
Leon berusaha menolong Dita dan Agus. Sedangkan bang Ali dan beberapa polisi sedang berusaha melumpuhkan Adit dan para anak buahnya. Ternyata Adit di rumah kosong itu tidak hanya dengan dua anak buahnya saja. Keluar beberapa anak buah Adit lainnya dari dalam ruangan kosong yang berbeda-beda. Setiap ruangan kosong ada lima anak buah yang muncul, sedangkan jumlah kamar kosong di sana ada tiga. Total semua tujuh belas anak buah Adit.
Jumlah pasukan yang dibawa oleh bang Ali hanya delapan orang. Mereka kalah banyak dan juga anak buah Adit semua bertubuh kekar dan berwajah beringas. Wajah mereka kini menunjukkan kalau sudah siap untuk membantai pasukan bang Ali.
Bang Ali berusaha meyakinkan pasukannya bahwa mereka bisa mengalahkan anak buah Adit. Bang Ali dan pasukannya bersiap dengan meregangkan otot-otot tubuh mereka.
Leon yang sedang berusaha mengeluarkan Dita dan Agus terhalang oleh salah satu anak buah Adit.
Leon terpaksa melakukan perlawanan. Sedangkan Adit sedang asik menikmati tontonannya sambil terus tersenyum menyeringai. Senyuman Adit terlihat lebih mematikan daripada pukulan anak buahnya. Dita yang tangannya sudah terlepas berusaha untuk melepaskan tali yang ada di kakinya. Dita melihat ke arah Agus. Dia ingin membawa Agus keluar ruangan ini dan berusaha untuk meminta bantuan lagi.
Leon sudah kehilangan setengah tenaganya. Napasnya sudah tersendat-sendat karena kelelahan. Dita melihat sepertinya tidak ada peluang kecuali ada bala bantuan lainnya. Dia mendekati Agus dan mencari ponsel.
"Dengar Agus, kamu harus tetap bersama kami dan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya nanti. Jangan menghindar lagi. Dari pada nanti terjadi hal seperti ini lagi." Dita memperingatkan Agus.
Jujur Dita sangat kesal kepada Agus. Perbuatan yang dia lakukan berimbas kepada mereka semua sahabat-sahabatnya. Dia sahabat telah menjadi korban atas kejahatan yang dilakukan oleh satu orang. Sungguh Dita tidak bisa memaafkan kelakuan Agus dan juga Adit yang melibatkan mereka semua dalam kasus balas dendamnya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Adit merampas ponsel yang ada di tangan Dita dan langsung melemparnya hingga terbentur tembok dan hancur.
Dita hanya tersenyum kecil melihat aksi yang dilakukan Adit. Dita berusaha bangkit karena memang tenaganya sudah mulai pulih. Dita berusaha untuk mendorong Adit sekuat tenaganya. Dita berusaha membantu agar bisa bertahan.
Dita mencambuk beberapa orang dengan tali tambang bekas dia diikat. Beberapa anak buah Adit terkena sabetannya dan merasakan sakit. Dita merasa ini cara yang bisa sedikit melumpuhkan beberapa pria bertubuh besar.
"Dita hati-hati." Teriak Leon yang mencemaskan sahabatnya.
"Fokus saja pada mereka Leon. Aku akan berusaha menjaga diri." Dita berteriak sambil memecut mereka.
__ADS_1
Dita tidak bisa di dekati oleh mereka karena takut disabet oleh tali tambang yang cukup besar dan sakit jika menyentuh kulit.
"Jangan kalian remehkan wanita. Kalian kira aku tidak bisa bertindak?" Dita Mengencangkan genggamannya pada tali tambang dan mengibaskannya.
Dita berharap pesan yang dia kirimkan kepada seseorang bisa tersampaikan dan langsung mengirimkan bala bantuan. Dita tidak mau apa yang terjadi malam ini terulang lagi saat mereka gagal meringkus adit dan anak buahnya.
"Ah," Dita menjerit kesakitan.
