Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )

Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )
Part 36 - Perasaan aman.


__ADS_3

Leon dan polisi sampai di sebuah rumah kosong yang dicurigai adit berada di sana bersama kedua teman lainnya.


"kita masuk."perintah Bang Ali.


mereka masuk sambil mengendap-ngendap. mereka berusaha tidak menimbulkan suara agar tidak dicurigai oleh adit.


saat mereka sudah masuk di dalam rumah terdengar suara tawa dan Leon mengenal itu adalah tawa dari Adit.


"mereka seperti ada di dalam sana."kata Leon mana sambil menunjuk ke arah ruangan yang tertutup.


kepolisian langsung mengepung ruangan yang diduga tempat adit menyekap Agus dan Dita.


Leon berusaha membuka pintu menggunakan handle. Namun, ternyata pintu terkunci.


"pintunya sepertinya terkunci. kita harus mendobraknya."seru Abang Ali.

__ADS_1


Leon dan tim kepolisian mengangguk menyetujui ide dari Bang Ali.


mereka kemudian untuk mendobrak pintu.


Bang Ali memberikan aba-aba dan mereka langsung mendobraknya hingga mereka bisa melihat di dalam ruangan itu ada lima orang. tiga orang dengan keadaan normal dan dua orang dalam keadaan tidak berdaya.


"Dita."Leon langsung berteriak menyerukan nama Dita.


Leon benar-benar tidak percaya Dita dan Agus sudah terkulai lemas. ditambah lagi Dita saat ini tidak sadarkan diri.


"Adit hentikan semua ini! jangan lagi kamu merenggut nyawa teman-teman kita."pinta Leon kepada Adit.


"hahaha ... teman kita kata mu? mereka hanya temanmu, teman kalian. mereka tidak pernah menganggapku teman."teriak Adit setelah tertawa terbahak-bahak.


"kamu salah Adit. kami semua menganggapmu sebagai teman. kalau tidak mana mungkin kami semua mau bicara denganmu dan dekat denganmu."tutur Leon.

__ADS_1


"kalau memang kalian menganggap aku teman dia tidak akan pernah melecehkan saudara perempuanku. dia juga tidak akan pernah memaksa saudara laki-lakiku untuk menelan obat-obatan terlarang sehingga dia mengalami overdosis. Dia dan kalian semua bisa terbebas dari hukuman kepolisian. padahal terbukti kalau salah satu dari kalian mengkonsumsi obat-obatan terlarang juga. bahkan sampai saudaraku meninggal kalian tidak pernah meminta maaf kepada keluargaku sedikitpun." Adit bicara sambil menunjuk ke arah Agus.


"Adit aku mengerti kesedihan dan kemarahanmu, tapi cara membalas dendammu ini salah. tidak sepatutnya kamu menjadikan nyawa mereka semua sebagai ajang balas dendam. yang salah bukan mereka hanya satu yaitu Agus. seharusnya kamu mengumpulkan bukti dan menyerahkannya kepada pihak kepolisian agar Agus bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah diperbuat. bukan malah menghilangkan nyawa mereka yang tidak bersalah. itu sama saja kamu seperti Agus." Leon menekankan setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya.


"hukuman kepolisian? meminta dia bertanggung jawab dengan bukti-bukti yang ada? sudah pasti dia akan kembali dibebaskan seperti yang dulu pernah dia lakukan dan terbebas dari segala kesalahan." marah adit.


adik memang sudah benar-benar kehilangan respect kepada pihak kepolisian yang seharusnya menegakkan keadilan.


Dita berhasil membuka matanya setelah pingsan beberapa waktu lalu.


"Leon!"teriaknya memanggil nama sang sahabat.


"syukurlah lo bisa menemukan tempat ini. gue tidak tahu apa jadinya jika Lo enggak nemuin tempat ini. manusia psikopat ini sudah dengan kejamnya menyiksa Agus dan juga gue. dia benar-benar seperti orang yang sedang kerasukan setan saat ini." Dita yang sudah merasa aman bertemu dengan Leon dan rekan-rekan kepolisian mengumpulkan kembali keberaniannya dan tenaganya.


"tenang saya Dita kami semua akan menolong kalian berdua." seru Leon.

__ADS_1


"hahaha menolong? kalian pikir dengan semudah itu membawa mereka berdua? sepertinya Pesta akan bertambah lebih meriah ketika kamu juga ikut merasakan nikmatnya tersayat belati ini." Adit menunjukkan belati yang ada di tangannya.


__ADS_2