Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 8 : Mendadak di Perhatikan


__ADS_3

Ara baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, terdengar suara samar-samar dari luar jika sang Papa sedang marah-marah karena hari ini, Ara pulang hampir larut malam.


"Apa yang kamu ajarkan pada anakmu, kenapa dia tidak bisa menghargai waktu?"


"Heh, kamu menyalahkan saya. Kamu sendiri kemana, pernah memiliki waktu tidak meski hanya sebentar untuk menasehatinya, yang bisa kamu lakukan, hanya marah-marah dan menyalahkan." Mama jelas tidak mau mengalah.


"Ara, itu anak perempuan jadi dia tanggung jawabmu, kamu yang seharusnya mengajari dia sopan santun."


Begitulah kira-kira, pertengkaran yang seringkali terjadi, karena hal seperti ini sudah biasa, maka Ara tidak perduli sama sekali jika kedua orang tuanya akan bertengkar sedemikian hebat hanya untuk saling mencari pembenaran diri sendiri, padahal jujur saja, sikap Mama dan Papa membuat Ara muak bahkan sangat muak.


Ck


Lima belas menit berlalu, Ara belum juga mau memejamkan mata, ia masih memandangi langit-langit kamar tapi pikirannya melayang entah kemana. Saat Ara masih sibuk merenung, ia di kejutkan dengan ponselnya yang mendadak bergetar.


"Kenan."


Ara mengerutkan wajah, setelah mendapati nama orang yang menghubunginya tengah malam seperti ini.


"Hallo, Ra."


Suara itu terdengar panik bahkan sedetik kemudian terdengar suara rintihan, jika Kenan sedang menahan rasa sakit.


"Ken, Lo kenapa? Baik-baik aja, kan?"


"Kalau, gue baik-baik aja, ga mungkin gue telepon Lo, tengah malam begini." jawab Kenan terdengar emosi.


"Ya maaf." ucap Ara tulus "Terus, apa ada yang bisa gue bantu?" tambahnya lagi.


"Gue jatuh dari kamar mandi, gue nginep di hotel malem ini, tolongin gue, Ra, ntar gue kirim alamatnya."


Semenit kemudian setelah Kenan mengirimkan, alamat dimana cowok itu menginap, Ara segera bergegas pergi. Awalnya, Ara mendapat omelan dari sang Papa, karena keluar rumah tengah malam buta, tapi Ara tak perduli pikirannya kini hanya tertuju kepada Kenan yang sedang membutuhkan pertolongan.


* * *

__ADS_1


Hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk Ara sampai di hotel tempat Kenan menginap, Ara bergegas pergi dan berlari masuk ke dalam kamar. Benar saja, Kenan sedang merintih kesakitan di balik pintu kamar mandi.


"Awas, Ken, jangan duduk di depan pintu, sebentar lagi mau aku dobrak."


"Jangan sok kuat deh, mending Lo panggil satpam aja!"


"Kalau gitu, kenapa ga dari tadi, Lo manggil satpam aja, kenapa harus telepon gue?"


"Ya elah, orang panik, Ra, mana inget mau manggil siapa. Gue cuma inget Lo, jadi ya wajar dong gue langsung telepon Lo tadi."


Ara yakin, jika perdebatan ini akan berlanjut jika saja ia tidak mengalah, hasilnya Ara memilih berlari keluar dan meminta bantuan Satpam untuk mendobrak pintu.


Setelah pintu terbuka, Ara.memdapati kaki Kenan yang bersimbah darah, sepertinya luka yang menggores kulit cukup besar.


"Tuan, apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya seorang pria paruh baya bernama Oki, menurut penuturan Kenan beliau adalah sopir pribadinya.


"Tidak perlu, Pak, cukup di perban disini saja,


Pak Oki mengangguk patuh, sementara Ara mendengus kesal, entah kenapa ia merasa jika Kenan bodohnya luar biasa, disaat darurat seperti ini, cowok itu justru tampak biasa-biasa saja, padahal luka di kakinya masih saja mengeluarkan darah. Ara pun turun tangan, di bantu petugas Hotel, ia membersikan luka di kaki Kenan lalu memberinya obat agar tidak terlalu nyeri.


