
Wajah Brian sangat dekat dengan wajahku. Hei! apa laki-laki ini sudah gila.
"Wajahmu memerah, apa kamu sedang sakit?"
Aku melongo mendengar ucapannya. Apa benar wajahku memerah, ini sangat memalukan.
"A..aku ah! apa kamu mau mencoba kue coklat ini. Ini pasti enak sekali atau kue kering ini."ucapku gugup.
Akupun langsung memakan sepotong besar kue coklat. Aku tidak menyadari kalau mulutku belepotan kue coklat. Brian mengusap krim coklat yang berada di sudut bibirku. Badanku kaku seketika.
"Apakah tuan putri tidak bisa makan dengan benar, sampai-sampai ada coklat yang menempel di wajahmu."godanya.
"He..hei kau itu yang tidak bisa makan!"balasku ngegas.
Aku bangkit lalu pergi meninggalkannya. Masa bodoh dengan pangeran itu. Hari ini dia berhasil mengerjaiku. Awas saja akan aku balas nanti.
***
Srassshhh
Hujan turun dengan derasnya. Sepertinya keberuntungan sedang berada di pihakku. Pasalnya hari ini aku di undang ke kerajaan Utara. Semenjak kejadian beberapa hari lalu, aku masih ngambek dengan Brian. Dengan adanya hujan ini aku jadi punya alasan untuk tidak hadir.
Aku berjalan menuju perpustakaan pribadiku. Entah kenapa semenjak aku ada di sini aku sangat suka membaca. Selagi membaca aku masih memikirkan tentang Anastasia di mimpiku 2 hari lalu.
*Anastasia berlari meninggalkan Aaron sendirian. Dia sangat sedih dengan perkataan Aaron barusan. Aaron masih berdiri di sana.
__ADS_1
"Kamu bisa keluar sekarang."perintahnya.
Seseorang keluar dari balik tembok. Di wajahnya menampilkan kesedihan.
"Sampai kapan kamu mau membohonginya? kenapa tidak jujur saja."
"Aku tak bisa. Aku terlalu rendah untuknya."
"Kenapa? padahal suka padahal ingin melindung. Tapi kenapa menyakitinya lagi."
"Aku tidak mau dia tahu cukup kita berdua saja."
Orang yang di ajak bicara terdiam. Tangannya terkepal dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang di pikirkan Aaron.
Sementara Anastasia yang sedang berlari tak sengaja menabrak seseorang. Aku mengenalinya, pangeran paling menyebalkan yang pernah aku temui seumur hidupku.
"Anastasia! kenapa kamu menangis?"tanya Brian khawatir.
Eh! aku belum pernah melihat wajah Brian sekhawatir ini. Aku tak tahu kalau Brian juga dekat dengan Anastasia yang asli.
"A..aku tidak apa-apa. Hanya saja ada debu yang masuk ke mataku."jawab Anastasia sambil tersenyum palsu.
Brian menghela napas lelah. Dia menarik Anastasia kesuatu tempat.
"Kumohon berhenti mengejarnya. Kenapa tidak mau melirikku sedikit saja."ucap Brian sambil berjongkok.
__ADS_1
"Maaf."ucap Anastasia sambil menunduk tak berani menatap wajah Brian.
"Huh aku mengerti, tapi jika aku melihat dia menyakitimu lagi maka aku tak akan segan-segan memukulnya."
Brian memeluk tubuh kecil Anastasia. Di pelukannya Anastasia menangis hebat.*
Aku memandang ke arah jendela, hujan masih turun bahkan tambah lebat. Entah kenapa aku mulai membenci hujan ini.
"Puh."aku mendengus pelan.
"Sebenarnya hubungan Anastasia dengan Brian dan Aaron itu sejauh apa sih."
Aku bingung sendiri memikirkan itu. Ruangan di perpustakaan legang. Tentu saja karena ini perpustakaan pribadiku, jadi hanya ayah, ibu dan orang yang mendapat izin dariku yang bisa masuk. Kalau di pikir-pikir sepi juga dan sedikit menakutkan.
Ku tutup buku yang sedang ku baca. Aku ingin segera kembali ke kamarku yang paling nyaman. Setibanya di sana Eli menyambutku dengan senyum hangatnya. kalau di pikir-pikir seharusnya Eli sudah bisa menikah entah kenapa tidak mau menikah dulu.
"Eli tolong buatkan aku secangkir teh ya. Jangan terlalu manis."
Aku duduk di sofa, sebentar lagi hari ulang tahun Aaron pokoknya aku harus merancang suatu siasat agar dia bisa memaafkanku. Sudah cukup dia mengacuhkanku, bukankah dia sangat keterlaluan.
Tak berapa lama Eli datang membawa nampan berisi teh.
"Eli besok panggil perancang busana terbaik."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Bukankah kakakku sebentar lagi akan berulang tahun, jadi aku harus tampil cantik di acara nanti."
He he lihat saja nanti kakak Aaronku. Kamu akan aku kasih hadiah terbaik.