Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 6 : Emosi Chio


__ADS_3

Entah apa yang di pikirkan, Kenan saat ini, jika hari-hari sebelumnya ia berani bertamu di rumah orang tua angkat sang Abang, hanya dalam hitungan menit saja. Tapi tidak berlaku untuk sekarang, karena hampir dua jam lamanya, Kenan tetap setia menunggu seseorang untuk pulang, siapa lagi kalau bukan Abangnya sendiri.


"Makan dulu, Ken! Mudah-mudahan sebentar lagi Abangmu datang," ucap seorang wanita paruh bayah, sejak awal Kenan sering berkunjung kemari, kedua orang tua yang telah merawat si Abang dari kecil, memang selalu ramah dan menyambut kedatangan Kenan dengan sangat terbuka.


"Boleh, Buk, jika tidak merepotkan kalian," balasnya gugup.


"Siapa yang merepotkan, anggap rumah ini rumahmu juga," kini si Bapak pun ikut buka suara.


"Wah, makasih Pak, karena kalian selalu baik menyambut kedatanganku."


"Seharusnya memang begitu,"


Kenan pun makan bertiga bersama Bu Anna dan Pak Rian, sungguh suasana yang jarang sekali terjadi dalam hidup Kenan. Meski dulu Mama dan Papa masih ada, untuk sekedar makan bersama mereka tidak punya waktu, jadi suasana yang di rasakan Kenan kini, sungguh membuatnya terharu, ia seolah memiliki orang tua, terlebih Ibu dan Bapak memperlakukannya sebaik mungkin.


"Pak, Buk, karena Abangku tak kunjung datang, sebaiknya aku pergi dulu, kapan-kapan, Kenan berkunjung lagi."


Kenan sudah menunggu hampir lima jam, tapi batang hidung Abangnya tidak tampak juga


"Padahal kamu, sudah menunggu lama,"


"Ga apa-apa, Pak, lain waktu Kenan bisa main ke sini lagi."


"Baiklah jika begitu," Bapak dan Ibu mengangguk paham.


"Oh iya, Pak, Buk, ini ada kartu ATM semua uang Abang selama ini, aku tabung, hampir dua tahun ini, aku tidak mengambilnya sedikitpun, karena ini amanah Papah, agar penghasilan setiap bulan, harus di bagi dua antara aku dan Abangku."


Kenan menyodorkan kartu ATM yang isi di dalamnya tentu saja tidak sedikit.

__ADS_1


"Tapi Ken, ini kan uang kamu, alangkah baiknya kamu simpan baik-baik untuk kamu kuliah dan sebagainya."


"Ibu dan Bapak tenang saja, uang hasil perusahaan selalu aku bagi dua, jadi uang yang ku punya juga lebih dari cukup,"


"Syukurlah," Bapak menghela napas lega. "Ini, Bapak terima ya," pelan-pelan pria paruh baya itu mengambil ATM yang sejak tadi berada di tangan Kenan.


*Iya Pak," .Kenan tersenyum senang. Tapi senyum itu mendadak muram, manakala Abangnya tiba-tiba datang.


*Ihh, apa-apaan sih lo, Bang, baru datang udah emosi aja,"


"Ambil ATM ini, saya tidak butuh uang kamu." pria yang usianya terpaut tujuh tahun dari Kenan itu, benar-benar marah.


"Ga perduli, mau lo butuh atau ga, yang penting gue udah kasih nih uang ke lo, kedepan uangnya bakal gue transfer setiap bulan."


"Saya tidak mau menerima, sepeser pun uang dari orang yang sudah membuang saya."


"Bang, Papah sudah meninggal, maafin kesalahan dia, Papah sungguh menyesal karena mengabaikanmu dulu."


"Bodo amat, mau lo buang, atau lo bakar nih ATM, itu hak lo. Tugas gue hanya memberi, selebihnya itu udah terserah lo,"


"KENAN!" wajah yang selalu tampak sendu dan teduh itu mendadak berubah merah padam, karena ia benar-benar emosi atas sikap Adiknya kali ini. "Saya bisa anggap kamu Adik, karena faktanya kamu memang Adik saya. Tapi maaf, untuk menerima uang Papahmu, saya tidak sudi sama sekali."


