
Pagi ini, udara terasa lebih dingin di banding hari-hari biasanya. Setelah Sholat Subuh, Chio mendudukkan tubuh di teras Masjid, beberapa orang yang ada disana diam-diam memperhatikan Chio yang tampak tengah melamun dan merenungkan sesuatu.
"Eh, itu anaknya Pak Rian yang baru pulang dari Mesir itu ya?" bisik salah satu gadis.
"Iya, tapi dia udah pulang dari empat bulan yang lalu," gadis bernama Mila pun menjawab.
"Oh gitu, cakep banget ya, beda banget sama Bu Anna dan Pak Rian."
"Huus, kalau sampai Pak Ustadz denger, habislah kamu,"
Sebenarnya, memang banyak sekali orang yang sangat mengagumi ketampanan Chio, wajahnya dengan Umi dan Ayah sungguh tak ada miripnya sama sekali, tapi baik Chio ataupun kedua orangtuanya, tak mau perduli, apapun yang di bicarakan oleh orang lain tentang mereka, yang pasti Chio bangga dan bahagia di besarkan oleh Umi dan Ayah.
"Ngapain disini, kok ga ikut ngaji? Kalau ga ada kerjaan, mending kamu ikut Ayah dan bantu mengajar para santri di Pesantren," Ayah sejak tadi sebenarnya juga memperhatikan sikap anaknya yang tak biasa.
"Maaf, Yah, pagi ini Chio, belum bisa bantu Ayah, insyaallah nanti siang saja,"
"Kamu ada masalah, atau sedang tidak enak badan?"
Chio menggeleng cepat. "Aku baik-baik saja, Yah, hanya butuh istirahat sebentar."
"Baiklah, kamu istirahat sana, jangan lama-lama merenung! Biasanya, Ara pasti datang kesini meski siang nanti, gadis itu pasti sedang ada jam kuliah pagi, jadi tidak ke Masjid."
"Haaah?" Chio benar-benar terkejut mendengar penuturan Ayah baru saja. Bagaimana bisa, Ayah tahu jika, ia sedang memikirkan Ara.
Sementara Ayah sudah berlalu dari hadapan anaknya yang masih tampak terpaku karena ucapannya. Tentu saja Ayah tahu, karena dulu ia juga pernah jatuh cinta.
Dengan senyum mengembang dan wajah merah merona, Chio pun memilih untuk beranjak di tempat duduknya, ia merasa lebih baik memilih tempat lain untuk menyendiri. Tapi belum sempat ia melangkah, Chio sudah di kejutkan oleh kedatangan Ara, yang saat ini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"A-ara, Astagfirullah." Chio menutup wajah dengan telapak tangan, manakala melihat penampilan Ara yang sangat mengejutkan pagi ini.
"Biasa aja dong, ini masih sopan tau," jawab Ara tanpa ragu.
"Sopan apanya? Pake baju kurang bahan begitu, nanti kalau saya khilaf, kan bahaya."
__ADS_1
"Buhahahaha," tawa Ara langsung pecah. Sedangkan Chio langsung melepas kemeja dari badan lalu di tutupkan ke bagian tubuh Ara yang saat ini hanya menggunakan rok pendek di atas lutut.
"Tenang, saya masih pakai kaos polos, jangan sampai otak kamu berpikir liar dan mengira saya, semudah itu menjadi khilaf!" ujar Chio seraya masih membenarkan kemeja untuk menutup paha Ara yang terlihat sangat mulus.
"Ga nanya,"
Pagi ini, ada yang berbeda dari sikap Ara, entah apa penyebabnya, padahal biasanya ia akan berpenampilan sopan meski tak menggunakan hijab, bahkan ia selalu canggung berhadapan dengan Chio, tapi tidak dengan pagi ini, Ara tampak urakan bahkan memoles wajah dengan makeup tebal, bukan mengurangi kadar kecantikan, ia justru terlihat semakin cantik di mata Chio, ya meski Chio sendiri tetap menyukai Ara yang apa adanya.
"Ayo, ke rumah saya!"
"Ga mau, malu tau, apa lagi nanti ketemu Umi, mana baju saya ga sopan."
Tentu saja, ucapan Ara baru saja langsung membuat Chio tersenyum, faktanya gadis ini masih tahu malu.
"Kalau malu, kenapa tetap kamu pake?"
"Saya mau kuliah, tapi mendadak ga niat."
