
Hari yang ku tunggu telah tiba. Betapa senangnya aku. Eli mulai membantku untuk bersiap-siap. Mulai dari mandi, berpakaian, dan juga merias wajah.
Gaun yang ku pesan 5 hari lalupun sudah datang kemarin. Warna hijaunya terlihat segar dan cantik. Yaps, pilihanku memang selalu yang terbaik. Tidak terlihat norak tapi tetap memiliki kesan anggun.
Eli menyanggul rambutku ke atas tanpa poni. Lalu memakaikan sebuah pita yang di tengahnya terdapat batu emerald. Eli mulai merias wajahku. Aku menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak menggunakan riasan.
Setelah semua selesai aku bergegas turun ke bawah. Ayah dan ibu pasti sudah lama menunggu. Mereka berdua terbiasa selalu cepat.
Kami menaiki kereta kuda terbaik milik kami. Keluargaku sengaja untuk datang ke pesta lebih awal. Itu karena keluarga Orlov dan keluarga Volkov sudah dekat sejak dulu. Maka dari itu Anastasia dan Aaron sudah berteman sejak kecil.
"Anastasia, kamu pasti sudah tidak sabar melihat kakakmu di nobatkan menjadi pangeran mahkota."ucap ibuku yang memulai pembicaran.
"Yap, tentu saja ibunda. Aku sudah tidak sabar melihat kak Aaron menjadi pangeran mahkota."
"Itu sudah pasti. Dia adalah kakak yang paling kamu sayangi bukan?"
"Tentu saja ayahanda."
Oh iya, saat sedang bertiga saja kami biasanya berbicara santai. Dulu awalnya aku agak canggung saat di suruh berbicara nonformal kepada mereka karena beberapa hal.
Yang pertama, mereka bukan orang tua kandungku. Ke dua, aku juga bukan putri asli mereka. Soalnya cuma raga doang yang asli. Dan ke tiga, mereka adalah raja dan ratu yang di hormati oleh seluruh rakyat di negara ini.
__ADS_1
Sementara aku mah apa? orang yang nggak punya kekuasaan sama sekali. Sungguh kejam dunia ini, hiks. (orang yang lupa kalo sekarang dia itu putri).
***
Kamipun akhirnya tiba di kerajaan Barat. Ruangan di padati oleh para pelayan yang bekerja menata ruangan. Dekorasinya terlihat bagus dan ber kelas. Saatnya mencari Aaron.
"Ayahanda, Anastasia meminta izin untuk mencari kak Aaron."
"Pergilah dan cari kakakmu. Dia mungkin sedang gugup sekarang."
Aku segera berjalan mencari Aaron. Aku bertaruh dia pasti sedang berada di taman. Akupun melangkah menuju taman. Dan memang benar, dia sedang duduk di kursi taman. Hmm ku kagetkan tidak yaaa. Ah nggak deh, nanti jadi nggak anggun lagi.
"Siapa yang berani mendekatiku secara diam-diam?"tanyanya dengan intonasi seakan-akan mau membunuhku.
Saat dia berbalik badan betapa terkejutnya dia melihat orang yang baru saja di acung pedang olehnya.
"H..hai kak Aaron. B..bisakah kamu menurunkan pedangmu?"tanyaku gemetaran.
"Ah! maafkan aku. apa ada yang tergores? apa pedangnya mengenaimu? apa aku membutmu terkejut?"tanyanya secara beruntun.
Sepertinya dia terkerjut, lihat saja pedang miliknya di jatuhkan begitu saja. Sebenarnya aku agak syok sih. Tapi melihat ekspresi khawatirnya membuat aku tahu kalau dia sebenarnya masih menganggapku sebagai adiknya.
__ADS_1
"Hei bicaralah. jangan membuatku takut."
"Kalau aku ingin agar kakak jangan menghindariku lagi apa kakak mau?"tanyaku dengan suara pelan.
Aaron diam, lalu mengendurkan pegangannya pada lenganku.
"Tentu. Kamu adalah adikku yang paling aku sayangi." jawabnya sambil tertunduk.
"Terimakasih kak. Kamu adalah kakak terbaik."balasku sambil memeluknya erat.
Awalnya dia tidak membalas pelukanku. Tapi akhirnya diapun membalas pelukan yang ku berikan.
"Nanti saat dansa kak Aaron dansa denganku ya."ajaku.
Aaron tampak berpikir sebentar. Yeah aku tidak berharap dia bilang iya sih. Aku menawarkan itu untuk mempererat hubunganku dengannya.
"Baiklah aku akan menjadi pasangan dansamu."
Hah! aku tidak percaya dia meng-iya-kan tawaranku. Ya sudah aku akan berdansa dengannya.
Aku yang merasa senang saat Aaron tidak menjauhiku lagi tidak memikirkan kejadian apa yang akan terjadi nanti. Seharusnya aku mendengarkan peringatan dari Anastasia.
__ADS_1