Apa! Aku Seorang Putri

Apa! Aku Seorang Putri
Chapter 15


__ADS_3

Bunyi alat-alat makan terdengar saling bersahut-sahutan. Aku akhirnya memantapkan hati untuk sarapan bersama dengan 2keluarga kerajaan.


Entah hanya perasaanku saja atau memang dari tadi aku diabaikan oleh mereka. Dari tadi bahasanya tentang Liana dan Aaron saja. Akupun juga fokus kepada makanan didepan ku sampai tiba-tiba Liana bertanya kepada ku.


"Aku rasa aku belum berkenalan dengan mu putri. Siapa namamu?"


"Oh, emm perkenalkan nama saya Anastasia Orlov. Putri dari kerajaan Timur"


"Ah jadi ini putri kerajaan Timur. Ternyata rumor di kalangan bangsawan memang benar" ucap raja Aldrich--ayah Liana.


"Memangnya rumor apa?" tanya ratu Natalie.


"Di daratan ini hanya ada satu putri dari ke-4 kerajaan. Dia memiliki paras yang luar biasa cantik dan tata krama yang sopan. Itulah yang membuat rakyat Timur sangat menyayanginya" jawab ratu Vivian--ibu Liana.


Entah kenapa kata-kata yang diucapkan oleh ratu Vivian membuat kedua pipiku memerah. Hey! aku tidak secantik itu. (bukan kamu, tapi Anastasia.)


"Aku tidak percaya aku bisa bertemu dengan putri Anastasia." ucap Liana senang.


Sepertinya dia-Liana-tidak seburuk yang aku kira. Awalnya aku mengira dia akan bersikap jutek atau menjaga jarak denganku. Yeah, buktinya dia duluan yang mengajak bicara aku.


"Oh iya, Anastasia sudah kami anggap sebagai anak kedua kami." ucap raja Asher.


"Iya, sejak kecil Aaron dan Anastasia sudah bermain bersama. Jadi mereka sudah akrab dari kecil." sambung ratu Natalie.


"Wah, sepertinya kalian akrab sekali. Sementara aku hanya pernah bertemu dengan pangeran Aaron sekali saja." ucap Liana.


Entah kenapa kata-kata yang diucapkan oleh Liana barusan sedikit membuatku tak nyaman. Perasaanku mengatakan bahwa Liana seperti sedang menyindirku. Ku lihat Aaron sedikit melirikku, apa mungkin dia memikirkan hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan?


Sarapan bersama pun selesai dan aku pun kembali ke kamarku. Aku tak mengira kalau sarapan kali ini berlangsung lama. Ugh, aku ingin pergi ke taman bunga saja, sekalian menyegarkan kedua mataku.


Saat hendak keluar dari kamar, aku melihat Liana yang berjalan ke arahku dengan seorang pelayan di sampingnya.


"Hai putri Anastasia, kamu hendak kemana?" tanya Liana.


"Oh a-aku hendak ke taman bunga." jawabku.


"Ah kebetulan sekali, aku juga hendak ke sana. Bagaimana kalau kita ke taman bersama?" tawarnya.


"B-boleh, ayo ke sana."


Entah kenapa aku agak canggung berada di dekatnya. Tatapannya serasa lembut di luar menusuk di dalam.


"Eh, apakah putri tidak ditemani oleh seorang pelayan?" tanyanya.


Kami masih berada di luar kamarku. Sebenarnya Ann tadi hendak mengantarku berjalan-jalan. Tapi ku tolak karena biasanya ada Eli di sampingku.

__ADS_1


"Emm sepertinya tidak. Aku juga bisa ke sana sendiri, jadi tidak perlu seorang pelayan."


"Oh aku pikir putri Anastasia tidak tahu kalau seorang putri harus di temani pelayan jika sedang keluar. Aku hanya mencoba mengingatkan."


Hey! apa dia barusan menyindirku. Apakah dia berpikir kalau aku tidak tahu teori-teori seperti itu.


"Tentu saja saya tahu putri Liana, teori-teori tentang menjadi seorang putri. Saya juga tahu tentang menggunakan bahasa formal untuk orang yang baru dikenal." balasku.


Raut wajahnya tampak tercengang. Apa mungkin dia sadar dengan sindiran ku? Ah! pasti sadarlah orang dia saja menyindirku sedemikian rupa.


Seketika raut wajahnya berubah sedih. Hey! memangnya ini pertunjukan drama apa?.


"Maafkan saya, sa-saya pikir kita sudah menjadi teman dekat." ucapnya sok sedih.


Pelayan di belakangnya melirikku. Shit! rupanya dia sengaja melakukannya agar mendapatkan simpati. Duh! gimana ini.


