Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 14 : Ulang Tahun


__ADS_3

Orang bilang, kasih sayang kedua orang tua tidak ada batasnya, lantas bagaimana dengan Ara, setelah Mama dan Papa tidak lagi tinggal bersama, kasih sayang mereka pun tak lagi seperti dulu. Ara di abaikan, tidak di pedulikan bahkan jika ia tidak kuliah berhari-hari. Papa tidak marah seperti dulu, Mama tidak mengomel sesukanya, ia benar-benar kesepian, seakan hidup tanpa harapan.


Tok tok tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar, tak lama kemudian terdengar suara Bi Mina memanggil nama Ara.


"Mbak Ara, di luar ada tamu, katanya mau ketemu."


"Siapa, Bi?"


"Bibi nggak kenal, cowok cakep pokoknya."


Dalam pikiran Ara, yang datang dan berkunjung kerumahnya adalah Chio, tapi ekspektasinya salah, justru Kenan yang kini sedang berdiri gagah di depan pintu rumah.


"Nggak di izinin masuk?"


"Hehe, iya, maaf. Silahkan masuk, Ken!" gadis itu tersenyum simpul. "Btw, ada apa nih, malam-malam berkunjung ke rumah?"


Kenan tidak menjawab, ia justru memandang ke seluruh sudut ruangan dengan binar bola mata yang membulat sempurna. Rumah ini terasa sangat sunyi seolah tidak ada kehidupan.


"Orang tua Lo, belum pulang kerja selarut malam ini?"


"Kenapa Lo, tanya begitu?"


"Soalnya, rumah Lo sepi, kayak rumah hantu, gue mendadak ngeri." Kenan berujar jujur sebab rumah Ara memang terasa sangat sunyi.


"Mamah dan Papah udah satu bulan lebih pisah rumah, bahkan mungkin mereka sebentar lagi akan bercerai." mau tidak mau, Ara pun lebih memilih untuk jujur.


Kenan membisu, lidahnya mendadak kelu, ia bingung, ucapan seperti apa yang bisa menguatkan Ara, dari raut wajah saja, Kenan sudah paham, jika Ara sedang berenang dalam lautan kesedihan.


"Udah deh, jangan sedih! Nih, ada kado buat, Lo."


"Waaah, makasih, Ken,"


"Selamat Ulang Tahun, Ra."


"Haah?" Ara terpaku, ia menatap Kenan tak percaya. "Lo, kesini karena gue ulang tahun, ya?"


"Iya, gue nggak akan pernah lupa, hari sepesial dalam hidup, Lo."


"Makasih, Ken."

__ADS_1


Kenan membalas ucapan Ara dengan senyum yang sangat tulus. Setelahnya, Kenan memilih berpamitan pulang, karena hari sudah sangat larut malam.


"Jangan sedih, kalau ada apa-apa, segera hubungi gue!" sekali lagi Kenan berucap sebelum ia benar-benar pergi dan menjauhi keberadaan Ara.


"Terimakasih, Ken." Ara membalas dalam hati.


Sungguh, Ara tidak menyangka jika Kenan masih mengingat hari Ulang Tahunnya, dan Kenan menjadi orang pertama yang memberi Ara ucapan.


* * *


Keesokkan paginya, dengan bermalas-malasan tapi Ara tetap berusaha untuk masuk kuliah, wajah kusut tanpa rias make up sedikit pun, membuat Ara masih tetap terlihat cantik.


"Ada apaan sih, kok di halaman kampus rame banget?"


"Biasalah, Ra, gadis-gadis alay lagi berkumpul dan minta foto sama orang." jelas salah satu anak kampus bernama Amel.


"Memangnya siapa yang datang, Mel, artis ya?"


Amel menggeleng cepat. "Bukan, Ra, tapi yang jelas, nih cowok cakep banget."


"Masa sih, secakep apa? Liat yok!"


Kini Ara pun justru ikut penasaran, ia mengajak Amel untuk memastikan. Siapa yang datang dan membuat heboh di kampus mereka.


"Aaaaa, ya ampun, bahkan lagi ngomong aja cakepnya makin bertambah. Gini nih, kalau manusia blasteran Surga." gadis-gadis alay itu memang sangat suka melebih-lebihkan, terutama jika ada cowok tampan nan rupawan, mereka pasti akan bergerumbul seperti semut yang siap memangsa gula.


