
Leon yang mengetahui kalau sahabatnya sedang berada dalam bahaya langsung pergi untuk menyelamatkan mereka.
Leon selama perjalanan mencari keberadaan kedua sahabatnya itu terus merasa gelisah. sebab dia terlambat menyadari kalau ternyata Dita menghubunginya.
"aku takut mereka kenapa-kenapa. aku harap kita tidak terlalu lambat. aku berharap mereka selamat."
"Sudah kamu jangan terlalu berpikiran yang tidak-tidak. Abang yakin mereka akan bisa kita selamatkan. kita hanya telat membaca bukan tidak membacanya sama sekali."
Leon di temani oleh salah satu kerabatnya yang menjabat posisi sebagai polisi yang menangani tindak kejahatan kriminal.
"bang, apa hukumannya bagi mereka yang membunuh?" tanya Leon.
"sudah pasti hukuman mati juga. dia akan diadili lalu setelah mengaku maka hukuman mati yang akan menyambutnya." bang Ali menepuk pundak Leon.
"apa jika dia berkelit dan mengaku melakukan hal itu sebab untuk membuat orang yang mencelakai saudaranya jera apa mungkin dia akan mendapatkan keringanan hukuman?"tanya Leon yang masih sangat gusar.
__ADS_1
Leon mengingat kalau Adit adalah orang yang sukses dan bergelimang harta. sudah pasti dia bisa membeli hukum dengan uang.
"kamu tenang saja, kalau buktinya kuat dan ada saksi yang bisa memberatkan. sudah pasti dia tidak akan pernah bisa berkelit. meski sehebat dan sekaya apapun dia tidak akan bisa mengelabui masyarakat dan juga para pejabat di kepolisian." jelas bang Ali kepada Leon.
...****************...
Adit terlihat begitu puas karena dua orang yang ada di hadapannya saat ini sudah tidak bisa lagi berkutik.
"kalian memang benar-benar lemah! sekarang waktunya aku menikmati dan melihat akhir dari kisah kalian."
"apa perlu saya melakukannya bos?"tanya mereka kepada Adit.
"tidak perlu. karena ini adalah pesta saya bukan bagian kalian. kalian berjaga saja di depan. saya tidak mau ada orang yang mengganggu kesenangan saya malam ini."
Adit mengasah belati itu agar lebih tajam lagi. dia benar-benar seperti orang yang sudah kerasukan. dia tidak henti-hentinya ingin menyiksa kedua temannya.
__ADS_1
"aku mohon lepaskan. kalau kau melepaskan aku, akan aku pastikan kau mendapatkan apapun yang kau mau."
Agus mulai sadarkan diri dan sedikit bertenaga sehingga ia bisa berbicara dengan adit.
hahaha, Adit tertawa lepas. setelah puas dia tertawa dia tatap menikmati Agus dengan tatapan beringas.
"dengarkan aku kawan. aku bukan Adit yang dulu. aku bukanlah Adit yang bisa kalian tindas. aku bukanlah Adit yang dulu dengan mudahnya kamu dan keluargamu remehkan! kali ini tidak akan pernah ada kata maaf, kata maklum, dan pengampunan. kali ini yang ada adalah! Pemakaman mu." Adit berbisik di telinga Agus saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Agus menjadi merinding. hatinya semakin menciut. dia tidak menyangka kalau semua perbuatannya di masa lalu harus dia tebus hari ini.
"aku mohon kepadamu adik jangan lakukan hak konyol ini. jika kamu melakukan hal ini bisa saja mereka akan melacak keberadaanku dan mengantarmu ke dalam penjara."aku semakin mengancam ketika dirinya terancam.
"oh ya? apakah kamu pikir akan semudah itu melemparku ke dalam penjara? hari ini aku sama halnya denganmu dulu. tidak akan ada yang bisa menyentuhku dan membawaku ke dalam jeruji besi."
adik benar-benar siap hari ini untuk menghilangkan nyawa pria yang telah membuatnya kehilangan saudara.
__ADS_1