Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat

Antara Anak Pak Ustadz Atau Anak Pejabat
Bab 16 : Bergabung di Perusahaan


__ADS_3

Sesungguhnya, baik Umi ataupun Ayah, keduanya belum bisa memberi izin sepenuhnya atas keinginan Chio untuk bekerja di perusahaan milik Almarhum Papa kandungnya. Bukan tanpa alasan, sebab sebagai mana keinginan Ayah sebelumnya, jika beliau memberi Chio fasilitas pendidikan sampai ke Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, agar anaknya bisa menjadi pemimpin Pesantren suatu hari nanti.


Namun, melihat binar mata Chio yang penuh semangat saat mengutarakan keinginannya agar bisa turut andil mengurus Perusahaan membuat Ayah tidak tega untuk tidak memberi izin.


"Ayah, tidak perlu khawatir, setiap saya pulang dari bekerja, Chio akan menyempatkan diri untuk membantu Ayah mengajar di Pesantren."


"Kamu yakin?" Ayah sedikit ragu.


"Insya Allah, saya yakin, Yah,"


Umi yang sejak tadi memilih bungkam kini mulai ikut bicara, tidak seperti Ayah yang bisa lebih dingin menyikapi keinginan Chio, wanita itu justru menunjukkan kesedihan yang luar biasa.


"Umi, takut, jika tidak semua orang yang ada di perusahaan itu adalah orang-orang baik,"


"Umi tenang saja, saya sudah dewasa dan saya pasti bisa menjaga diri." pelan-pelan Chio pun meyakinkan.


Kini, tidak ada pilihan bagi Ayah dan Umi selain memberi izin sepenuh hati, sebab mereka sudah paham watak anaknya, yang sangat sulit untuk di goyahkan. Keduanya yakin, pilihan Chio adalah yang terbaik.


Chio sendiri, bukan tanpa alasan, mendadak ingin bekerja di Perusahaan, sebab saat ia berkunjung beberapa kali ke Perusahaan tersebut, ia menangkap sinyal-sinyal tidak baik disana, meski ia belum yakin, Chio akan berusaha mencari tahu.


* * *


Senyum Kenan mengembang, kala mendengar pernyataan dari Abangnya jika dia bersedia berkerja dan mengurus Perusahaan mulai hari ini.


"Jadi, kamu fokus kuliah saja, urusan kantor biarkan saya yang membantu Om Bastian."


"Baik, Bang,"


"Satu lagi, kamu jangan terlalu lelah sebab kata Bi Lila, kamu mudah demam."

__ADS_1


"Kadang-kadang dong, Bang."


"Jangan membantah perkataan saya!"


"Oke, Abangku sayang," jawab Kenan lebay membuat Chio mendadak ingin muntah melihat ekspresi Adiknya.


Hampir satu jam lamanya, baik Kenan ataupun Chio menunggu kehadiran Bastian, tapi pria paruh baya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Entah ada alasan apa, yang pasti setiap kali, Chio mengajaknya bertemu, pria tua itu selalu memiliki seribu alasan untuk menolak.


"Ya udah deh, Bang, biar gue aja yang kenalin Lo ke semua karyawan Perusahaan. Bagaimana pun, kita berdua pemilik utama, jadi ngapain nunggu persetujuan Om Bastian." ucap Kenan yang mulai geram.


Namun ketika Chio dan Kenan sedang berbincang barulah Bastian tiba dengan duduk di kursi roda bahkan di bantu oleh seorang satpam.


"Om, kenapa? Kok duduk di kursi roda?" Kenan panik, ia langsung mendekati keberadaan pria paruh baya itu sementara Chio tetap diam tak bergeming tanpa ekspresi sama sekali.


"Om nggak apa-apa, Ken, hanya saja beberapa hari lalu, terjadi kecelakaan kecil dan hasilnya Om harus duduk di kursi roda." Bastian menjelaskan kepada Kenan tapi tatapannya menghujam tajam ke arah Chio. "Karena itu, Om tidak bisa menemui Abangmu." kini nada bicara Bastian tidak selembut tadi saat sorot matanya dan mata Chio saling bertemu.


"Ohh, jadi kerena ini, Om nggak bisa dateng ketemu Abangku ya, maaf Om, aku sudah marah-marah, Om sih, seharusnya kasih tahu aku kalau lagi sakit." ucap Kenan polos.


