
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi sayup-sayup Kenan mendengar jika Chio sedang asik mengobrol dengan seseorang. Rupanya sang Abang menghubungi gadis yang di sukai karena katanya gadis tersebut tidak bisa tidur dikarenakan sedang banyak masalah.
"Siapa?" tanya Ara melalui sambungan telepon.
"Adik saya," jawab Chio santai.
"Oh, salam ya buat Adiknya."
"Oke, nanti saya salam, kan. Sekarang waktunya kamu istirahat!"
Setelah hampir satu jam saling berbicara, Chio memutuskan sambungan teleponnya, sementara Kenan sejak tadi sudah berdiri di pintu kamar seraya memandang sang Abang dengan tatapan mematikan.
"Dih, udah malam woy, waktunya tidur, masih aja teleponan."
"Bilang aja, iri.' cemooh Chio dengan sedikit tertawa.
"Ngapain, iri sama Lo, gue juga punya cewek meskipun belum resmi jadian."
"Sebagai sesama cowok yang belum resmi jadian, seharusnya jangan saling mengejek. Oh iya, tadi ada salam dari Bidadarinya Abang buat kamu."
"Ya elah, Bidadari," sungguh Kenan ingin sekali tertawa karena tak menyangka jika manusia yang selama ini ia anggap datar-datar saja rupanya bisa bercanda juga. "Ya udah, salam balik buat calon Kakak Ipar gue, bilang sama dia, jangan sampai mengkhianati Lo, kalau sampai itu terjadi, dia bakal mati di tangan gue."
"Ya ampun, Adik saya rupanya sangat mengerikan ya."
Semakin hari, Kenan dan Chio memang saling melengkapi, perlahan keduanya benar-benar akrab. Hanya saja, Abang dan Adik ini sama-sama belum terbuka prihal wanita yang mereka cintai, karena hal ini menyangkut urusan yang sangat pribadi, mereka akan saling mengenalkan suatu hari nanti, disaat dan waktu yang tepat.
** ** **
Hari Persidangan untuk memutuskan jika kedua orang tua Ara resmi bercerai pun tiba. Tangis tak bisa gadis itu sembunyikan, rasanya sangat di sayangkan, usia pernikahan yang hampir dua puluh tahun lamanya, akhirnya kandas juga. Salah satu faktor yang membuat Mama dan Papa tidak bisa terus bersama-sama, karena mereka tidak Se-Iman, pada akhirnya Agama adalah mutlak harus sejalan dan satu tujuan untuk membina rumah tangga yang lebih sehat dan harmonis, terkadang yang seiman pun masih bisa bercerai karena faktor-faktor lainnya.
Karena sibuk mengurus Perusahaan dan sore harus mengajar di Pesantren, Chio hanya bisa memberi dukungan melalui sambungan telepon saja. Sementara Kenan, benar-benar setia berada di samping Ara, memberi gadis itu kekuatan dan keyakinan jika semua akan baik-baik saja.
"Hari ini, gue bakal turutin semua keinginan, Lo, asal jangan sedih lagi."
"Tapi gue, nggak niat mau ngapain-ngapain, Ken, gue pengen istirahat dan tidur yang lama, siapa tahu setelah bangun hati gue lebih lega."
Kenan hanya bisa menghela napas panjang dan mengiyakan permintaan Ara, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan pada gadis ini, jika masalah yang Ara hadapi belum sebanding dengan rasa sakit saat Kenan kehilangan kedua orang tuanya dan mereka dipisahkan oleh dunia, tapi ia sadar jika hidup bukan perihal membandingkan, sebab semua masalah tergantung bagaimana setiap orang menyikapinya.
__ADS_1
"Oke, gue pulang, Lo istirahat ya, kalau ada apa-apa, jangan lupa telepon gue!"
Ara mengangguk setelahnya ia langsung masuk kedalam rumah, sementara Kenan memilih untuk berkunjung ke rumah Abangnya.
"Kamu ada masalah, Ken? Kok, mukanya dari tadi murung sih?" tanya Umi lembut saat Kenan sudah duduk di kursi panjang lalu merebahkan tubuh.
"Iya Bu," jawab Kenan singkat.
"Ya sudah, makan dulu sana, pasti kamu belum makan kan?"
"Aku nunggu Abang pulang dulu, Bu, setelah itu baru makan bersama."
