Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )

Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )
Part 34 - Suasana semakin mencekam


__ADS_3

Adit kembali mencambuk tubuh Agus dengan sangat bringas dan tanpa ampun. Lenguhan kesakitan terlontar dengan jelas bersahutan dengan suara bunyi cambukan.


Aku semakin menangis dan tak bisa lagi menyaksikan keganasan ini. Semakin malam, Adit semakin tidak terkontrol emosinya. Dia sudah seperti orang yang kerasukan setan saja.


saat Adit mendekat ke Agus. Tiba-tiba terdengar suara nada dering dari dalam tasku. Pasti itu Leon yang menghubungiku dan aku berharap Leon berhasil menemukan tempat ini. karena memang aku tadi mengirimkan lokasi tepat di depan gang ruko. aku terburu-buru untuk mengirimkan pesan sangking ketakutannya.


"Ambil ponselnya dan matikan. Jika perlu hancurkan saja. karena percuma ada ponselnya jika pemiliknya akan segera tiada."


"Adit aku mohon hentikan ini sekarang juga. Jika memang kamu masih ingin balas dendam. aku pikir semua ini sudah cukup. tinggal kita bawa saja Agus ke kantor polisi agar dia mendapatkan ganjaran atas perbuatannya kepada saudara-saudaramu."


Aku ingin sekali Adit menyadari kalau ini adalah hal yang salah. Membunuh orang sama saja dia dengan Agus.

__ADS_1


"Jika kamu seperti ini, apa bedanya kamu dengan Agus? kamu bahkan sudah membunuh dua orang dan mencelakai satu orang yaitu Tasya. Sekarang kamu menyiksa Agus dan aku di sini. bahkan berencana membunuh kami berdua. apa kamu tidak sadar. kalau kamu sama seperti mereka yang tidak memiliki hati nurani!" Aku berusaha mencari cara agar membuat Adit mengerti.


Hahahaha


Adit malah tertawa terbahak-bahak lagi. Bahkan kini suaranya begitu nyalang di telingaku. Aku sudah tidak sadarkan diri, tapi masih di siksa oleh mereka.


"Aku memang sudah kehilangan hati nurani. Aku sudah tidak memiliki rasa iba lagi. itu semua hal yang kalian ajarkan kepadaku. kalian yang memberi contoh bahwa aku tidak boleh memiliki rasa iba dan kebaikan sedikitpun kepada orang lain. Jadi kalian nikmati saja sekarang hal yang telah kalian contohkan kepadaku!"


"Adit, aku mohon. maafkan kami semua. aku mohon lepaskan kami dan berikan kami pengampunan mu." Aku bicara sambil menahan sakit yang teramat.


"Maaf? pengampunan? seharusnya kalian lakukan itu setelah melakukan hal yang mengerikan itu. bukan setelah dendam di hatiku semakin membesar karena melihat kalian semua tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun!"

__ADS_1


Aargh!


Adit semakin menarik kencang rambutku yang panjang. membuatku memekik kesakitan. Sungguh Adit sudah seperti kerasukan setan saja. Dia benar-benar tidak akan pernah memberikan ampun kepada kami semua.


Bagaimana kalau Leon datang kemari sendirian? apa yang akan Adit lakukan terhadap Leon nanti? pikiranku menjadi kacau sambil merasakan perihnya cengkraman Adit di rambutku.


"Haaah! kalian benar-benar membuatku semakin muak."


Adit menghempaskan kepalaku dengan kasar hingga kepala yang sudah terasa perih semakin perih karena mencium paksa tembok kamar kosong ini.


Aku hanya bisa menangis. aku pasrah, aku kini memikirkan kedua orang tuaku di rumah. sudah pasti mereka sedang mencemaskan diriku sekarang. Aku berharap siapapun untuk bisa menolongku. aku tidak mau kedua orang tuaku mengalami kesedihan yang sama seperti orang tua ketiga sahabatku.

__ADS_1


__ADS_2