Apakah Bahagia

Apakah Bahagia
sakit


__ADS_3

"Lo ngapain disini?.." tanya hana yang masih begitu terkejut.


Raka adalah salah satu teman hana sewaktu berada di sekolah dasar. Memang dibilang, dulu mereka tidak terlalu akrab. Bahkan jarang dekat karna dulu hana lebih bergaul pada teman teman perempuannya. Tetapi ini sungguh aneh kenapa raka bisa berada disini.


Kini keduanya tengah duduk di sofa ruang BP dengan bertatapan muka yang masih begitu terkejut. Kini keduanya berusaha untuk merilekskan diri agar obrolan mereka dapat tercerna dengan baik.


"Maaf gue dateng kesini dan ganggu lo, tapi gue cuman mau ngasih ini ke lo.." kata raka yang sedang membawa bungkusan berbentuk persegi.


"Apa ini?.." hana yang kebingungan mencoba untuk menerima bungkusan itu.


"Buka aja.." suruh raka.


Hana membuka bingkisan berbentuk persegi itu dengan hati hati. Lalu ia terkejut melihat isi dari bingkisan yang diberikan kepada raka, teman sekolah dasarnya.


"Kalung?.." jawab hana terkejut.


"Iya.." jawab raka dengan tersenyum.


"Berbentuk R.." kata hana lagi.


"Maksudnya huruf R ini lo?.." tanya hana.

__ADS_1


Raka pun tidak menjawab pertanyaan dari hana, ia hanya segera mengambil kalung itu dan memasangkan kalung berbentuk R itu di leher hana.


"Gue mohon sama lo, dalam situasi apapun dan dimanapun lo, tolong tetep pakai kalung itu.." pinta raka.


Kini kedua remaja itu hanya bisa menatap satu sama lain dengan pikiran yang berbeda beda. Hana hanya bisa kebingungan dengan maksud raka, sedangkan raka yang memberikan kalung itu hanya bisa tersenyum.


"Gue harus pergi.." raka segera bergegas meninggalkan hana sendiri di ruang BP tanpa ada kata sepatah pun keluar dari mulut raka.


***


Kini hana berjalan kembali menuju kelasnya, ia masih dalam keadaan kebingungan ketika mendapati raka berada di sekolahnya dan memberikan sebuah kalung berbentuk R itu kepada hana dan setelah itu pergi.


"Maksudnya raka apa sih?.." hana yang berjalan melewati koridor pun terus saja mengingat kejadian aneh tadi.


Hana yang merasa kesakitan seperti mengingat sesuatu di dalam ingatan, ia pun bergegas menuju toilet sekolah. Ia berusaha berjalan dengan cepat dan terus mengingat kejadian yang tak pernah dialami oleh hana sebelumnya.


"Gue harus pergi dari sini, harus.." suara laki laki itu terus saja tergiang hebat di ingatan hana.


"Gue harus pergi dari sini, harus.."


Kejadian demi kejadian terus saja bergentanyangan hebat di dalam ingatan hana. Hana yang merasa kesakitan pun berusaha untuk mengedalikan apa yang terjadi pada tubuhnya begitu juga dengan ingatan yang tak pernah terjadi sebelumnya.

__ADS_1


"Han, lo ga papa?.." tanya selvi yang tiba tiba berada di toilet sekolah, melihat hana kesakitan.


"Sel.." dengan berusaha sekuat tenaga ahkirnya sakit itu mulai hilang.


"Lo kenapa? Sakit?.." tanya selvi khawatir.


"Engga kok, engga papa.." jawaban bohong hana.


"Lo kok disini? Bukannya tadi dipanggil BP?.." tanya selvi.


"Iya, terus ke toilet.." jawab hana lagi.


"Yaudah, yuk ke kelas.." ajak selvi.


***


Sesuai janji, kini hana dan revan mulai pulang bersama menuju taman terdekat agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama tanpa diganggu oleh siapapun.


"Siap?.." tanya revan pada hana yang berjalan bersama dengan bergandengan tangan.


"Siap.." jawab hana dengan tersenyum.

__ADS_1


Keduanya berjalan bersama dan bergandengan bersama. Dengan tatapan tatapan yang tidak dapat diartikan ketika mereka berjalan di antara teman teman dan siswa siswi disana.


__ADS_2