Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 12 : Tiba-tiba di peluk


__ADS_3

Hidup memang tak semudah yang di bayangkan, karena tidak semua hal, yang kita harapkan menjadi kenyataan. Seperti halnya dengan apa yang di impikan Ara, selalu membayangkan memiliki keluarga yang utuh dan sempurna, tapi hasilnya hanya tetap menjadi impian.


Pada dasarnya, tidak ada pernikahan yang akan bertahan, jika isi di dalamnya syarat akan perbedaan. Setinggi apapun tembok sebuah cinta, jika keyakinan tidak sejalan semua akan menjadi sia-sia dan percuma.


Begitulah yang terjadi di dalam rumah tangga keluarga Ara. Dua puluh satu tahun bersama, tidak cukup untuk kedua orang tuanya saling memahami. Perbedaan keyakinan, tidak sejalan, beda visi misi dalam kehidupan, menjadi alasan, membawa rumah tangga Mama dan Papa di ujung perceraian.


Ini hari ke empat, Papa sudah tidak pulang ke rumah, pria yang selalu Ara sayangi itu memilih tinggal di rumah Oma dan Opa. Begitu halnya dengan Mama, wanita yang setiap kali tersenyum memberikan keteduhan itu pun, memilih keluar dari rumah dan menginap di rumah sahabatnya.


Kini, Ara pun kesepian, benar-benar tidak memiliki teman. Inilah salah satu hal yang selalu Ara takutkan sejak dulu, tapi apa daya, tidak ada yang bisa Ara lakukan, apapun yang terjadi, itu semua mutlak pilihan Mama dan Papa, yang bisa Ara lakukan hanya mencoba pura-pura, baik-baik saja kendati ia hancur luar biasa.


Ck


Sudah lebih dari lima belas hari lamanya, Ara tidak bertemu Kenan ataupun Chio. Bohong sekali jika ia tidak merindukan mereka, Ara pun memutuskan untuk menghubungi Kenan dan memastikan keadaan cowok itu, yang rupanya sudah bisa berjalan bahkan kuliah, kakinya sudah benar-benar sembuh.


"Lo, kemana aja sih, Ra? Di WA nggak di bales, di telepon juga nggak di angkat, gue khawatir tau." tanya Kenan melalui pesan WhatsApp, faktanya ia memang sangat merindukan Ara.


"Maaf Ken, ada sedikit masalah di keluarga gue, jadi kemarin memutuskan untuk menyendiri dulu."


"Masalah apa, Ra, Lo kalau butuh tempat curhat, gue selalu siap dua puluh empat jam."


"Makasih ya, Ken, nanti ada saatnya gue pasti cerita semua tentang masalah yang gue hadapi,"


"Oke, baik-baik ya, Ra."


Rentetan barisan pesan dari Ara, membuat Kenan bernapas lega, meski ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Meski begitu, setidaknya Ara sudah memberikan kabar dan itu sudah lebih dari cukup bagi Kenan.


* * *


Terlalu gundah dan putus asa, membuat Ara sedikit sulit mengambil keputusan dan berpikir dengan jernih. Sore ini, Ara memutuskan untuk datang ke Masjid dan menenangkan diri disana. Karena selama ini, itu menjadi salah satu cara, untuk membuat Ara sedikit bernapas lega.

__ADS_1


Bodohnya, Ara datang dengan pakaian yang sedikit tidak sopan, kaos pendek dan celana jeans pendek, anggaplah sangat ketat membalut tubuhnya, banyak mata memandang, tapi siapa perduli, toh bagi Ara mereka hanya bisa menatap sinis tanpa membantunya membereskan masalah.


"Maafkan saya ya Allah, jika hari ini pakaian saya tidak sopan." begitu Doanya setelah Ara melakukan Sholat Ashar.


Tanpa pikir panjang, dengan mata berkaca-kaca Ara pun keluar dari dalam Masjid, entah kenapa ia merasa tidak tenang bahkan risih karena tatapan beberapa santri ke arahnya.


Ketika Ara akan melangkah untuk meninggalkan halaman Masjid, ia tidak sengaja berpapasan dengan Chio, pria yang selalu bisa membuat Ara nyaman dan tenang hanya berada di dekatnya saja.


