Apa! Aku Seorang Putri

Apa! Aku Seorang Putri
Chapter 18


__ADS_3

Sebal! beberapa hari ini entah kenapa aku selalu merasa kesal. Entah kenapa setelah pulang dari kerajaan Volkov, Ayah dan ibuku selalu menyuruhku berbincang dengan beberapa bangsawan yang datang.


Hari ini sudah ada beberapa bangsawan yang datang ke istana untuk membayar pajak bulanan sekaligus memperkenalkan putra mereka.


"Anastasia, bagaimana kalau kamu berbincang-bincang dengan para putra bangsawan?"


Ya ampun papaku sayang, rasanya ingin menghilang saja.


"Emm, sepertinya tidak bisa ayahanda. Anastasia sudah ada janji dengan seseorang. Sekali lagi Anastasia mohon maaf."tolakku halus.


Ayah nampaknya kecewa, tapi dia tetap mengijinkan aku untuk undur diri. Aku segera pergi dan masuk ke dalam kamarku. Eli kusuruh menyiapkan sebuah gaun yang akan kugunakan untuk pergi ke luar. Sebenarnya sih aku tidak punya janji dengan siapapun. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu saja cara agar aku bisa terbebas dari sini.


***


Gaun sudah rapi, topipun sudah terpasang, dan sarung tanganpun sudah ku pakai. Yap, semuanya sudah lengkap dan tinggal pergi saja. Aku keluar dan berjalan menuju gerbang depan. 2 kesatria penjaga membukakan gerbang untukku. Di sana sudah ada sebuah kereta kuda yang disiapkan untukku.


"Antarkan saya menuju kerajaan Selatan."titahku kepada kusir.


Aku naik duluan sementara Eli mengekor di belakang. Kereta mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Oh iya, kereta kuda milik kerajaan adalah kereta kuda ternyaman, karena kereta kuda memiliki beberapa tipe yang tergantung pada status orang tersebut.


Seperti kereta kuda yang dimiliki oleh rakyat biasa cenderung lebih kecil dan sederhana. Tidak tahan terhadap goncangan dan tempat untuk duduknya terbuat dari kayu.


Sementara milik para bangsawan lebih bagus dan lebih besar, tergantung bangsawan tingkat apa. Dan milik keluarga kerajaan adalah kereta kuda paling sempurna. Memiliki bentuk dan desain yang mewah. Tahan terhadap goncangan dan memiliki tempat duduk yang empuk.


Ngomong-ngomong aku datang ke kerajaan Selatan hanya ingin menemui Lorenzo. Beberapa hari yang lalu aku mengiriminya surat tentang aku yang hendak berkunjung ke sana. Jadi intinya, akulah yang membuat janji dengan seseorang.

__ADS_1


Aku mengambil sesuatu dari dalam kantong. Sebuah saputangan dengan sulaman yang berbentuk bunga mawar yang entah bisa disebut bunga mawar atau bunga layu.


"Huh." aku menghela napas pelan.


Eli yang melihat raut wajahku murung langsung bertanya.


"Apakah tuan putri baik-baik saja?" tanya Eli.


Kutatap wajahnya sebentar lalu menunduk.


"Tidak apa-apa Eli, tidak usah kau pikirkan."jawabku.


Eli nampaknya tidak puas dengan jawabanku. Itu terlihat dari ekspresinya.


"Putri."


"Kenapa anda keluar tidak membawa kesatria untuk melindungi anda?" tanyanya.


"Ah! ku pikir jika aku membawa kesatria itu akan merepotkan. Hahaha." jawabku dengan tawa yang terkesan dipaksakan.


Setelah percakapan singkat kami, suasana kembali hening. Eli tidak berani menanyakan pertanyaan lagi karena sungkan, sementara aku diam sambil memikirkan sesuatu.


Kreet kreet kreet


Eh! suara apa itu? entah kenapa aku memiliki firasat buruk. Kulihat sepertinya Eli juga merasakannya.

__ADS_1


"Levi, apakah ada masalah dengan keretanya?" tanyaku.


"Tidak ada masalah apa-apa putri." jawabnya.


Meskipun Levi -kusirku- mengatakan tidak ada masalah apapun, tapi rasanya ada sesuatu yang salah. Eli sepertinya sependapat denganku.


Tunggu! apa ini adalah jebakan yang sama dengan salah satu cerita yang pernah ku baca. Tentang pemeran utama wanita yang dicelakai oleh pemeran antagonis dengan cara merusak kereta kuda miliknya. Huh kalau benar ini tidak bisa dimaafkan.


***


Akhirnya aku sampai di kerajaan Selatan. Duh, sepertinya aku mabuk perjalanan. Kepalaku pusing dan rasanya ingin muntah.


"Putri, apakah anda baik-baik saja?" tanya Eli yang melihat wajahku pucat.


"Ah, aku baik-baik saja."


Aku segera masuk ke dalam istana. Di sana, Lorenzo telah menungguku di pintu teras.


"Ah! kau tidak perlu repot-repot untuk menyambutku."


"Tidak apa-apa, kedatangan putri Orlov adalah sebuah kehormatan bagi kerajaan Selatan." jawabnya sembari memberikan sebuah senyuman hangat.


"Terimakasih."


Lorenzo mengantarku ke sebuah ruangan, mungkin ruangan untuk tamu. Saat Lorenzo membukakan pintunya, di dalam sana ada satu sosok yang sepertinya familiar. Sosok itu menoleh, dan betapa terkejutnya aku melihat sosok itu.

__ADS_1


"Hai." sapanya tanpa beban.


Sementar aku masih mematung karenanya.


__ADS_2