"Eh bukan begitu. Ma-maksud saya hanya ingin mengatakan kalau teori dasar seperti itu saya tahu."


"Oh kalau begitu syukurlah. Berarti kita berbicara informal saja ya?"


"Te-tentu."


Setelah obrolan saling menyindir itu kami pergi menuju taman bunga. Oh iya, saat dalam perjalanan kami berpapasan dengan Ann. Melihat aku berjalan tanpa seorang pelayan, dia langsung mengekor ku.


Kamipun sampai di taman bunga. Ternyata Aaron pun ada di sana juga bersama dengan seorang laki-laki yang sepertinya lebih tua beberapa tahun darinya. Dengan gerak cepat, Liana segera menghampiri Aaron.


Sepertinya sebentar lagi akan ada drama murahan. Pemeran utama wanitanya adalah seorang putri dari kerajaan Barat Daya.


"Tidak usah berbicara formal. Panggil saja aku senyaman mu."


"Kalau begitu ku panggil kakak ya, kan Aaron lebih tua dari ku." ucapnya sok dekat.


Aaron mengangguk tidak keberatan. Giliran ku untuk menyapa.


"Salam hormat Anastasia Orlov kepada kak Aaron."


Semuanya terdiam, lalu aku berpikir kata mana yang salah ku ucapkan.


 


"Eh! ma-maksud ku pangeran mahkota Volkov." ucapku meralat.


 


Duh! wajahku pasti merah padam, ini sangat memalukan.

__ADS_1


"Ehm, kesalahan penyebutan gelar bisa menjadi sangat fatal putri Orlov." ucap laki-laki di samping Aaron.


"Sudahlah Alden, lagipula kau juga sudah tahu kalau Anastasia adikku. Tidak usah terlalu formal." ucap Aaron.


"Tidak boleh pangeran, hanya yang mulia saja yang boleh memanggilmu begitu." jawab orang yang bernama Alden.


"Permisi, anda siapa?" tanyaku sopan.


Dia membetulkan dasinya.


"Nama saya Alden Russell, saya diangkat menjadi asisten pribadi pangeran untuk membantunya mengurus dokumen-dokumen penting." terangnya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Aaron.


Baruuuuu saja aku hendak menjawab, tapi Liana sudah mendahuluiku.


"Kami hendak melihat-lihat kebun. katanya bunga-bunga di sini sudah bermekaran."


"Oh kalau begitu kami pergi dulu agar tidak menggangu kalian." pamit Aaron kepada kami.


Kulihat wajah Liana, sepertinya dia kecewa Aaron pergi. Tapi sedetik kemudian wajahnya kembali cerah. Dasar wanita rubah.


"Sampai jumpa saat makan siang nanti kak Aaron."


Aaron hanya mengangguk menanggapi omongan Liana. Saat dia berjalan ke arah ku, aku mendekati dan berbisik di telinganya.


"Terimakasih untuk gaun tadi pagi, Natha menyukainya." bisikku.


Dia terkejut, tapi sedetik kemudian dia melemparkan senyum yang manis kepadaku. Aku tercengang, walaupun enggan mengakui.


Tapi senyuman miliki Aaron benar-benar membuat orang lain terhipnotis oleh Kharismanya. Berbeda dengan senyuman miliki Lorenzo yang kalem dan Brian yang konyol. Entahlah, senyuman miliki orang ini benar-benar membuat ku terpaku.


Aaron kembali berjalan, Alden yang berada di sampingnya melirikku sinis. Huh! masa bodoh, Aaron saja tidak masalah kok dia malah mempermasalahkan hal ini.


"Putri Anastasia." panggil Liana.


Aku menoleh.


"Apakah kau selalu bersikap seperti itu dengan kak Aaron?" tanyanya.


walaupun dia bertanya dengan wajah tersenyum tapi aku selalu merasa ada sesuatu yang aneh.


"Mengapa putri Liana bertanya hal seperti itu? Bukankah putri sudah tahu kalau aku dan kak Aaron sudah seperti saudara kandung."


"Tentu saja, aku hanya bertanya. Apa aku tidak boleh bertanya?"

__ADS_1


"Lalu apakah pertanyaan itu sangat penting bagi dirimu sehingga aku harus menjawabnya?"tanyaku balik dengan nada yang super ramah.


Ekspresinya mulai terlihat menahan marah. Sepertinya dia akan memarahiku. Tangannya terangkat, mungkin hendak menamparku. Tangannya meluncur ke arahku, akupun pasrah menunggu sebuah tamparan darinya.


__ADS_2