Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )

Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )
Part 21 - Dia, siapa?


__ADS_3

Aku mendekat ke arah Tasya yang terlihat sudah jauh lebih tenang. Aku menangis sambil menatapnya dan Tasya menggeleng kepada seakan meminta agar aku tidak menangis.


Mulut Tasya di sumpal agar tidak teriak-teriak. Perih rasanya hatiku. Aku duduk di samping bibir ranjang rumah sakit.


"Tasya. Aku harap kamu segera pulih dan bisa menceritakan tentang apa yang terjadi. Kami sangat ingin tahu kebenarannya." Aku bicara kepada Tasya tanpa menatap wajahnya.


Aku tak kuasa bicara jika menatapnya. Pilu di hati ini terus menusuk. Leon yang ada di sampingku mengusap punggungku. Sedangkan kedua orang tuaku terlihat sedang berbincang dan menenangkan kedua orang tua sahabat kami.


"Tasya, kami percaya kamu adalah sosok wanita yang kuat. Aku dan teman-teman percaya kamu bisa bangkit dari kondisi ini. Bangkitlah dan kembali berkumpul dengan kami." Leon bicara kepada Tasya.


Tasya ternyata merespon perkataan Leon. Dia mengangguk sambil mengeluarkan air matanya.


"Tasya, jika saat ini kamu masih belum bisa cerita. Jangan di paksakan. Dan kamu harus ingat. Mereka berdua adalah kedua orang tuamu yang akan selalu menjaga dan melindungimu. kami juga akan selalu menjadi temanmu apapun yang akan terjadi kedepannya." Agus mulai angkat bicara.


Agus mungkin diantara kami yang cukup kuat dengan keadaan ini. dia bahkan tidak terlihat menangis sedikitpun. Leon masih berkaca-kaca meski tidak larut dalam kesedihan. Namun, Agus sama sekali tidak mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Tasya, kami harap kamu bisa segera lekas sembuh. Kami ingin kembali berkumpul denganmu. Bercanda tawa denganmu. Bermain tebak kata dan bermain tebak peran. Itu adalah permainan yang paling kamu suka." Leon kembali berbicara kepada Tasya.


aku bangkit dari duduk dan akan berpamitan kepada Tasya. "Kamu semua pulang dulu. besok jika ada waktu aku akan kembali menjenguk mu."


Aku berdiri tegap dan mengusap wajah Tasya agar dia lebih tenang. Tasya menggerakkan kedua kakinya dan kedua tangannya. dia seakan ingin ikatannya dilepaskan. sedangkan kami tidak punya kunci borgolnya.


"Tasya tenanglah. jika kamu tenang, mama akan membuka kunci mulutmu." ujar mamanya ketika mendengar kamu akan berpamitan.


Tasya mengangguk seketika. Dia mengerti maksud mamanya. dan mamanya membukakan sumpalan di mulutnya.


Aku mengusap bagian belakang tubuh mamanya Tasya. aku sendiri saja tak kuasa melihatnya. bagaimana orang tuanya. yang sudah pasti hatinya saat ini sedang hancur berkeping-keping. Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat kondisi putrinya yang begitu memprihatinkan ditambah lagi jiwanya sedikit terguncang.


"Ma-mama." Tasya memanggil mamanya. dan mama Tasya mengangguk pelan.


"Kamu harus kuat. kamu harus sembuh. lihat teman-temanmu sangat rindu dengan keceriaan dirimu. mama dan papa akan selalu menjagamu."

__ADS_1


Aku lihat mama dari sahabatku menangis terisak dan Tasya juga ikut menangis menyaksikan kepikunan yang di sajikan oleh mamanya.


"Mah, jangan menangis di depan anak kita. itu akan membuatnya lemah dan tidak bersemangat." Ujar papa dari Tasya.


Benar kata papanya Tasya. kita semua tidak seharusnya menangis dan karena bisa jadi itu melemahkan Tasya. seharusnya kita memberikan kesan bahagia untuknya agar bisa segera pulih.


"Tante, om. Kami izin pulang." Aku menyalami kedua orang tua Tasya.


Aku dan teman-teman berjalan ke arah pintu ruangan.


"Di ... di ... dia. Te ... teman. Ki ... Ki... Aaaaaaaaaaaa" Teriak Tasya.


Aku dengar kata-katanya sebelum Tasya berteriak. Dia seperti ingin memberi tahukan sesuatu.


Tasya segeralah pulih. Aku ingin kamu menceritakan semuanya kepada kami.

__ADS_1


__ADS_2