
"KENAPA KAU BISA ADA DI SINI!!!" ucapku sambil menunjuk ke arah sosok itu.
"Memangnya kenapa? apa kau merindukanku?" ucap sosok itu dengan percaya diri.
"Ih! siapa juga yang merindukanmu. Aku datang demi Lenzo, bukan kau!"
"Sudah, kalian jangan bertengkar." lerai Lorenzo.
"Ah, kita nggak lagi bertengkar kok."ucapku.
"Iya, kita cuman berantem." tambah Brian.
"APA BEDANYA!!!!!" teriakku ngegas.
Lorenzo membulatkan matanya sebab terkejut. Sementara Brian sudah menyumpal kedua telinganya menggunakan jari. Sepertinya dia sudah bersiap untuk menyumpal telinga.
"Ups!."
"Haha lihatkan Lenz, dia mah nggak ada anggun anggunnya sama sekali. Ckckck."ejek Brian.
ASDFGHJKLMNBBVCXZ!!!!!!!!!!!!!!.
Dasar Brian sialan!!!. Beraninya dia mengejekku dihadapan Lorenzo. Apa dia belum tahu rasanya hidup segan mati tak mau. Huh! dasar Brian sinting, siap-siap kau kubalas.
"Eh! enggak kok Lenz. Aku hanya bersikap begini hanya kepada Brian saja kok. Salah sendiri dia itu menyebalkan."
"Bohong dia, rumor-rumor yang mengatakan kalau putri Anastasia adalah putri yang anggun dan sopan itu cuma sandiwaranya saja. Yang seperti ini adalah yang asli."
"Hey!"
"Lebih baik tahu sekarang, daripada tidak tahu sama sekali." jawab Lorenzo dengan wajah datarnya.
Aku melipat kedua tangan, tanda sedang marah. Dasar! semua laki-laki sama saja, suka berkomplot untuk menyerang perempuan.
__ADS_1
"Eh, tapi memangnya ada apa? kok kau bisa datang sampai sini?" tanya Brian.
"Memang apa urusannya denganmu." jawabku ketus.
Kami bertiga sudah duduk di meja. Lorenzo menuangkan teh kepadaku. Eli diajak berbincang dengan para dayang di istana ini.
" Eh punyaku juga dong." pinta Brian.
"Kau tuang sendiri saja." tolak Lorenzo.
"Hais, dasar tidak setia kawan."
" Memang aku temanmu?"
SKAK
"Pfffft."
"Hihihi. Sudah-sudah, biar aku saja yang menuangkan tehnya untuk kalian berdua."
Akhirnya aku yang menuangkan teh untuk kedua pangeran ini. Tampaknya Lorenzo tidak suka manis. Saat kutawari gula, dia menolaknya. Berbeda dengan Brian, kalau dia suka teh manis. Kalau aku sih netral netral aja. Mau itu manis atau tidak yang penting nikmat hihihi.
"Eh, tapi ini serius. Kau ada masalah apa hingga ke sini?" tanya Brian untuk kesekian kalinya.
"Kau peka juga ternyata." ucapku.
Aku menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. Tentang ayahku yang suka menyuruhku untuk berbicara atau mengobrol dengan para putra bangsawan. Ku ungkapkan kekesalanku kepada Brian dan Lorenzo. Namun, mereka bahkan tidak meresponku.
"Ish, bicara kenapa! kasih respon atau sarankan bisa, kok malah diam saja!" ucapku dengan intonasi tinggi.
Mereka tersentak, sementara aku bangkit dari dudukku. Aku berjalan cepat menuju pintu. Baru saja aku hendak memegang gagang pintu, tanganku sudah ditarik oleh seseorang. Aku menoleh, itu Lorenzo.
"Maaf, terkadang merespon perempuan lebih sulit daripada berdebat dengan para bangsawan." ucap Lorenzo dengan wajah memelas.
__ADS_1
Uwaaaaaaah. Lorenzo mengucapkannya dengan wajah yang imut sekaliiii. Hah! jadi nggak tega sama dia. Yeah, permintaan maaf diterima. Aku mengangguk kecil, lalu berjalan ke meja kembali tapi ditahan Lorenzo.
"Apa?" tanyaku.
"Itu, saputanganmu terjatuh." ucapnya seraya memberikan saputangan hasil sulamanku.
"Simpan saja jika mau. Kalau tidak mau ya buang saja." ucapku.
Aku langsung duduk di bangkuku tadi. Aku tak menyadari perubahan ekspresi dari Brian dan Lorenzo. Bahkan hingga besarpun aku tidak menyadarinya bahwa aku telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal.
...****************...
Haripun menjelang sore, dan aku bersiap siap untuk pulang. Brian dan Lorenzo bersikeras untuk mengantarkan ku tapi ku tolak.
"Tidak apa, lagipula masih ada Eli dan Levi."
Sebenarnya aku sedikit bisa ilmu beladiri saat masih menjadi Viona. Entah aku masih bisa atau tidak.Aku berjalan kearah kereta kudaku bersama dengan Eli. Brian dan Lorenzo masih setia menungguku. Hm, aku rasa pertunjukan menarik memang wajib ditonton oleh mereka.
Sesampainya di sana, Levi menjulurkan tangannya untuk membantuku naik. Aku mengangkat tanganku, tapi bukan untuk menerima uluran tangannya.
Sebaliknya, ku cengkeram kuat-kuat pergelangan tangannya, lalu kutarik tubuhnya kearahku. Levi terkejut dan hendak jatuh kearahku.
Tapi aku tidak berniat menangkapnya. Sebaliknya, aku memang ingin membuatnya terjatuh. Aku mundur beberapa langkah lalu memutar pergelangan tangannya, menekuknya ke belakang dan duduk di atas punggungnya.
"Astaga putri!" jerit Eli.
"Mengakulah kalau kau masih ingin hidup!!!" bentakku.
Kejadian ini terjadi sangat cepat. Lorenzo dan Brian mendekat ke arahku.
"Apa yang terjadi?" tanya mereka hampir bersamaan.
Yeah, pertunjukan baru saja dimulai.
__ADS_1