ada acara lain?" Kenan penasaran.
"Iya, tapi lo jangan banyak tanya."
"Terserah, yang penting lo temenin gue dulu."
Siang ini, mereka berdua pun jalan-jalan dan mengunjungi banyak tempat, seperti Cafe dan beberapa taman yang menurut Ara nyaman untuk bersantai. Ya, dua tahun tidak pernah bertemu sepertinya tak menjadi masalah untuk Kenan, padahal seharusnya ia membenci Ara, tapi Kenan tidak bisa melakukan, senyum manis di wajah Ara meluluhkan benteng kemarahan dalam waktu sekejap saja.
* * *
Setelah selesai menemani kemanapun Kenan mau, Ara langsung pergi menuju Masjid yang mana pengajian sudah di mulai dari dua puluh menit yang lalu.
"Kamu dari mana saja, tumben terlambat?" tanya seorang wanita yang usianya sudah tak lagi muda, tapi berada di samping wanita ini membuat Ara merasakan ketenangan.
"Maaf Umi, tadi aku terjebak macet," Ara jelas berbohong.
Wanita yang di panggil Umi itu, hanya mengangguk-angguk paham, setelahnya membiarkan Ara mengikuti semua rangkaian pengajian.
__ADS_1
Dugdugdug
Degup jantung Ara tak beraturan, mendadak ia menjadi panas dingin dan tubuhnya gemetar. Ara bukan demam tapi sedang terpesona saat melihat siapa yang ceramah di depan semua orang saat ini
"Chio. Buset, nih mas-mas beneran jadi Pak Ustadz ya?" Ara bertanya pada diri sendiri.
Detak jantung Ara semakin tak beraturan, mana kala ia melihat, jika Chio sesekali menatap ke arahnya.
"Duh, ngapain harus liatin gue sih, kan jantung jadi ga aman," omel Ara dalam hati seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Semua rangkaian pengajian pun selesai, Ara membantu Umi dan para muda-mudi di Masjid tersebut menyimpan makanan ringan.
"Hem-hem, dari mana kamu tadi? Kenapa bisa telat?"
"Kepo." jawab Ara ketus tanpa tahu siapa yang kini berdiri di sampingnya.
"Ohh begitu, ya sudah, saya tidak akan bertanya-tanya lagi."
Ara yang langsung sadar jika yang bertanya adalah Chio, segera menggerakkan tubuh dan kini ia dan Chio berhadapan-hadapan.
"Hehe," tawa Ara jelas di buat-buat. "Ta-tadi saya kena macet, jadi telat deh, eeh maaf ya, karena tadi rada ketus."
Chio hanya mangut-mangut tanpa percaya sedikit pun, lagi pula kemanapun Ara pergi ia tak sedikit pun mau tahu, meski ada rasa ingin tahu pasti hanya sekitar dua puluh persen saja. Selebihnya ia bersikap bodo amat.
"Kamu mau ini ga?"
"Apa ini?"
"Air di campur teh di kasih gula terus di aduk."
"Ohh, ini namanya teh manis."
"Tuh tau, terus ngapain nanya." Ara mendengus sebal, semakin ia tampak sebal sepertinya Chio semakin suka melihatnya.
Keduanya berbincang-bincang apa saja, sebentar terlihat saling melempar tawa dan tersenyum penuh arti. Tanpa Ara dan Chio sadari jika saat ini banyak sekali pasang mata yang tengah memperhatikan mereka.
"Pantes ga sih, anak Pak Ustadz malah pacaran di halaman Masjid?" tanya gadis bernama Mila seraya menatap sinis ke arah Chio dan Ara.
"Udah deh, jangan provokasi! Semua orang juga sudah tahu, jika gadis bernama Ara itu memang akrab dengan Mas Chio. Lagi pula, yang mengajari Ara Sholat dan mengaji setiap hari memang Mas Chio." jelas gadis lain yang memiliki nama Tari.
Mila bukanya paham, ia justru semakin terlihat kesal bahkan kadar kebencian untuk gadis bernama Ara semakin tidak terbendung lagi. Sementara Chio dan Ara masih tampak semakin asik mengobrol berdua, bahkan sesekali Chio mengelus kepala Ara pelan. Tentu saja sikap itu semakin menimbulkan keresahan di hati para pengagum Chio secara diam-diam.
__ADS_1
TBC