Apa! Aku Seorang Putri

Apa! Aku Seorang Putri
Chapter 20


__ADS_3

"Apa yang terjadi?!"


"Ah, tidak kok. Hanya seekor semut kecil saja." jawabku sambil menunjuk kusir itu.


"Bicaralah! Kau ingin membunuhku bukan?!!" bentakku lagi.


Levi diam membisu. Baiklah, kesabaranku sudah habis. Jangan salahkan aku jika aku akan menyiksamu dengan kejam.


Ku injak jari tangan yang satu menggunakan sepatu hak tinggi. Ouch! pasti sangat sakit. Levi mengerang kesakitan. Ku injak semakin kuat, kita lihat sampai kapan kau akan bertahan.


"Aku rasa lebih baik dia diintrogasi secara hukum saja. Bagaimana kalau dia bukan pelakunya?" Saran Lorenzo.


"Tidak mungkin! kalau dia bukan pelakunya. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari kalau sedari tadi kereta kudaku selalu tergoncang di jalan menuju ke sini." tolakku.


Lorenzo terdiam, mungkin meng-iya-kan ucapanku. Sementara Brian masih mengamati di belakangku. Aku mengangkat kakiku, ditangannya terbentuk sebuah bekas luka yang cukup menyakitkan.


"Lorenzo!!" panggilku


"Ya."


"Di kerajaanmu, apa hukuman bagi orang yang mencoba mencelakai keluarga kerajaan?"


"Eh! i..itu, di penggal kepalanya.


"Hm, baik kalau begitu. Masukkan dia ke dalam penjara, interogasi sampai mau mengaku. Jika tidak mau mengaku siksa dia sampai merasakan 'hidup segan matipun tak mau'. "


Lorenzo dan Brian terkejut. Mungkin mereka heran dengan sikapku. Sebenarnya dulu saat aku masih menjadi Viona aku terus menerus tersiksa dengan keadaan hingga membuatku menjadi seorang yang mudah emosian dan pemarah.


"Sudahlah, kau tak perlu repot-repot mengurusnya. Biar aku saja yang menginterogasinya. Aku pastikan kau akan puas dengan hasilnya." ucap Brian yang baru saja berbicara.


Ku lihat ekspresi wajahnya yang serius. Tidak pernah ku dapati Brian berbicara dengan ekspresi itu. Membuat pesonanya sedikit lebih tampan. Tapi sedikit tampan saja, tidak lebih. Tapi ekspresinya membuatku sedikit salah tingkah.


"Ka...kalau begitu k..ku serahkan kepadamu."

__ADS_1


Brian mengangguk sementara Lorenzo memanggil pengawal yang sedari tadi diam mengamati. Mungkin mereka takut mendekat he he. Hah, sepertinya aku akan menginap di sini dulu sampai kereta baruku datang.


...****************...


Suara kicauan burung terdengar merdu di telinga. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Apa benar tidak perlu ku antara?" ucap Lorenzo untuk yang ke-5 kalinya.


"Ah, sudah aku bilang aku tidak apa-apa."


"Ya, kau tenang saja, kan ada aku di sini."balas Brian.


"Cih, apa kau tidak kapok. Semalam aku mendapatkan surat dari kerajaan Utara, dan isinya adalah untuk menyuruhmu segera pulang ke Utara."


"Ah! apa kau tidak bisa berpura-pura kalau aku tidak ada di sini."


"Untuk apa berpura-pura untukmu."


"STOP!!! udah, mending kalian pulang ke rumah masing-masing! Sementara aku dan Eli pulang ke rumah kami. PAHAM!!!" ucapku yang memberikan ceramah kepada 2 Pangerang.


"Enggak." jawab mereka serempak seperti tanpa beban.


"Shitttt!!!!!" umpatku dalam hati.


Ugh, sabar Viona. Viona sabar nanti disayang orang ganteng. Huft.


"Yasudah, kami pergi dulu ya. Sampai jumpa lagi."


"Sampai jumpa kembali." jawab mereka hampir bersamaan.


Aku masuk duluan, kemudian Eli menyusulku. Ah, akhirnya tenang, tanpa ada gangguan dari Brian bodoh. Eli diam menunduk, ugh, aku sangat menyayangi dayangku ini.


Aku menyuruh Eli untuk bersikap biasa saja saat hanya ada kami berdua, tapi dia menolaknya. Menurutnya, meskipun kita sudah dekat tapi kedudukannya dan aku tetap saja berbeda.

__ADS_1


"Oh iya Eli, apakah aku boleh bertanya?" tanyaku menunggu persetujuan.


"Tentu saja tuan putri." jawab Eli.


"Apa kerajaan di luar pulau ini dulu bersahabat?"


"Emmm bagaimana ya cara menjelaskannya."


"Ah! begini tuan putri, dahulu kita masih menggunakan hukum rimba. Anda pasti tahu maksud saya. Nah pada saat itu ada seorang raja yang menguasai seluruh daratan ini. Dia dikenal kejam dan sangat ambisius.


Nah karena ambisinya yang kuat, membuat dirinya mengalahkan seluruh kerajaan didaratan ini. Bahkan di luar daratanpun raja kejam itu dapat menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di sekitar. Nah entah berkah atau sebuah mukjizat, raja itu dikalahkan oleh seorang perempuan. Kami mempercayainya sebagai Dewi pelindung.


Setelah sang Dewi berhasil menaklukkan raja itu, akhirnya 4 kerajaanpun mulai berdiri. Nah, 4 kerajaan itu adalah kerajaan yang ada di daratan ini sekarang." terang Eli panjang lebar.


"Owh."


"Ah! ada satu hal lagi. Sebelum mati, raja itu bersumpah kalau dia akan kembali dan merebut apa yang dimilikinya dulu."


"Ih, kok gitu."


"Yah itu adalah sebuah sejarah. Semoga saja sumpah sang raja tidak pernah terkabul."


"Yah semoga saja."


Bohong jika aku tidak kepikiran. Aku memang telah mempelajari sejarah berdirinya 4 kerajaan di daratan ini. Namun aku belum pernah mendengar cerita Eli. Mengapa aku tidak pernah diberi tahu. Apakah guru sejarah melupakan sejarah itu. Ah! tidur saja.


Baru saja aku hendak tidur, tiba-tiba kereta berhenti mendadak. Membuat kepalaku membentur kursi.


"Ada apa ini?"


"Hahahaha, jika kalian ingin selamat, maka berikan harta kalian kepeda kami!!!"


Eh itu suara siapa? aku melihat keluar dari jendela. Di depan kami ada 2 orang laki-laki yang menghadang jalan. Pakaian mereka lusuh sekali seperti tidak pernah diganti. Tunggu!? melihat pakaian dan cara bicara mereka, jangan-jangan mereka....

__ADS_1


__ADS_2