Pemandangan yang membuat Chio semakin muak, entah kenapa ia tidak menyukai pria bernama Bastian ini, menurutnya pria tua tersebut memiliki aura tidak baik yang bisa saja membahayakan Kenan sewaktu-waktu.


"Selamat pagi, Pak Chio, selamat bergabung di Perusahaan ini, semoga anda betah dan kita bisa membangun Perusahaan menjadi lebih besar lagi." Bastian mengulurkan tangan tapi Chio mengabaikan.


"Maaf tangan saya kotor, jadi takut nanti justru tangan anda ikut kotor juga. Terimakasih sudah menyambut kedatangan saya." Chio tersenyum tipis.


Bastian mangut-mangut kesal, ia merasa Chio akan membahayakan dirinya, dari tatapan mata saja Bastian sudah paham, ada binar tidak suka yang Chio tujukan untuknya.


"Ken, kumpulkan semua karyawan di ruang meeting dan kita akan memperkenalkan Chio kepada mereka!" perintah Bastian kepada Keponakannya.


"Baik, Om."

__ADS_1


Kenan melangkah keluar dari ruangan dengan sangat semangat dan meninggalkan Chio dan Bastian berdua saja di ruangan tersebut.


"Apa tujuanmu, tiba-tiba mau ikut mengurus Perusahaan?" tanya Bastian tanpa basa-basi.


"Tujuan saya adalah, membuang manusia-manusia munafik agar keluar dari kantor milik Papah saya." jawab Chio dengan bola mata yang melotot sempurna.


Bastian segera berdiri dari kursi rodanya lalu mendekati keberadaan Chio dan membalas ucapan tadi dengan berbisik pelan. "Kamu jangan macam-macam, Anak Haram, saya bisa melenyapkan-mu kapan saja, jika saya mau."


Benar sekali pemikiran Chio selama ini, jika Bastian bukan pria baik-baik, bahkan hari ini saja, pria itu langsung membuka topengnya di hadapan Chio.


"Dasar manusia munafik kelas atas. Saya tidak akan membiarkanmu bernapas bebas sedetikpun."


Chio tentu saja tidak mau mengalah, ia segera melangkah keluar setelah berucap demi kian. Sementara Bastian mengepal jari-jemarinya geram, Anak Haram ini sungguh membuatnya kesal, bisa-bisanya Chio membuatnya merasa terancam.


Pukul sebelas siang, Kenan memperkenalkan Chio ke semua karyawan kantor, meski tidak menyukai kehadiran Chio, Pak Bastian tetap ikut andil dalam perkenalan pagi ini. Bagaimana pun ia tetap harus berpura-pura, tidak terjadi apa-apa di hadapan Kenan.


"Selamat bergabung, Bang, hari ini Lo resmi jadi Wakil Direktur Utama, Lo bisa bantu Om Bastian untuk mengurus Perusahaan!"


Setelah persemian dan acara makan-makan secara dadakan, Kenan pun berpamitan pergi karena hari ini, ia ada janji untuk bertemu dengan Ara.


"Jangan pulang larut malam, ada banyak hal yang harus kita bicarakan!" pesan Chio untuk sang Adik.


"Lo, nginap di rumah gue lagi, Bang?" tanya Kenan dengan senyum mengembang.


"Iya," jawab Chio meyakinkan Adiknya.


Kenan pergi meninggalkan kantor dengan senyuman yang tak bisa ia samarkan. Bahagianya hari ini tidak bisa di ungkap dengan kata-kata. Pertama, sang Abang yang sudah bergabung di Perusahaan sesuai harapan Almarhum Papa, kedua Chio mau menginap di rumahnya lagi malam ini, ketiga Ara yang tiba-tiba ingin bertemu dengannya.


Sementara itu, perang dingin antara Chio dan Om Bastian pun di mulai, hadirnya anak pertama dari Almarhum Kakaknya membuat gerak-gerik Bastian sedikit terhambat, ia tidak menyangka jika anak itu berani menginjakan kaki di kantor ini, padahal ia sangat berharap jika selamanya Chio dan Kenan bermusuhan dan ia juga berharap, selamanya Chio akan membenci Papanya, tapi semua tak sesuai yang Bastian harapkan, entah kenapa Chio dan Kenan justru menjadi akrab dan juga tiba-tiba Chio mau bergabung di Perusahaan.

__ADS_1


"Mungkinkah, Chio tahu maksud dan tujuanku?" begitu yang kini terpikirkan oleh Bastian.


__ADS_2