
Hari ini adalah hari kepulangan ayah dan ibuku. Semua pelayan sedang sibuk mempersiapkan pesta penyambutan. Dan di sinilah aku yang sedang mencoba berbagai gaun aneh. Gaunnya sih sebenarnya bagus, hanya saja Eli terlalu berlebihan. Dia mengatakan kalau acara penyambutan nanti aku harus tampil sempurna.
"Tuan putri bagaimana dengan gaun merah ini?"tanya Eli sambil menunjukkan sebuah gau berwarna merah dengan pita sebagai hiasannya. Aku mendengus sebal.
"Eli aku pakai yang biru saja deh."akhirnya aku yang memilih.
"Eh itukan terlalu sederhana. Tidak bisa tuan putri."Tentu saja Eli menolak. Gaun yang ku pilih terlalu sederhana. Hanya ada satu hiasan di bagian pinggangnya. Tapi menurutku itu lebih baik dari pada gaun yang di pilihkannya. Yang mau pakaikan aku kok dia yang repot sih.
"Belum tentu, kalau gaunku sederhana kamu bisa menghias diriku dengan berbagai aksesoris."akhirnya aku memberi saran.
"Hm, begitu ya. Kalau begitu saya akan mendandani tuan putri dengan cantik. Tapi lebih baik pakai pita atau jepit rambut ya?"
Eliiii kamu selalu membuatku naik daraaah.
***
Kereta kuda telah tiba, pintu kereta terbuka dan nampak raja Gavin dan ratu Alika.
"Salam hormat dari Anastasia untuk ayahanda dan ibu ratu."Ucapku memberi salam.
"Tegakkan kepalamu Anastasia."ucap ayah.
Ayah mendekat ke arahku dan memelukku. Begitu pula ibu, duh malu rasanya. Kami segera masuk ke dalam untuk makan bersama.
"Bagaimana keadaanmu selama ayah tidak ada?"
__ADS_1
"Anastasia baik-baik saja. Kerajaan juga stabil jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya ada sedikit masalah tentang para bangsawan yang tidak mau membayar pajak. Tapi ayah tanang saja semua sudah beres."jawabku
"Ayah sangat bangga kepadamu."
"Terimakasih atas pujiannya."
Makan malam berjalan dengan lancar. Seusai makan ayah dan ibu langsung pergi beristirahat. Aku segera membersihkan diriku lalu memakai baju tidur. Aku mengamati wajah yang berada di cermin.
"Wajah ini sangat cantik. Aku sangat tidak pantas untuk memilikinya sekarang."gumamku.
Tepat setelah aku selesai bergumam Eli datang ke kamarku.
"Tuan putri biarkan saya menyisir rambut anda."
Aku membiarkan Eli untuk menyisir rambutku. Rambut coklat yang sungguh indah. Berbeda dengan rambutku dulu yang berwarna hitam sebahu, rambut ini jauh lebih indah dengan sedikit gelombang di bawahnya. Huh aku iri sekali pada pemilik tubuh ini. Bagaimana bisa aku masuk ke dalam tubuhnya.
Sebuah aula terlihat ramai dipenuhi para bangsawan dan raja dari tiga negara bagian. Salah satunya nampak sosok seorang putri yang anggun dan cantik. Tapi sayang kecantikannya tercampur oleh raut wajah sedihnya. Meski begitu wajahnya masih terlihat cantik. Tidak akan ada yang menyadarinya jika putri itu sedang sedih.
Sorak soraipun terdengar, ternyata acara sudah di mulai. Di depan sana terdapat 2 sosok yang berdiri berdampingan. Aku tahu salah satu sosok itu. Yang satu adalah Aaron dan perempuan yang berada di sampingnya aku sama sekali tidak tahu. Yang ku tahu adalah sosok yang sedang bersedih itu adalah Anastasia.
"Para tamu undangan sekalian, acara pertunangan akan segera di laksanakan."
Ya ampun! apakah Aaron akan menikahi perempuan itu. Sepertinya aku tahu kenapa anastasia bersedih.
Acara pertunangan telah selesai. Ternyata perempuan itu adalah putri dari kerajaan Barat daya. Aku masih melihat kejadian itu. Saat acara telah selesai Anastasia pergi menemui Aaron. Mereka berdua berbicara di taman belakang. Saat mereka memulai pembicaraan tiba-tiba tubuhku seperti terguncang sesuatu*.
__ADS_1
"Tuan putri sudah pagi, waktunya bangun."ucap Eli.
Ya ampun padahal aku baru saja akan mendengarkan apa yang Anastasia dan Aaron bicarakan tapi gagal. Sebenarnya apa yang ingin di sampaikan oleh Anastasia sih.
Pagi ini aku berniat untuk jalan-jalan di taman. Tapi rencana itu di gagalkan oleh Brian. Entah kenapa anak itu selalu sering datang ke sini sih. Jadilah aku sedang meminum teh bersamanya.
"Mau apa kamu datang ke sini?."tanyaku langsung ke intinya.
"Entah kenapa kamu tidak bisa bersikap baik terhadapku."ucapnya sambil berpura-pura sedih.
"Entahlah mungkin karena kamu orang yang menyebalkan mungkin."
"Ternyata ucapanmu lebih pedas dari yang ku bayangkan."ejeknya.
Wajahku memerah karena menahan emosi. Anak ini emang minta di tendang ya.
"Jangan suka marah-marah, nanti wajahmu tambah jelek."
"Brian!"
"Eh tapi kok malah tambah cantik kalau marah ya."
Entah kenapa kedua pipiku memanas. Nggak! nggak mungkin karena malu tapi karena marah. Iya, pasti karena marah(orang yang lari dari kenyataan). Tiba-tiba dia bangkit dan mendekat ke arahku. Eh eh apa yang mau di lakukannya. Jantungku berdetak cepat, keringat mulai membasahi wajahku.
"A..apa yang mau di lakukan anak ini?"tanyaku dalam hati.
__ADS_1
Brian berjalan semakin dekat. Saat sudah berada di depanku dia mencondongkan wajahnya ke arahku.S..situasi macam apa ini.