"Nggak lagi, makasih ya, udah ngerepotin Lo malam-malam begini,"


"Stress," gadis ini malah membalas ucapan Kenan dengan umpatan. "Sekarang udah jam tiga pagi, gue pulang dulu, takut bokap gue bakar rumah gara-gara marah, besok siang gue jenguk Lo kesini lagi."


Kenan mengangguk, ada binar haru dari sorot matanya, ia senang luar biasa melihat sikap Ara yang masih sama seperti dulu, ketus tapi perhatian, terlihat seperti tidak perduli tapi masih tetap mau menolong."


"Hati-hati, Ra."


"Oke, bye, selamat malam, harus istirahat!"


Setelah berucap demikian, Ara bergegas melangkah keluar dan kini ia sudah berada di dalam mobil, tapi sebelum ia benar-benar pergi, Ara di kejutkan dengan kehadiran Chio yang melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam Hotel.


"Ngapain, Chio ke Hotel jam tiga pagi begini?" jelas saja Ara penasaran. "Aah, terserah, apapun yang di lakukan Chio, bukan urusan gue," ujarnya dalam hati meski hati kecilnya tetap saja penasaran, Ara memilih benar-benar pergi dengan membawa banyak tanya dalam benaknya.

__ADS_1


* * *


Yang terlihat oleh Ara tadi memanglah Chio, pria itu benar-benar panik setelah mendapat kabar dari Pak Oki, jika Kenan jatuh dari kamar mandi, ia refleks memastikan seperti apa keadaan sang Adik.


"Bang, kok Lo disini?" Kenan benar-benar terkejut lantaran ini pertama kalinya, Chio datang tiba-tiba.


"Lagian, punya rumah, kenapa harus menginap di Hotel sih?" pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Chio. Spontan membuat Kenan sangat bahagia, jelas saja sebab dari raut wajahnya Chio sepertinya sangat panik setelah melihat keadaan sang Adik.


"Rencananya gue mau healing, Bang, mana tau bakal jatuh. Emm, Bang, Lo ga kesambet setan kan, mendadak banget jenguk gue?"


"Sialan." Chio menoyor pelan kepala Kenan setelah sedetik kemudian memastikan keadaan kaki Adiknya. "Ini harus ke rumah sakit, takut infeksi."


"Ga usah, Bang, makasih, lagian tadi udah di obatin, besok pasti sembuh." semudah itu Kenan berbicara, spontan membuat Chio melotot tajam ke arahnya.


"Besok, jika ada apa-apa, telepon saya saja!" Chio memerintah.


"Yakin boleh, gue takut Lo marah,"


"Dalam keadaaan darurat, saya pasti akan datang, tapi jika sampai kamu bohong hanya ingin mendapatkan perhatian saya. Sampai mati, saya tidak akan menemui kamu lagi."


"Sadis amat sih Lo, Bang, iya deh gue janji, nggak bakal bohong ke Lo."


"Bagus. Sekarang ayo berbaring dan kamu harus istirahat, saya akan jaga kamu sampai besok pagi."


Kenan tersenyum haru, entah kebaikan apa yang sudah ia perbuat sebelumnya, sehingga malam ini, ia mendapatkan kejutan yang sungguh tidak di duga-duga. Tadi Ara yang rela datang merawatnya di tengah malam buta dan kini mendadak Chio jadi perhatian kepadanya.


"Bang, makasih," ucap Kenan pelan setelah itu menyembunyikan kepala ke dalam selimut. Sedangkan Chio hanya membalas dengan senyuman.


Jika memang karena Kenan terkena musibah sehingga meluluhkan hati Chio untuk mau menerimanya sebagai saudara, Kenan bersumpah, ia rela terluka setiap hari agar mendapatkan perhatian dari sang Abang seperti malam ini.


Chio sendiri pelan-pelan membuka selimut yang menutupi wajah Adiknya setelah memastikan Kenan benar-benar sudah tertidur.


"Selama ini, saya hanya munafik bukan benar-benar tidak perduli, semua perjuanganmu untuk meyakinkan jika kita adalah saudara sedarah sudah sejak lama membuat saya terharu dan membuat hati saya luluh. Jangan sakit ya, kamu harus baik-baik saja!" ucap Chio lirih dan sangat pelan sehingga ucapan itu hanya ia sendiri yang mendengarnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2