
Senyum di wajah Kenan mendadak sirna, mana kala ia menemui Ara dan wajah gadis itu memerah, sepertinya Ara baru saja menangis, bahkan saat mengetahui Kenan tiba, dia langsung berlari dan memeluk erat seolah tak ingin lepas.
"Ra, kenapa?"
Kenan membalas pelukan Ara, lalu menepuk-nepuk pelan pundak gadis tersebut.
"Gue, capek, Ken."
"Lo, ada masalah, cerita sama gue!"
"Nyokap, Bokap gue cerai, Ken, gue harus gimana?"
"Cerai?" sebenarnya Kenan sudah tidak terkejut lagi akan berita ini, karena seperti cerita Ara sebelumnya jika kedua orang tua gadis itu, memang sudah pisah rumah sejak lama.
"Iya."
Kini, Ara tidak bisa lagi membendung air matanya, ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Kenan.
"Ra, orang tua Lo, hanya bercerai, mereka bukan meninggal. Setidaknya, Lo masih bisa ketemu mereka, kapanpun Lo, mau."
Ara terdiam, ingin sekali rasanya menampar mulut Kenan tapi ia tak sanggup melakukannya, sebab ia sadar, Kenan memang kehilangan kedua orang tuanya, beberapa tahun lalu karena kecelakaan, tentu saja hal itu lebih menyakitkan daripada perceraian kedua orang tuanya.
"Gue harus apa, Ra? Biar Lo, nggak nangis lagi,"
Ara menggeleng pelan, saat ini yang ia butuhkan hanya pelukan dan sandaran, ucapan siapapun tidak akan merubah fakta jika kedua orang tuanya sebentar lagi akan bercerai. Dari rumah tangga Mama dan Papa, Ara mulai menanamkan komitmen, jika ia tidak akan pernah menikah dengan orang yang beda Agama, sebab seharmonis apapun, suatu hari pasti akan runtuh juga.
Kenan sendiri, ingin sekali berbagai kebahagiaan kepada Ara, jika saat ini dunia sedang berpihak kepadanya, tentang Chio yang sudah mau menganggapnya saudara, bahkan kini sudah mau bekerjasama di Perusahaan sesuai permintaan Almarhum Papa, tapi Kenan tak jadi berbagi, terlebih kondisi hati Ara saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Kita jalan-jalan, sampai sore, supaya hati Lo, bisa menjadi lebih baik!"
Ara mengangguki ajakan Kenan, yang ia lakukan sepanjang hari ini, mengikuti semua yang Kenan mau dan mengikuti kemanapun Kenan pergi.
"Terimakasih, Ken, karena hari ini, Lo mau menyempatkan diri buat temenin gue."
"Iya, sama-sama, Lo baik-baik ya dan cepat istirahat, kalau ada apa-apa, Lo bisa hubungi gue, kapanpun Lo, mau."
__ADS_1
Kini Ara mulai bisa menyunggingkan senyum, setidaknya Kenan mampu membuatnya merasa aman dan nyaman. Ia bisa beristirahat dengan hati yang lebih damai. Namun jauh dari sana, dimana kini Chio beristirahat, pria itu juga mengkhawatirkannya, karena sepanjang hari ini, Ara tidak mengangkat telepon atau membalas pesan singkat dari Chio.
"Maaf, saya tidak mengangkat telepon dan tidak membalas pesan anda, hari ini saya sangat sibuk. Saya baik-baik saja dan semoga anda juga baik-baik!"
Begitu pesan singkat yang Ara kirim untuk Chio, setidaknya pesan singkat tersebut membuat Chio merasa lebih tenang, meski dalam hati kecilnya, ia takut jika Ara sedang tidak baik-baik saja.
"Sudahlah, jika tiba waktunya, gadis itu pasti akan terbuka sepenuhnya kepada saya." begitulah yang Chio pikiran.
Dua orang pria yang selalu ada untuk Ara, dua orang pria yang selalu berusaha memberi Ara tempat ternyaman. Tapi jauh dari perasaan itu semua, Ara pribadi tidak tahu sama sekali, jika Chio dan Kenan adalah saudara. Entah apa yang terjadi suatu hari nanti, jika Chio dan Kenan sadar, bahwa mereka mencintai gadis yang sama.
