Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )

Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )
Part 24 - Rasa Curiga


__ADS_3

dokter datang untuk memeriksa kondisi Tasya. untuk saat ini Tasya kembali dalam keadaan koma. melihat kondisi Tasya yang semakin menurun, membuat Dita semakin terbawa emosi.


Dita pergi dari rumah sakit. dia tidak sanggup melihat kondisi sahabatnya. kita langsung menyetop taksi.


"kita pergi ke alamat ini ya pak."kita mengeluarkan secarik kertas yang sudah ditulis alamat lengkap kemana tujuannya.


sopir taksi langsung melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke tempat di mana penumpangnya tuju.


Dita sudah sangat tidak sabar ingin sampai ke tempat tujuannya.


"aku harus memastikan sesuatu. jika memang kecurigaanku ini benar


aku harus segera mencegah sesuatu hal yang lebih buruk bagi terjadi." Dita *******-***** jarinya secara bergantian.


ada rasa cemas, ada rasa takut, dan juga adalah rasa marah di dalam hatinya. namun, dia tetap nekat pergi untuk menyelidiki sesuatu hal.


"berhenti di sini saja Pak."Dita meminta sopir taksi untuk berhenti. Padahal tempat tujuannya belum sampai.


"baik non."


kita membayar jasa supir taksi tersebut sesuai dengan argo taksi. setelah itu dia keluar dari taksi dan menyusuri jalan.

__ADS_1


"aku harus berjalan dari sini. karena kalau mobil taksi itu berhenti di depan rumahnya. sudah pasti aku akan ketahuan."


Dita kembali menyusuri jalanan komplek yang sangat megah ini. perumahan tempat tinggal orangnya sangatlah elit.


Dita perlahan berjalan masuk saat melihat pintu pagar terbuka. Dita melihat keadaan sekitarnya. dia tidak ingin ada orang yang melihatnya masuk.


selangkah demi selangkah kita semakin masuk dalam halaman rumah. ketika Dita ingin masuk lebih dalam lagi pundaknya ditepuk oleh seseorang.


Dita langsung melompat ketakutan dan juga terkejut. dia memejamkan matanya dan takut untuk membukanya lagi.


"Dita!" panggil seseorang.


"Leon?" Dita Terkejut dan Leon menutup mulut Dita.


"jangan berisik. kita keluar dulu dari sini. jangan sampai ketahuan." ujar Leon sambil menarik Dita keluar rumah besar itu.


setelah keluar dari rumah besar tersebut Leon langsung membawa Dita masuk ke dalam mobilnya.


"Leon, lo ini kenapa sih? tau nggak kelakuan kamu ini bikin gue jantungan!"kita marah kepada Leon.


"seharusnya gue yang tanya sama lo. buat apa lo ke sini sendirian? apa yang lo cari di sini? kalau sampai dia tahu lo ada di sini. itu namanya cari perkara."Leon menasehati sahabatnya Dita.

__ADS_1


"lu tahu kan kalau Tasya nggak sadarkan diri sakit kita masuk ke kamarnya?"tanya Dita kepada Leon.


"ya gua tahu. dan gue juga tahu lo ngikutin dia kan sampai ke belakang rumah sakit?"tanya Leon bergantian.


"lo liat?"dita terkejut.


"Iyah gue liat. dan gue enggak menyangka Lo bakalan ngikutin dia dan menaruh curiga sama dia." Leon bicara dengan nada cukup tinggi.


Leon sepertinya tidak suka jika Dita mencurigai teman sekaligus rekan bisnisnya.


"bukan begitu. tapi kita pikir aja. nggak mungkin kan Tasya drop tanpa sebab dan akibat?" Dita tetap kukuh pada pendiriannya.


"sudah sekarang simpan dulu rasa curiga Lu


kita pulang." ajak Leon sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Terus Tasya gimana?" tanya Dita.


"Tasya ada orang tuanya." sahut Leon.


Leon langsung membawa Dita tanpa banyak bicara lagi. Leon merasa kalau Dita sudah keterlaluan karena mencurigai teman sendiri.

__ADS_1


__ADS_2