Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 10 : Tamu tak Terduga


__ADS_3

Akhir-akhir ini, Ara memang sering kali di marahi, entah apa yang terjadi antara Mama dan Papa yang pasti semua akhirnya menyerang mental Ara.


"Pagi ini ikut, Papa Ibadah!" seru Papa dengan nada tinggi.


"Ara ikut Mama pengajian ya, seumur-umur kamu selalu bisa temenin, Papa, tapi nggak bisa temenin Mama."


Sejujurnya, ini kali pertama kedua orang tua Ara benar-benar berdebat dan memaksa Ara harus ikut salah satu di antara mereka. Karena jika pun Papa memaksa Ara, untuk ikut Ibadah di setiap hari Minggu, biasanya tidak akan memaksa di hadapan Mama. Berbeda dengan Mama, selama ini memang tidak pernah memaksa Ara untuk mengikuti keinginannya. Tapi entah kenapa, kali ini Mama tampak berbeda.


"Aku nggak ikut salah satu di antara Mama dan Papa, Ara mau tidur." tolak Ara tegas, ia langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar lalu membanting daun pintu sekuat tenaga, sontak membuat Mama dan Papa sama-sama terkejut.


"Ini salah kamu, akhirnya Ara keras kepala dan susah di atur!" Papa bersuara seolah ia tidak pernah bersalah.


"Terus saja salahkan saya, sepertinya kamu butuh Dokter untuk periksa kewarasan dan tanya ke Dokter, apa kamu masih layak di sebut, Papa oleh Ara."


Mendengar kata demi kata yang di lontarkan Mama, spontan membuat Papa semakin marah, pria paruh baya itu, memilih bergegas pergi dan meninggalkan rumah. Sementara Mama bersikap seakan tidak perduli sama sekali.


* * *


Sama halnya dengan kegundahan Chio di rumahnya, ia tengah bingung setengah mampus sebab sudah hampir seminggu, Ara tak datang ke Masjid bahkan tak pernah ikut belajar mengaji lagi. Gadis itu pun tidak menghubunginya sama sekali, tentu saja hal ini membuat Chio resah dan bertanya-tanya.


Selama Chio mengenal Ara, hampir tujuh bulan lebih lamanya, ia memang tidak pernah sekalipun menghubungi gadis itu terlebih dahulu, Chio terlalu nyaman karena selalu Ara yang datang untuk menemuinya, kini ia pun menjadi bingung sendiri.


"Telepon nggak ya, WA nggak ya?" berkali-kali pertanyaan ini keluar dari bibir Chio yang kebingungan.


Seraya menatap langit-langit kamar, Chio berusaha untuk mencari solusi.


"Kamu kemana sih, Ra, sakit atau kenapa? Harusnya kamu kasih kabar saya." ujarnya lagi.


Pada dasarnya, ini tak sepenuhnya salah Ara, tapi Chio sendirilah yang tidak memiliki pendirian, ia boleh tampak tegas saat berceramah dan mengajar para santri, tapi untuk urusan hati, Chio tidak memiliki ilmu sama sekali.


"Apa, saya ke rumahnya saja?"


Benar, pada akhirnya Chio pun memutuskan untuk mendatangi rumah Ara, meski ia akan menanggung malu setengah mati, tapi siapa yang perduli, ia harus memastikan keadaan gadis yang namanya sudah ia simpan di dalam hati.

__ADS_1


* * *


Ara sendiri akhir-akhir ini memang sangat sibuk, selain fokus kuliah, ia juga setiap hari harus datang menjenguk Kenan, entah kenapa Ara merasa berkewajiban memberi cowok itu, perhatian, terlebih Kenan memang sedang dalam masa pemulihan. Bukan itu saja, masalah kedua orang tuanya juga, membuat Ara belum siap untuk ke Masjid lagi seperti biasa, ia juga tidak ke Gereja seperti hari Minggu yang selama ini Ara lewati.


"Ken, siang ini gue nggak ke rumah lo ya," Ara mengirim pesan WhatsApp.


("Iya, Ra, nggak apa-apa, lagi pula gue tetap makasih karena Lo udah mau repot-repot, rawat gue.") jawab Kenan lima menit kemudian.


Ara tersenyum tipis ada perasaan lega dan juga bersalah, ia yakin Kenan saat ini pasti kecewa padanya, padahal itu semua hanya pikiran Ara saja. Faktanya di seberang sana, Kenan lebih memahami Ara lebih dari Ara memahami dirinya sendiri.