"Loh, kok ga niat?"
Sambil berjalan menuju rumah Chio, keduanya tetap saling berbicara meski sikap Ara pagi ini tampak berbeda. Tentu saja, keduanya tidak luput dari sorot mata banyak orang, terlebih penampilan Ara yang tidak pantas menurut siapapun yang melihatnya, tapi siapa perduli, menurut Ara ia tidak merugikan orang lain.
Ara memang sedang banyak pikiran, belum lagi semalam ia menemani Kenan jalan-jalan sampai larut. Pagi ini, ia juga mendapat omelan dari Papah karena nilai Kuliah Ara yang semakin hari semakin turun. Padahal ia baru semester dua, namun Ara sudah merasa bosan melanjutkan kuliah.
"Hari ini, temenin saya boleh ga?" Ara tersenyum tipis.
"Sebenarnya, Ayah menyuruh saya mengajar di Pesantren, tapi baiklah untuk hari ini saya akan temani kamu dulu."
"Ga lama kok, saya hanya butuh nasehat dan kata-kata motivasi."
Sudah di tebak, gadis ini pasti sedang banyak masalah, karena Chio menangkap sinyal-sinyal aneh dari cara Ara berbicara. Meski tampak baik-baik, sorot matanya tidak bisa berbohong, bahkan wajahnya memerah, mungkin Ara baru saja menangis sebelum menemui Chio.
"Sebenarnya, apa sih peran orang tua menurut anda?"
__ADS_1
"Kenapa kamu tanya begitu?" entah kenapa, wajah Chio justru tampak marah setelah mendengar pertanyaan Ara.
"Jawab aja!"
"Kamu ada masalah dengan orang tuamu?"
Ara mengangguk cepat, jika tidak malu ia ingin sekali menangis di hadapan Chio. Mengingat perlakuan Papa tadi pagi, membuat Ara sangat sedih.
"Saya heran, kenapa baik Papah ataupun Mamah tidak ada yang bisa memahami keinginan saya."
"Apa yang kamu inginkan."
"Banyaklah, tapi tidak pernah mereka turuti, dengan alasan demi kebaikan dan masa depan."
Ara diam sejenak, ia menarik napas dalam-dalam sebelum lanjut berbicara. Sedangkan Chio masih setia menunggu Ara bercerita.
"Mamah dan Papah meminta saya kuliah kedokteran, sementara saya ingin mempelajari ilmu komunikasi. Pada akhirnya, saya yang mengalah dan menerima saran mereka. Tapi karena kuliah ini bukan keinginan saya, tentu nilainya tidak seperti yang mereka harapkan. Saya lagi yang salah, saya lagi yang di marah-marah."
Chio tertawa kecil sementara Ara langsung berdecak sebal. Kenapa pria ini justru tertawa mendengar curhatnya.
"Apaan sih, ga ada yang lucu tau,"
"Saya senang mengenal kamu, karena itu saya tertawa, setidaknya kamu masih patuh dan memenuhi keinginan orang tuamu. Tugas kamu, sekarang harus menyelesaikan kuliah dengan baik dan belajar dengan sungguh-sungguh. Kalau kamu jadi Dokter, pasti bukan cuma kamu yang bangga. Keluarga besarmu juga pasti bangga."
"Kalau anda, bangga ga? Jika nanti saya jadi Dokter."
"Rencananya sih bangga,"
Sejujurnya, Chio terkejut prihal pertanyaan Ara baru saja. Tapi dari sini ia seolah paham, jika Ara tetap ingin menjalin komunikasi baik-baik dengannya sampai lulus kuliah.
"Kok rencana sih, pokoknya anda harus bangga, saya janji akan belajar dengan sungguh-sungguh."
Chio tersenyum lebar, ia sungguh bahagia. Apa mungkin, Ara mulai memberi celah agar ia bisa masuk ke dalam hati gadis ini. Entahlah, begitu kira-kira yang Chio pikirkan.
__ADS_1
Ara sendiri, menceritakan masalah yang di hadapi hanya sebagian saja kepada Chio. Sebenarnya tadi pagi, ia ribut besar dengan kedua orangtuanya, lantaran Papa marah karena Ara sering datang ke Masjid dan Mama juga marah besar, karena Ara sering pergi ke Gereja. Ara tak habis pikir, kenapa mereka tidak bisa memahaminya. Yang salah mereka, kenapa harus menikah beda Agama?
TBC