Apakah Bahagia

Apakah Bahagia
bab 2


__ADS_3

liana sedang berjalan jalan di sebuah mall, ia sedang mencari beberapa keperluan untuk anaknya nanti. dengan perut besar liana mencari toko yang menjual beberapa pakaian, perlengkapan untuk anaknya nanti. ia dengan senang memilih dan mencari sembari mengelus pelan bayi yang ada di kandungannya, ia mencari beberapa botol dot dan pakaian yang akan dipakai bayi perempuan yang ada di kandungan liana. ia sangat senang ketika bisa mencari beberapa pakaian yang cocok untuk anaknya nanti.


" terima kasih kak sudah berbelanja di toko kami.." liana menunduk tanda ucapan terima kasih pada kasir, ia meninggalkan toko dengan menutup pintu toko tetapi langkahnya berhenti ketika ia melihat sepasang suami istri yang juga ingin menghampiri toko tersebut. laki laki tubuh tegap yang liana kenal dan seorang perempuan yang juga sedang mengandung. liana terdiam sejenak menatap kedua pasangan tersebut.


" kamu juga belanja disini, aku baru aja mau belanja iya kan sayang.." perempuan itu mencoba menjernihkan suasana.


" kamu gak lupa sama aku kan.." perempuan itu dengan tersenyum menyambut liana denngan hangat.


" aku karin.." lanjut perempuan yang bernama karin tersebut.


" iya silahkan, aku duluan.." liana yang tidak bisa bicara apapun ia mencoba untuk pamit meninggalkan mereka.


" liana.." panggil erwin, ia adalah mantan suami liana.


" bisa bicara sebentar,"


erwin membiarkan istrinya masuk duluan agar dia bisa bicara dengan liana, berdua saja. kini suasana toko begitu ramai, banyak pengujung berjalan melewati liana dan erwin, kini hadapan liana adalah erwin, begitu juga sebaliknya. mereka saling bertatapan, tatapan mata mereka benar benar tak bisa lagi dimengerti oleh beberapa orang yang memperhatikan mereka. mereka punya masa lalu cukup rumit yang tak bisa dijelaskan oleh siapapun, kehidupan yang seharusnya dapat dijalani bersama sektika kandas begitu saja tanpa memperhatikan hati masing masing.


hanya liana saja yang tahu arti tatapan erwin begitu juga erwin. mereka berdua masih saja saling bertatapan tanpa bicara satu katapun. liana tak tahu harus mulai bicara darimana, sedangkan ia tak tahu erwin ingin bicara apa dengannya. ingatan memori yang kembali hadir diingatan liana kini mulai menghantui liana, erwin pun pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hubungannya dengan liana di masa lalu.


liana menocba mencari dokumen yang disuruh oleh erwin di ruang kerja erwin. ia membuka beberapa laci meja kerja erwin dan mulai mencarinya tetapi ada satu foto yang membuat liana berhenti untuk mencari dokumen. ia mengambil foto tersebut yang tampak sangat di sengaja disembunyikan oleh erwin. foto itu membuat liana diam, ia melihat foto itu ada dua anak kecil yang sedang berfoto bersama anak laki laki dan anak perempuan yang sangat lucu sekali. mereka merangkul satu sama lain, liana diam sektika anak laki laki ini mungkin adalah erwin tetapi siapa anak perempuan ini.


" liana.." melihat itu erwin merebut foto yang ada di genggaman liana.


" perempuan itu,"


" siapa perempuan yang ada di foto itu.." lanjut liana.

__ADS_1


" hanya.." erwin terlihat panik.


" teman..hanya teman masa kecil.." lanjut erwin.


" aku harus ke kantor.." erwin pergi.


liana yang kebingungan kembali ke kamar dan mencoba untuk tidak memikirkan hal hal aneh. itu hanya sebuah foto seorang anak laki laki dan anak perempuan kenapa harus dipikirkan. namun jujur, ini membuat liana tak tenang tetapi ia mencoba menepis semua ingatan gilanya dari pikirannya dan mencoba melakukan hal hal lain yang dapat melupakan hal tersebut, ia mencoba membereskan rumah, ia bahkan memasak dan melakukan hal lain yang dapar menyibukkan dirinya. tiba tiba paket datang.