"Hem."


Dengan rasa malas yang amat luar biasa, Ara kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidur, ia bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada keluarganya kini. Mungkinkah Mama dan Papa akan bercerai, seperti yang di takutkan Ara selama ini?


"Aaaaah, menyebalkan, kenapa aku harus lahir di keluarga yang sangat-sangat berantakan dan membingungkan?" pertanyaan ini memang sering terlintas di pikiran Ara, sejak ia duduk di bangku SMA.


Ketika Ara sedang berkutat dengan rasa bingungnya, ia di kejutkan oleh suara sang Mama yang memanggil-manggil namanya seraya mengetuk pintu berkali-kali.


Tak lama kemudian, gadis itu keluar dari kamar dengan rambut kusut dan baju tidur ala kadarnya.


"Ada apa, Mah?"


"Di luar ada tamu, ada orang cari kamu." Mama memberi tahu.


"Siapa?"


"Nggak tau, Mama nggak kenal tuh," jawab Mama jujur.


Tanpa pikir panjang lagi, Ara bergegas pergi dan berlari keluar untuk memastikan siapa yang datang. Dan, betapa terkejutnya Ara, melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan tidak biasa.


"Chi-Chio." spontan Ara mendadak gugup.


Hampir saja Ara akan berlari masuk lagi ke dalam rumah, tapi dengan sigap Chio menarik tangan gadis itu dan meminta Ara tetap bersamanya di teras rumah.

__ADS_1


"Kok, anda ke rumah saya?" bingung benar-benar bingung, pertanyaan macam apa yang pantas Ara tanyakan kepada pria di hadapannya ini. Terlebih Ara sadar, kondisi baju yang membalut tubuhnya tidak pantas sama sekali.


"Saya datang kesini untuk memastikan, jika kamu baik-baik saja, karena sudah satu Minggu tidak tampak, saya takut kamu sakit." ujar Chio jujur tanpa basa-basi.


"Sa-saya baik-baik saja. Maaf sudah membuat anda khawatir, satu Minggu ini, saya sangat sibuk baik di rumah ataupun kuliah, jadi saya belum sempat untuk datang ke Masjid juga belajar mengaji." Ara memberi tahu, meski ia tidak jujur seratus persen.


"Baiklah, jika begitu, saya pamit dulu."


Ara terpaku tak menjawab, ia sungguh tidak habis pikir, jika Chio datang jauh-jauh hanya untuk bertanya kabar saja. Entah apa yang Ara harapkan.


"Dari rumah anda, ke rumah saya, jaraknya cukup jauh dan anda datang kesini hanya untuk menanyakan kabar. Apa tidak sebaiknya, anda tanya melalui WhatsApp saja?" tidak tahu, kenapa Ara mendadak marah-marah.


"Haaah?" kini Chio yang mendadak termangu.


"Haaah, heeeh, hoooh. Saya bertanya, masa di jawab 'haaaah' doang sih."


"Kamu nggak salah minum obat kan? Sejak kapan, jarak antara rumah kamu dan rumah saya menjadi jauh, kita tinggal di satu kompleks perumahan, Ara," Chio mengingatkan, yang langsung membuat Ara menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, ia malu benar-benar malu.


"Maaf, saya lupa!"


"Memangnya, apa yang kamu harapkan dari saya?"


"Em, itu haah..... apa ya," ingin sekali rasanya, Ara menjadi angin lalu dalam sekejap bisa menghilang dari hadapan Chio. Rasa malunya tidak bisa di ungkap oleh kata-kata.


Jika saja Chio tahu, Ara ingin lebih lama mengobrol berdua saja, karena momen Chio berkunjung ke rumahnya, adalah hal yang sangat langka. Padahal Chio bukan tidak peka, pria itu tahu apa yang di maksud Ara.


"Jika ingin saya bertamu lebih lama. Besok-besok gunakan baju yang lebih tipis dari ini ya!" Chio tersenyum lalu setelah itu segera melangkah pergi dari hadapan Ara.


Ara sendiri masih membeku, ia baru paham, jika kondisi baju kurang bahan inilah yang membuat Chio tidak tahan lama-lama berduaan dengannya.


"Haaas, sial, dasar baju bikin kesal." omel Ara yang mengutuki kecerobohannya sendiri. Besok-besok ia akan menggunakan baju yang lebih sopan, sebelum membuka pintu rumahnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2