* * * * * *
Pukul delapan malam, Kenan baru saja tiba di rumah, ia tidak lupa jika malam ini Chio akan bermalam di rumahnya. Oleh karena itu, ia pulang dengan membawa banyak makanan di tangannya.
"Bang, Lo udah makan belum?" pertanyaan pertama yang Kenan lontarkan saat bertemu Chio.
"Belum, kamu kemana saja? Jangan-jangan lupa, kalau malam ini saya menginap disini."
"Ya nggak, lah, mana mungkin gue lupa. Maaf, gue telat pulang ke rumah, karena hari ini ada hal yang gue lakukan."
"Gue naksir sama cewek, Bang dan hari ini dia lagi sedih, jadi gue harus hibur dia dan tenangin dia."
"Oh, begitu. Baiklah, malam ini saya maafkan, tapi jika besok-besok kamu mengabaikan saya, maka saya tidak akan pernah mau menginap disini lagi. Paham?"
Kenan mengangguk pelan, saat ini jalan terbaik adalah mengiyakan semua ucapan sang Abang.
"Sebenarnya, saya juga sedang bingung." Chio perlahan mulai terbuka kepada Adiknya, kini mereka berdua sudah berada di meja makan dan keduanya makan malam bersama.
"Lo, bingung kenapa, Bang? Apa di kantor ada yang buat Lo kesel?
Chio menggeleng cepat
"Terus?"
"Saya menyukai seseorang gadis tapi sampai detik ini, saya belum berani mengatakan hal ini dan memberi tahunya, jika saya menyukai dia,"
__ADS_1
"Haaah? Lo, serius? Lo bisa jatuh cinta juga?"
Mungkin saja tanggapan Kenan berlebih tapi jujur saja, Kenan sangat terkejut, ia mengira Abangnya akan sulit jatuh cinta, terlebih Chio tampak seperti manusia kaku yang tidak mudah menyukai hal apapun.
"Kasih tau gue, cewek mana yang buat Abang gue jatuh cinta. Pasti dia cantik, baik, sopan, lemah lembut, jadi Lo tertarik dan menyukai dia."
"Ya, dia cantik, dia baik, tapi kalau lembut tidak juga, bahkan dia tidak terlalu sopan, sebab dia berani memeluk saya di hadapan Umi dan Ayah."
"Woow, gue makin penasaran. Siapa namanya, Bang?" Kenan benar-benar ingin tahu.
"Rahasia, kalau nanti dia sudah resmi menerima perasaan saya, baru akan saya kenalkan dia padamu."
"Dih, pelit amat, Lo."
"Suka-suka saya dong."
Kenan langsung memberikan tatapan mematikan menghujam tajam ke wajah Chio, tapi bukanya takut, Abangnya itu justru tertawa terbahak-bahak, dan meminta Adiknya untuk segera makan.
"Sudahlah, jangan berharap lebih dari saya. Harusnya kamu bersyukur, karena saya mau terbuka dan bercerita tentang perasaan saya kepada kamu, artinya saya sudah sepenuhnya menganggap kamu saudara."
Tentu saja, ucapan Chio mendadak membuat Kenan menjadi terharu, karena kenyataannya ini memang pertama kalinya, Chio mau bercerita dan terbuka tentang perasaannya.
"Tetap begini, Bang, jangan berubah! Gue berharap, seterusnya Lo akan terbuka tentang apapun yang Lo rasakan."
Chio mengangguk cepat. "Saya juga berharap sama, jika kamu harus terbuka dan memberi tahu saya, baik masalah ataupun perasaanmu!"
"Siap." Kenan tersenyum simpul. "Terimakasih Bang, karena Lo buat gue merasa bahagia dan sadar, jika di dunia ini gue nggak sendirian. Gue masih punya saudara." tambahnya lagi.
Untuk pertama kalinya, Chio mau memeluk erat tubuh sang Adik, tak bisa di pungkiri jika pelukan Chio sama hangatnya seperti pelukan Almarhum Papa, terasa hangat dan nyaman.
"Jangan tinggalin gue lagi, Bang! Gue butuh, Lo!"
"Iya, saya janji," ucap Chio meyakinkan Adiknya, jika mulai hari ini, mereka akan menjadi saudara seutuhnya, sampai kapanpun.
TBC
__ADS_1