Umi tersenyum simpul, sungguh Kenan memang jauh dari ekspektasinya selama ini, ia menganggap jika anak ini pasti tidak memiliki sopan santun, tapi setelah semakin akrab dan Kenan semakin sering main ke rumah, Umi perlahan menyukai dan menganggap Kenan sebagai anaknya sendiri. Begitu juga Ayah, justru sejak dulu, dialah yang selalu menyakinkan Umi, jika Kenan adalah anak baik-baik, meski ucapan dan perkataannya sering terdengar sangat kasar.
Hampir jam depan malam, Chio baru saja tiba di rumah, ia sedikit kaget melihat Kenan sedang berbaring di kamarnya.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Chio seraya menatap heran wajah Adiknya.
"Dari jam lima sore tadi, lagian, Lo lama amat pulangnya."
"Iya, selain di kantor banyak yang harus saya selesaikan, tadi saya juga harus mengunjungi seseorang, karena hari ini terjadi perubahan besar dalam hidupnya."
Chio mengangguk cepat, setelah itu ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
"Kamu sudah makan belum?" tanya Chio lagi setelah keluar dari kamar mandi.
"Belum, gue sengaja nunggu, Lo."
"Ya sudah, kamu makan dulu sana, nanti Abang menyusul."
"Nggak mau, gue maunya makan sama-sama."
"Oke, kalau begitu, saya Sholat Isya dulu."
Mendengar ucapan Abangnya, Kenan langsung membisu, ia kembali naik ke atas tempat tidur seraya memandangi Chio yang sedang melakukan kewajiban. Dari sini, Kenan mulai sadar, jika ada tembok perbedaan yang sangat tinggi antara ia dan sang Abang, ya itu perbedaan keyakinan.
Setelah Chio selesai Sholat, Kenan langsung menjabat tangan Abangnya, karena itu yang di lakukan Bi Lila setiap kali selesai Sholat dan di Imami oleh Pak Budi.
__ADS_1
Sejenak, baik Chio ataupun Kenan sama-sama saling diam dan saling memandang sementara tangan keduanya masih saling berjabat.
"Saya baru sadar, jika kita memiliki perbedaan."
"I-iya."
Entah kenapa, Kenan mendadak gemetaran, tubuhnya panas dingin, bahkan ia melihat Abangnya bak malaikat, karena menggunakan baju dan sarung berwarna putih, bahkan wajahnya yang tampan semakin terlihat tampan.
"Apapun perbedaan kita, Lo dan gue masih saudara kan, Bang?"
"Tentu, apapun keyakinan kamu, kita tetap saudara sedarah dan kamu tetap Adik saya."
Kenan benar-benar terharu, ia tidak menyangka jika hubungannya dengan Chio bisa sedekat ini, bahkan mereka saling menghargai perbedaan satu sama lain.
"Saya memesan banyak makanan untuk hari Minggu." ucap Chio lagi.
"Buat apa, Bang? Lo, mau ada acara?"
Chio menggeleng cepat, ia kini justru memindahkan tubuh untuk duduk tepat di samping Kenan.
"Saya dan Almarhum Papa, memiliki perbedaan keyakinan, jadi saya tidak pernah pernah mendoakan beliau sama sekali." Chio diam sejenak.
"Lalu?"
"Kata orang, kalau beda agama Doa yang kita panjatkan tidak akan sampai, tapi saya juga belum yakin, karena semua urusan yang di atas, perihal menerima atau tidak."
Kenan mulai tertunduk semakin dalam.
"Jadi, saya mau menyiapkan banyak nasi kotak gratis di Gereja tempat kamu biasa beribadah, dan saya minta kepada semua orang yang datang disana untuk mendoakan, Papah."
Rasanya Kenan ingin sekali menangis mendengar ucapan Chio baru saja, ia tidak menyangka jika Abangnya memiliki pemikiran yang sangat dewasa.
"Iya, nanti gue yang urusi semuanya di Gereja, dan makasih Bang, Lo punya niat yang sangat baik untuk mendoakan, Papa."
"Bagaimana pun, dia tetap orang tua saya."
Pengakuan sederhana yang membuat Kenan tidak bisa menahan air mata, ia tidak perduli jika akan di anggap lemah karena mudah menangis tapi yang jelas saat ini, Kenan memang sedang ingin menangis di hadapan Abangnya.
__ADS_1
TBC