Apa! Aku Seorang Putri

Apa! Aku Seorang Putri
Chapter 5


__ADS_3

Suasana hatiku sedang buruk, penyebab utamanya adalah laki- laki yang sekarang berada di sampingku.


"Hei, katamu ini jalan yang benar."ucapku menggerutu.


"Kayaknya memang benar kok lewat sebelah kanan terus baru ke kiri. Hm, apa aku keliru ya."ucap Brian yang membuatku semakin kesal padanya.


Sepertinya dari tadi aku hanya berputar-putar saja deh. Haish, kalau bukan karena mengikuti kata-katanya tadi mungkin sekarang aku sudah bisa keluar. Tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu dan menyebabkan aku kembali terjatuh. Aku sudah tidak tahan lagi, aku ingin keluar dari taman labirin sialan ini.


"Apakah kamu tidak apa-apa?"tanyanya


Hah! apa dia tidak bisa melihat kalau aku sedang ada apa-apa.


"Hiiiih! seharusnya aku tidak mendengrkan kata-katamu. Kamu membuat kita semakin tersesat saja."ucapku kesal.


Dia kaget dengan ucapanku, huh masa bodoh dengan etika. Salah sendiri yang membuat diriku kesal.


"Apa! kamu kaget dengan ucapanku. Jangan mentang-mentang kamu lebih tua dariku jadi aku harus takut dengnmu."


Brian memang lebih tua setahun dariku, tapi mau gimana lagi akunya udah terlanjur kesal.


"Anastasia itu"


"Apanya yang itu! sudahlah aku mau cari jalan sendiri"


"Tapi itu."


"Nggak usah pakai tapi-tapian aku tetap akan pergi."

__ADS_1


"Tapi prajurit sedang mencari kita."


Aku terkejut dan berbalik badan. Benar saja ada 2 prajurit yang menemukan kita.


"Tuan putri dan tuan pangeran, kami mencari anda. Kami mendapat laporan bahwa kalian berdua masuk ke dalam labirin dan tidak keluar-keluar. Orang yang melapor takut kalian berdua tersesat."ucap salah satu prajurit.


Akupun menahan malu di depan Brian. Sepertinya dia sedang menertawakanku. Aaaah, pangeran Brian awas kamu.


 


***


 


Akhirnya aku sampai di kerajaan timur pada malam hari. Hari ini sungguh hari yang melelahkan dan paling memalukan. Biasanya aku tidak pernah sejengkel itu, tapi entah kenapa dengan pangeran utara itu. Sepertinya dia mempumyai kemampuan membuat orang lain jengkel. Aku harus lebih bersabar dengannya lain kali.


Tidak boleh ada yang tahu kalau aku memiliki perangai yang buruk. Aku harus menutup mulutnya dengan apapun. Aku harus bertemu secepatnya dengan pangeran itu.


"Eli! tolong ambilkan sebuah kertas dan pena."panggilku.


Pokoknya harus bertemu.


 


***


 

__ADS_1


Hari ini adalah hari dimana aku mengundang pangeran Brian ke istana. Aku sangat kesal karena ayah dan ibu menggodaku tadi.


Flashback


Aku bersiap turun kebawah untuk memberi salam pada pangeran Brian. Hah! itukan ayah dan ibu. Katanya mereka akan pergi mengurus sesuatu selama beberapa hari, tapi kok masih disini. Jangan-jangan mereka baru mau berangkat. Aduh! jangan sampai bertemu pangeran sialan itu.


Baru saja aku memikirkan hal itu. Malah Brian sudah bertemu dengan ayah dan ibu. Brian memberi salam kepada ayah dan ibu. Aku segera menghampiri Brian, aku takut dia berbicara sembarangan kepada ayah.


"Salam hormat untuk ayah dan ibu."ucapku memberi salam.


" Aku tidak pernah ingat kapan kamu berkenalan dengan pangeran muda ini."


"E..aku berkenalan dengannya saat di pesta kemarin."jawabku gugup.


"Aku rasa kita jangan mengganggu dua anak muda ini yang mulia. Biarkan mereka mengobrol berdua dulu."ucap ibuku. Ada sedikit nada menggoda di kalimatnya.


Di sampingku pangeran sialan ini sepertinya sedang tertawa mengejekku.


"I..ibu pasti salah paham, kami hanya teman kok." aku mencoba mengelak namun sepertinya ibu tidak percaya.


"Iya iya kami tidak akan mengganggu. Kami berdua akan segera pergi."


Ayah dan ibupun pergi berlalu, sementara aku melirik sinis Brian.


Flashback selesai


Dan sekarang, pangeran sialan itu sudah berada di depanku. Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan secara perlahan.

__ADS_1


"Oke, kita langsung ke intinya saja."aku memulai pembicaraan. Pandangan kami beradu satu sama lain. Pembicaraan yang serius dengan sikap yang serius. Tapi berbeda denganku, pangeran itu malah terlihat santai. Dasar gila.


__ADS_2