"Ara,"


Raut wajah kusut, bibir pucat, mata memerah sudah cukup menjelaskan dan membuat Chio paham, jika gadis ini sedang memiliki banyak sekali masalah.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, tanpa aba-aba dan spontan saja, Ara segera berlari mendekat ke arah Chio dan tanpa pikir panjang, ia langsung memeluk tubuh pria ini, dengan erat, sangat erat dan benar-benar erat, ia seolah tidak akan pernah melepaskan Chio sama sekali.


"Ra, kamu kenapa?"


Semakin Chio bertanya, semakin erat pula Ara memeluk tubuh pria ini, yang akhirnya mau tidak mau, dengan sedikit ragu-ragu, Chio mengusap pelan pundak Ara, ia melakukan ini, agar Ara merasa lebih tenang.


"Kenapa?"


"Lihatlah, berapa banyak pasang mata yang melihatmu memeluk tubuh saya secara tiba-tiba!"


"Biarin," jawab Ara singkat.


Dengan tersenyum dan sangat hati-hati, Chio pun melepaskan pelukan Ara yang sangat erat dan hangat.


"Kamu boleh peluk saya, tapi jangan disini, ayo pergi!" Chio berbisik pelan spontan membuat Ara melepaskan dekapan, gadis itu mengangguk setuju dan membiarkan Chio membawanya pergi menjauh dari halaman Masjid.


Chio dan Ara pelan-pelan melangkah dan menjauh dari keramaian. Sorotan tajam dari banyak pasang mata tadi, cukup menjelaskan jika sore ini keduanya akan menjadi topik hangat yang di bicarakan para santri. Tanpa Chio sadari, jika tadi sang Ayah pun melihatnya berpelukan dengan Ara dari lantai dua rumah mereka.

__ADS_1


"Sekarang, kita hanya berdua saja, menangislah sampai kamu merasa lebih lega! Saya tidak akan memaksa kamu untuk menceritakan apapun masalah yang sedang kamu hadapi."


Ara menggeleng cepat dan segera menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Maafkan saya, sore ini pasti banyak yang menceritakan hal buruk tentang anda."


"Tenang saja, saya pasti bisa mengatasi mereka dan saya yakin mereka juga paham, jika kamu sedang tidak baik-baik." Chio meyakinkan padahal dalam hati kecilnya ada sedikit ke khawatiran.


Sore ini, sebisa mungkin Chio menghibur Ara, meyakinkan jika dunia akan baik-baik saja, memberi semangat, jika apapun masalahnya pasti bisa di hadapi. Setidaknya Ara pulang ke rumah dengan membawa perasaan yang lebih lega, Chio benar-benar dewasa menurutnya.


* * *


Sama dengan Ara yang kini sudah berada di jalan untuk pulang ke rumah. Chio sendiri justru sudah masuk kedalam rumahnya dan di sambut tatapan tajam dari Umi dan Ayah.


"A-ayah," Chio mendadak gugup, tanpa perlu di perjelas, dari sorot mata saja, Chio bisa melihat jika Ayah sedang marah kepadanya.


PLAAK


Satu tamparan keras, mendarat tepat di pipi putih Chio bahkan lima jari Ayah membekas disana. Seumur hidup Chio, ini kali kedua Ayah menamparnya, ia sadar hal apa yang membuat sang Ayah begitu marah.


"Tidak tahu malu, bisa-bisanya berpelukan dengan seorang gadis, di halaman Masjid." nada bicara Ayah sangat menggelegar. Sementara Umi berusaha menenangkan suaminya.


"Maaf Yah, apa yang terjadi sore tadi sungguh sangat tiba-tiba. Saya tidak sengaja melakukannya."


"Tidak sengaja katamu, haah? Sekarang kamu sudah belajar jadi pembohong rupanya."


"Yah, Ara sedang banyak masalah, saya tidak tega melepaskan pelukannya tadi, dia benar-benar butuh saya."


Mendengar penuturan Chio, membuat kemarahan Arah kian membuncah, tapi pria tua itu memilih pergi dari hadapan anaknya tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.


Chio sendiri masih membeku di tempatnya berdiri seraya menyentuh pipinya yang terasa nyeri, karena tamparan Ayah tadi. Perasaan Chio kini, sungguh sulit untuk di jelaskan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2