"CHIO...!" Pak Rian benar-benar geram melihat sikap anaknya yang berubah kasar, bahkan ini kali pertama Ayah dan Ibu melihat anaknya marah besar. "Kamu tidak boleh terus menerus membenci Papahmu, bagaimana pun beliau sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya," teriak Ayah yang juga tersulut emosi.


"Umi dan Ayah tidak paham, sakitnya berada di posisi saya. Hancur yang paling luar biasa, adalah di campakkan oleh orang yang seharusnya paling melindungi, namun apa yang saya terima, dia membuang saya bahkan tidak memperdulikan saya sama sekali."


"Bang sudah, Bang! Ga seharusnya lo marah-marah ke mereka, kalau lo mau, caci maki gue aja!" mati-matian Kenan menenangkan Chio yang emosinya sudah di luar kendali. Sorot mata itu, persis seperti mata Papah saat sedang marah, sesungguhnya wajah Chio benar-benar sangat mirip, hingga Kenan selalu ingin menangis setiap kali menatap wajah sang Abang.

__ADS_1


PLAK!


Tanpa aba-aba, Chio mendaratkan tamparan di wajah Kenan dan semenit kemudian Chio pun mendapatkan perlakuan yang sama dari Ayah, karena Ayah akan sangat marah, jika Chio sudah benar-benar kasar memperlakukan Adiknya.


"Ayah kenapa sih? Kenapa Ayah tampar wajah saya?" mata Chio berkaca-kaca.


"Tolong, kalian jangan bertengkar, sebaiknya aku saja yang pergi." ujar Kenan sedih. "Ini tetap milikmu, terserah mau Abang buang atau bakar."


Secepat kilat Kenan melesat lalu menjauh dari hadapan Chio dan kedua orang tua angkatnya. Sementara Chio langsung mendengus kesal, melempar ATM yang tadi sang Adik beri ke segala arah.


"Huh, dasar bocah labil, ngomong udah ga jelas, kadang pake lo gue, kadang pake aku kamu. Menyebalkan."


Setelah mengomel tidak jelas, Chio pun ikut menghilang dari hadapan Ayah dan Umi, hal itu tentu membuat kedua orang tua yang telah membesarkannya geleng-geleng kepala.


"Mereka saudara, mereka Abang dan Adik, jadi wajar toh Pak, kalau sama-sama nyebelin, sama-sama kasar dan sama-sama keras." kini Umi pun ikut ngomel-ngomel.


"Mungkin, Buk." jawab si Bapak datar.


Ya Chio dan Kenan kenyataannya memang saudara satu Papah tapi beda Mamah. Karena perbuatan Papah di masa lalu, membuat Chio sangat sulit menerima keberadaan sang Adik, ia bukan tidak berusaha, tapi semakin ia mencoba menerima Kenan, semakin sakit juga yang ia rasakan. Harusnya Chio lebih dewasa dan paham, dalam hal ini, Kenan tidak bersalah sama sekali,.


Chicio Felix Antonio, itulah nama pemberian Papah saat Chio baru lahir, bahkan setelah di serahkan kepada orang lain, Papah meminta, agar Chio tetap menggunakan nama pemberiannya.


Waktu Chio berusia tiga belas tahun, ia memutuskan untuk ikut Agama Ayah dan Umi, membaca dua kalimat syahadat dan memantapkan diri menjadi mualaf dan menjadi seorang muslim. Meski begitu, Pak Rian tidak meminta Chio untuk mengganti namanya.


"Nama itu, pemberian orang tua kandungmu, jadi kamu harus tetap menggunakannya. Ayah juga minta, kamu benar-benar Istikomah untuk menjadi mualaf, setelah usiamu tujuh belas tahun nanti, kamu baru akan benar-benar paham, arti dari sebuah perjalanan." begitulah kira-kira nasehat Ayah di masa lalu, tepat satu hari setelah Chio memutuskan menjadi muslim.


Mengingat masa lalunya, membuat Chio menangis sesenggukan, bahkan ia tidak perduli jika kini usianya sudah dua pulu tujuh tahun, yang pasti ia sedang ingin menangis sejadi-jadinya seraya memegangi pipi yang tadi mendapat tamparan dari Ayah.

__ADS_1


Sebenarnya, mengingat raut wajah Kenan yang tampak terluka karena sikapnya tadi, membuat hati Chio juga ikut teriris. Bohong sekali, jika tidak ada rasa sayang sedikit pun untuk sang Adik


TBC


__ADS_2