Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )

Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )
Part 6 - Hari ke tujuh


__ADS_3

Satu minggu sudah kami kehilangan Noni. Hari ini kami akan menggelar acara selametan tujuh hari atas kepergian Noni. Kami juga akan mendiskusikan tentang acara reuni yang sempat tertunda.


Kebetulan sekali Adit kenal dengan pemilik gedung itu. Sehingga kami boleh mengundur jadwal dan kebetulan juga catering bisa di jadwalkan ulang. Aku sempat menghubungi pihak catering untuk meminta undur waktu dan alhamdulillah bisa juga. Aku sempat merasakan khawatir kalau-kalau pihak catering tidak mau menjadwal ulang karena bahan masakan pasti sudah di beli oleh mereka.


"Lin, gimana kabarmu?" tanyaku kepada sherlin saat kami bertemu di halaman rumah Noni.


"Alhamdulillah, Dit. Aku sudah ikhlas kehilangan sahabat terdekatku. Lagi pula masih ada kalian di sisiku. Terutama kamu Dit. Terima kasih sudah mau menemaniku disaat aku berduka." Sherlin meraih tanganku.


"Lin, kita ini teman. Sudah sewajarnya jika aku menemani kamu. Kalau bukan aku, pasti ada teman-teman lain yang akan menawarkan diri untuk menemanimu." Aku menepuk punggung tangan Sherlin.


Kami masuk ke dalam rumah keluarga Noni dan mulai membatu untuk berkemas. Aku dan Noni membantu packing kue. Sedangkan teman lainnya membantu menyediakan minuman untuk para tamu yang datang.


Tahlil hari ini akan di adakan setelah shalat ashar. Karena hari minggu makanya diadakan sore hari. Jadi kami setelah acara tahlil bisa berkumpul untuk membicarakan kelanjutan acara reuni.


Aku melihat kalau seseorang sedang berbisik. Aku rasanya ingin sekali menguping. Sebab aku samar-samar dengar kata-kata racun.


Tunggu, apa Noni di racun? Apa itu mungkin terjadi? Namun, kenapa bisa? Noni anak yang sangat baik dan dia setahuku tidak memiliki musuh.

__ADS_1


Ah, aku terus memikirkan hal yang aneh belakangan ini. Semenjak kepergian Noni. Aku selalu berjaga jika menaiki taksi. Seperti tadi saat aku hendak pergi ke rumah Noni. Karena motorku dipakai pergi oleh abangku. Terpaksa aku naik taksi online. Selama perjalanan aku terus bicara dengan mamaku lewat telepon, Hanya untuk memastikan aku selamat sampai tujuan.


Paranoid itu pasti akan timbul secara alami. Hanya saja aku tidak mau terus terhanyut dalam ketakutan dan kekhawatiran yang aku sedang melandaku.


"Si Leon belum dateng ya?" tanyaku kepada Tasya yang masih berada di Indonesia sampai dua minggu ke depan.


"Iyah, tumben banget ya dia tuh telat. Biasanya'kan dia yang paling rajin kalo mau ketemuan sama kita." Timpal Tasya kepadaku.


Leon memang sangat senang kalau sudah urusan ketemuan dengan kami semua. Dia sangat bersemangat sekali kalau bagian kumpul-kumpul dengan teman-teman.


Aku mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Leon. Dua menit aku menelepon tidak juga kunjung di angkat oleh temanku itu.


Aku langsung melihat ke arah Leon. Aku lega karena sahabat baikku itu sudah tiba. Sebab dia mengirim pesan kepadaku tiga puluh menit saat aku sampai di rumah Almarhumah Noni.


"Segitu khawatirnya." Ledek Tasya kepadaku.


Semua teman-temanku tahu kedekatanku dengan Leon. Karena kami sempat satu sekolah SMA yang sama dan lanjut ke universitas yang sama.

__ADS_1


"Si Dita tuh, kayak masih paranoid gitu tahu enggak sih."


Salah satu temanku yang seorang psikolog. Memang pernah aku ajak bicara tentang kegelisahanku.


"Paranoid? Paranoid kenapa?" Leon langsung merespon.


"Udah jangan dibicarakan di sini. Nanti saja kalau kita sudah pulang dari sini. Kita kayaknya kumpul di rumah Gue ajah deh enggak perlu ke cafe."


Aku yang masih begitu takut jika berpergian membuatku selalu waspada dimanapun aku pergi. Rasanya ada perasaan yang terus mengganjal di hati ini. Ketakutan, Marah, tapi aku penasaran ada apa dengan Noni sebenarnya. Awal wajahnya yang panik sebelum pamit pulang, hingga kematiannya yang mendadak di dalam taksi.


"Kenapa sih? Udah tenang ajah, pulangnya nanti gue anter. Jangan ketakutan enggak jelas begitu deh. Relaks ajah, santai jangan kepikiran terus nanti yang ada lu stres lagi."


Leon mengacak rambutku. Aku memang tergolong lebih muda dari pada teman-temanku. Meski usia kami hanya beda beberapa bulan saja.


Kami selesai membantu memasukkan kue ke kardus dan memasukkan box nasi, serta box kue ke dalam plastik kresek untuk dibagikan kepada tamu yang datang di acara tahlilan hari ini.


"Siapkan tiga bungkus plastik isikan kue ini ya, Dit, Lin." Pinta ibu Noni kepadaku dan Sherlin.

__ADS_1


Aku langsung mengambil tiga box kue, sedangkan Sherlin mengambil plastik untuk membungkusnya. Sudah tradisi, kalau buat ustad dapat ekstra kue dan juga amplop.


Saat melihat Ibu Noni, rasanya aku ingin sekali bertanya tentang kelanjutan pihak kepolisian yang mencari tahu tentang sebab musabab dari kematian temanku itu. Naluri detektifku rasanya bangkit begitu saja meski tetap merasa ketakutan.


__ADS_2