" atas nama erwin prasetyo.."


" saya istrinya.."


" silahkan tandatangan disini.."


liana mengambil paket tersebut dan segera masuk ke dalam rumah. ia mencoba membuka paket tersebut. sebuah album foto bertuliskan " dari belahan jiwamu " dengan memberikan emoticon berbentuk hati berwarna merah. liana mencoba membuka album foto tersebut. seorang anak perempuan yang ada di di laci ruang kerja erwin, kini ada di album foto tersebut. liana terkejut perempuan ini tampak sangat akrab dengan erwin bahkan ia selalu memeluk, menggenggam tangan, bahkan saling merangkul satu sama lain tanpa sungkan. keduanya tampak sangat bahagia semasa kecil, ketika ada di belik setelahnya, liana melihat bahwa kini anak perempuan tersebut telah tumbuh bersama dengan erwin. dari sekolah dasar bahkan sampai mereka ada di jenjang ahkir di sekolah tetapi setelah itu tidak ada, album fotonya habis.


" kenapa duduk disini.."


" ayo masuk, aku lapar banget.." erwin melihat album foto yang digenggam liana.


" album foto.."


" ini foto pernikahan kita udah dateng.." erwin membuka album foto itu, lalu dengan segera dia langsung menutupnya dan terlihat sangat tegang.


" ini siapa.."


"  bukan siapa siapa, ini teman lama.."

__ADS_1


" teman lama, kamu gak lihat siapa penerimanya, belahan jiwa.."


" kenapa kamu kelihatan sangat cemas dan ketakutan ketika aku tahu tetang perempuan ini..."


" siapa dia.."


" kamu cuman cemburu aja sayang, ini mainan anak kecil dulu.."


perkataan erwin membuat liana diam, awalnya ia berpikir bahwa mungkin ini adalah peraminan anak kecil yang tidak tahu apa apa. liana dan erwin masuk ke dalam rumah. tetapi wajah liana masih saja termenung dan tak habis pikir siapa perempuan itu.


satu memori itu muncul dan itu adalah akar dari perceraian yang terjadi di kehidupan liana bersama erwin. liana dan erwin yang masih saja diam dan saling bertatapan tetapi sekarang air mata liana tak terbendung melihat laki laki yang ada di hadapannya kini sudah menghkianati dan bahkan menutupi semua perasaan hati, pikiran bahkan seluruhnya. liana benar benar tidak mengenali eriwn sama sekali setalah kejadian itu.


" sayang.." panggil istri erwin, karin.


" udah belum ngobrolnya.."


" aku senang kalian bisa saling kenalin satu sama lain.." karin menggandeng tangan erwin.


" aku duluan ya, bye sampai ketemu lagi.." karin melambaikan tangannya dan meninggalkan liana.


liana yang masih diam di tempat tak bergeming sama sekali bahkan air mata yang tadi ia keluarkan telah mengering sesuai dengan berjalannya waktu, tak ada yang mengusap air matanya, tak ada yang bertanya apakah dia baik baik saja, tidak ada yang menemaninya seutuhnya sekarang, hanya bayi dalam kandungannya yang dapat menemani kesehariannya.


liana pulang dengan berjalan kaki, ia melewati gang sempit dan beberapa tetangga melihatnya dengan membawa beberapa belanjaan yang banyak juga perut yang sedikit kram akibat kelelahan, tetangga yang melihatnya hanya bergosip sesuka mereka tanpa tahu apa yang kini dirasakan liana sekarang. liana tak menghiraukannya, ia hanya berjalan di antara orang orang yang membicarakannya, tanpa tahu apa sebab dan permasalahan yang dihadapi oleh liana sekarang, kini ia masuk ke dalam rumah, air matanya menetes hebat ketika ia menutup pintu rumahnya dan tanpa sadar ia terduduk lemas di lantai.


 


 

__ADS_1


__ADS_2