
"Tuan putri bagaimana dengan gaun ini?"tanya Eli sembari menyerahkan sebuah sketsa.
Hari ini aku berencana untuk memilih rancangan sebuah gaun yang akan aku pakai untuk acara pesta Aaron.
Undanganpun sudah di bagikan dan aku sedang bingung memilih bentuk gaun yang seperti apa untuk acara nanti.
"Eli, aku suka yang berwarna hijau itu."
"Baiklah kalau begitu kita akan memilih yang berwarna hijau."
Yes! akhirnya selesai juga. Aku segera pergi menuju kamarku dan membaringkan tubuh di kasur. Sungguh melelahkan sekali memakai gaun. Sudah besar, berat, panas lagi. Para wanita kerajaan memang hebat bisa tahan dengan baju besar ini. Huhuhu aku rindu dengan pakaianku dulu yang ringan dan simple.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Eli bergegas masuk ke dalam.
"Ya ampun, kenapa rambut tuan putri jadi berantakan begini."
Eli menarik paksa diriku. Dia menarikku ke arah meja rias lalu mulai menyisir rambutku.
"Ada apa sih Eli?"tanyaku.
"Rombongan dari kerajaan Selatan datang. Yang mulia Gavin dan raja Charlos akan melakukan sebuah kerja sama. Dan tuan putri di mintai tolong untuk mengajak pangeran Lorenzo berkeliling istana?"
__ADS_1
"Ya sudah beri riasan sedikit saja toh cuma berkeliling."
"Tidak boleh, putri dari kerajaan Timur harus tetap tampil cantik."
Ya ampun! apakah seoramg putri tidak boleh beristirahat dulu. Aku sangat capek, apa tidak bisa pelayan yang menemani berkeliling(ya kali kalau pelayan boleh nemenin pangeran).
***
Rombongan dari kerajaan Selatan telah tiba. Kami menyambut mereka dengan ramah. Ayah dan raja Carlos segera memulai diskusi mereka tentang bisnis. Sementara aku menemani pangeran Lorenzo berkeliling.
"Di sini adalah aula utama dan jika kita berjalan ke sini maka kita akan menemukan taman bunga yang di dominasi oleh bunga mawar."aku mulai menjelaskan beberapa ruangan di istana.
"Nah ini taman bunga nya."
"Oh bagaimana kalau kita ngobrol sambil minum teh?"tanyaku.
"Tentu."jawabnya mengiyakan.
Akupun menyuruh pelayan untuk membuat teh dan membawakan beberapa kue. Awalnya situasi benar-benar hening. Aku sudah tidak punya topik yang bisa di bahas. Tapi tiba-tiba Lorenzo memulai percakapan duluan. Akhirnya kami bisa berbincang hingga teh di hantarkan.
"Mm bagaiman rasanya menjadi pangeran mahkota, pangeran?"tanyaku.
__ADS_1
"Tidak usah berbicara formal kepadaku. Toh umur kita juga tidak terpaut terlalu jauh. Panggil aku Lorenzo saja."
"Eh i..iya Lorenzo."
"Hm rasanya menjadi pangeran mahkota sangat menyebalkan. Harus mengurusi ini itu, merepotkan sekali."gerutunya.
Eh, baru kali ini aku lihat Lorenzo menggerutu. Tapi lucu juga sih, orang yang kelihatannya selalu tenang dan dingin ternyata di belakang suka menggerutu.
"Oh begitu ya. Lalu seberapa dekat kamu dengan Brian?"tanyaku
"Kenapa kamu menanyakan soal dia?" jawab Lorenzo yang malah bertanya kepadaku. Jawab aja kenapa? huh.
"Tanya saja tidak boleh?"
"Hmm boleh. Aku tidak terlalu dekat dengannya, kami hanya sebatas teman dari kecil."(itu mah deket banget)
Akupun mengangguk mendengar jawabannya, yeah walau agak gereget juga. Tak terasa hari sudah mulai sore dan pertemuan telah selesai. Raja Carlos dan Lorenzo undur diri.
Aku juga segera pergi setelah memberi hormat pada ayah dan ibuku. Aku ingin segera mandi dan tidur. 5 hari lagi adalah hari ulang tahun Aaron. Aku sudah tidak sabar lagi.
Namun jika aku tahu apa yang akan terjadi di pesta nanti. Aku pasti tidak akan pernah ingin datang ke acara itu.
__ADS_1