
Setelah selesai dengan tahlilan hari ke tujuh sahabat kami Noni. Aku dan teman lainnya berpamitan kepada keluarga Noni. Kami saling mendoakan sebelum berpisah.
Kami semua pergi ke cafe yang tidak jauh dari rumah keluarga Noni.
"Kita bicarakan saja di sini." Leon menarik kursi dan duduk di sana.
Kami semua sudah berada di cafe O. Dimana cafe itu menyediakan kopi dan juga cemilan seperti kue dan roti.
"Gimana. Apa yang akan kita bahas hari ini?"
Kami semua saling berpandangan. Aku bukan tidak tahu apa yang akan dibahas hari ini. Hanya saja di suasana duka ini. Seperti tidak berperasaan karena menggelar acara pesta.
"Gini, kita semua itu'kan sudah menyiapkan acara reuni jauh hari sebelum kejadian ini. Gue tau kalian semua diam karena mikirin perasaan keluarga Noni yang masih berduka."
Leon angkat bicara mengenai acara yang kami tunda.
Aku juga sebenarnya bingung. Semua persiapan reuni sudah rampung. Karena ada kejadian yang tidak terduga dan kami kebetulan adalah jajaran panitia reuni. Jadi memutuskan untuk menunda sampai suasana duka berkurang.
"Kita lanjutkan saja." Sherlin memberikan suaranya.
Kami semua tersenyum. Kami semua memikirkan perasaan Sherlin sebagai teman terdekat dari Noni.
__ADS_1
Setelah mendapatkan lampu hijau dari Sherlin. Kami semua segera membahas terkait kelanjutan acara reuni.
"Kalau begitu sesuai kesepakatan kita di group tempo hari. Acara akan diadakan Sabtu Minggu depan. Kita akan konfirmasi kepada pemilik gedung dan juga pihak penyedia jasa catering.
"Aku akan menghubungi pihak catering," ujarku yang memang sejak awal menjadi penanggung jawab konsumsi.
"Kalau begitu, gua gantiin tugas Noni. Untuk urusan penataan. Jadi gua bantu Sherlin."
Tasya mengambil alih tugas yang di lakukan oleh Noni. Yaitu sebagai penata ruang yang sudah di design oleh Sherlin.
"Okeh kalau begitu. Terima kasih, Tasya."
Sherlin memeluk Tasya. Sherlin pasti saat ini senang kembali menemukan teman lain.
"Ingat ya. Kita akan ada acara tambahan yaitu berdoa bersama untuk almarhum Noni." Leon menambahkan doa bersama pada list acara.
Leon memang bertugas sebagai ketua panitia. Leon bagian mencatat dan mengawasi. Tidak ada sekertaris diantara kepanitiaan kami. Karena bagi kami tugas ketua sangat minim jadi merangkap sebagai sekertaris juga.
"Minum dulu." Aku menyodorkan minuman pesanan teman-teman yang datang dibawakan oleh pelayan cafe.
"Haus banget lu?" tanya Sherlin kepada Tasya.
__ADS_1
"Iyah nih. Haus banget gue."
Tasya terus menyedot minuman jus yang dia pesan.
Aku memperhatikan Tasya. Aku lihat Tasya seperti orang yang kekurangan minum. Padahal sejak tadi dia sudah minum terus di rumah Noni.
"Ada apa dengan Tasya? Kenapa dia seperti orang yang terserang dehidrasi?" Aku berbisik sendiri di dalam hati.
"Hei, Dit. Bengong lagi."
Leon mengibaskan tangannya di depan wajahku. Aku langsung tersadar dari lamunan.
"Sorry. Lagi enggak fokus."
Aku membenarkan posisi dudukku. Aku terlalu memperhatikan gerak-gerik Tasya yang mencurigakan.
"Ah. Aku mungkin masih paranoid. Mana mungkin gerak-gerik mereka sama. Pasti aku salah ingat."
Aku masih terus menelisik ke arah Tasya.
"Guys, sorry nih. Kayaknya gua harus cabut. Nyokab nungguin."
__ADS_1
Tasya tiba-tiba berpamitan dengan kami. Aku kembali merasa aneh. Bukan ingin menyumpahi atau berdoa yang buruk. Namanya juga manusia. pasti ada rasa khawatir dan juga takut.