"Chio, ngapain datang ke kampus saya?" tanya Ara penasaran, ia langsung menarik tangan pria itu agar menjauh dari para mahasiswi yang menghintarinya.


Chio melebarkan senyum di wajah, ia merasa lega kerena bisa keluar dan menjauh dari gadis-gadis tadi.


"Besok-besok kalau mau kesini, bawa Paspampres, biar di jaga ketat." Ara berkacak pinggang, matanya menatap nanar ke arah Chio.


"Hahahaha." tawa Chio jelas di buat-buat. "Kamu, kira saya anak Presiden."


"Saya tidak suka, kalau anda di dekati gadis manapun. Lagian, ngapain sih dateng ke kampus saya, haaaah?" suara Ara kian meninggi, semakin Ara marah semakin Chio menikmatinya.


Saat Ara mengomel dan marah-marah, gadis ini justru terlihat semakin menggemaskan di mata Chio.


"Nih,"


"Apaan?" Ara menatap nanar ke arah sebuah kotak yang Choi berikan padanya.

__ADS_1


"Alasan saya datang ke kampus kamu, karena mau kasih kamu hadiah, saya tahu kemarin kamu Ulang Tahun. Maaf saya telat memberi ucapan!"


Melihat binar mata tulus dari tatapan Chio membuat Ara mendadak terharu. Dulu, hanya Kenan saja yang bisa membuat dadanya berdebar-debar tidak biasa. Tapi sekarang, ada seorang pria yang semakin membuat Ara lebih dari kata berdebar. Setiap kali, Chio ada di dekatnya, Ara merasakan kenyamanan dan merasa di lindungi, pria ini memang sedikit menyebalkan, tapi ia selalu jadi yang terdepan membuat Ara tersenyum lebar.


Chio sendiri, sebenarnya sudah tahu jika Ara sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, meskipun Ara tidak menceritakan perihal masalah yang terjadi di keluarganya, tapi Chio selalu punya cara untuk mencari tahu penyebab Ara sering murung dan melamun, bahkan akhir-akhir ini, Ara jarang sekali datang ke Masjid ataupun belajar mengaji..


"Ra, kalau ada Apa-apa, kamu harus kasih tahu saya!"


"Kenapa? Apa anda bisa menyelesaikan masalah yang saya hadapi?"


"Ya, nggak juga sih," ujar Chio jujur.


"Saya rasa, tanpa harus saya beritahu, anda pasti sudah mencari tahu sendiri tentang saya." Ara benar-benar percaya diri.


Alhasil, ucapannya baru saja spontan membuat Chio tertawa sejadi-jadinya. Entahlah, Chio selalu merasa terhibur jika Ara sudah mengeluarkan jurus percaya diri.


"Dih, malah ketawa."


"Kalau saya memang menyukai kamu, lantas apa kamu akan belajar menyukai saya?" bukan menjawab, Chio justru mengeluarkan pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan oleh Ara sama sekali.


"A-apa, anda sedang menyatakan cinta kepada saya? Apa baru saja, anda mengajak saya berpacaran?" gugup, Ara benar-benar gugup, tapi ia masih memberanikan diri untuk bertanya.


"Lupakan, saya hanya bercanda."


Setelahnya Chio berpamitan untuk pergi dengan membiarkan banyak tanya memenuhi benak Ara. Gadis itu masih membisu dan mematung di tempatnya. Bagaimana bisa, Chio menggantung perasaannya.


"Dasar sialan..... dia yang nanya, dia juga yang pergi sebelum gue jawab," omel Ara kesal.


"Tapi, Ra, gue yakin, tuh Mas Mas, memang suka deh sama, Lo." Amel meyakinkan.


"Bodo amat," Ara pun bergegas pergi meninggalkan Amel sendiri.


"Lo, mau kemana, Ra?"


"Loncat dari gedung, gue capek idup."


Ara langsung lenyap dari hadapan Amel, sedangkan Amel menanggapi serius ucapan Ara baru saja. Dengan tergesa-gesa, ia pun berlari mengejar Chio dan memberitahukan, jika Ara akan loncat dari gedung.


"Haah, jangan bercanda kamu."


"Saya nggak becanda, Mas, buruan tenangin Ara dan jangan sampai dia loncat dari gedung."

__ADS_1


Bodohnya Chio langsung percaya begitu saja, ia berlari sekuat tenaga dan mencari keberadaan Ara.


TBC


__ADS_2