Dita terkena pukulan dari belakang. Dita memegang pundak belakangnya yang terasa nyeri. Dita berusaha menahannya dan mencoba untuk bangkit. Namun, anak buah Adit dengan cepat memiting tangannya dan membuang tali tambang yang dipegangnya.
"Dasar wanita nakal. Bisa-bisanya kamu menantang kami semua. Kamu pikir kamu tidak bisa meringkus mu." Pria itu bicara tepat di telinga Dita. Membuat Dita merasa merinding karena hembusan nafasnya dan juga kata-katanya.
Dita diikat kembali oleh mereka semua dan di buang sembarang arah hingga dia terhuyung dan terduduk kembali di atas lantai berdebu itu.
"Dit, Lo enggak kenapa-kenapa?" tanya Leon sambil terus menangis pukulan.
Leon kembali fokus. Dilihatnya anak buah bang Ali yang sudah hampir kehabisan tenaga juga sama seperti dirinya. Leon berharap ada keajaiban yang terjadi malam ini. Dia tidak mau kalau ada korban berjatuhan lagi di tangan Adit.
"Gue enggak bakalan biarin Lo menang!" Leon berusaha mengeluarkan tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya.
Dita kini hanya bisa berdoa dan menangis melihat para penolongnya hampir terkulai lemas dan hampir dikalahkan.
"Cepat masuk ke dalam. Ringkus mereka semua." Seorang pria yang suaranya di kenal oleh Dita memberi komando.
Dita kini menarik napas panjang. Perjuangannya untuk menahan anak buah Adit selama satu jam membuahkan hasil.
__ADS_1
"Dita." Seseorang memanggilnya.
"Pah." Dita menangis kencang.
Pihak polisi yang ikut bersama papanya sedang melawan satu persatu anak buah Adit yang kini tenaganya sudah tinggal setengah. Beberapa sudah berhasil di lumpuhkan dan di borgol tangannya.
"Dita." Papanya memeluk anak perempuan kesayangannya itu.
Dia tak kuasa melihat kondisi putrinya yang sudah tidak karuan, ditambah ada beberapa luka sayatan ditubuhnya.
Adit berhasil ditangkap. Papa Dita membawa polisi sebanyak dua puluh orang yang memungkinkan sekali untuk menangkap mereka semua.
Leon bernapas lega karena semua kini sudah berakhir. Dita dibawa ke rumah sakit beserta dengan Agus juga yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Terima kasih Leon. Kamu sudah menyelamatkan anak Om."
"Sama-sama Om. saya juga terima kasih om sudah menyelamatkan kami semua." Leon tersenyum malu.
"Kalau om tidak mendapat pesan dari Dita. mungkin om tidak bisa menyelamatkan kalian semua. Untung saja saat itu om sedang dekat dengan kantor polisi jadi bisa cepat ke sana."
Leon mendapatkan sedikit perawatan dari tema medis karena tangannya yang sedikit terkilir dan beberapa bagian tubuhnya yang memar akibat terkena beberapa kali hantaman keras dan pukulan keras dari para pria bertubuh kekar itu.
Adit sudah dibawa ke kantor polisi beserta anak buahnya. Dia tidak bisa mendapatkan keringan hukuman atau membeli hukum. Karena semua sudah terekam jelas. Sebelum Leon menolong Dita dan Agus. Dia menyalakan rekaman ponselnya dan merekam pembicaraan Adit yang mengerikan dengan ancaman-ancamannya kepada Dita dan Agus. serta pernyataannya tentang kejadian yang menimpa dua orang yang kehilangan nyawanya.
Orang tua Noni dan Sherlin memutuskan untuk menuntut begitu pula orang tua Tasya dan Dita. sedangkan orang tua Agus tidak bisa menuntut lebih. Sebab semua kejadian ini akibat dari ulah putranya sendiri.
__ADS_1
Agus dan Adit kini sama-sama mendapatkan apa yang telah dia perbuat selama ini. Adit di vonis dengan hukuman mati. Sedangkan Agus di vonis hukuman sepuluh tahun kurungan.
Kini semua bisa tenang dan tidak akan ada lagi drama menyeramkan jika ada acara reuni yang di gelar.