Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )

Arisan ( Siapa Nama Berikutnya? )
Part 26 - Hari yang tak terduga


__ADS_3

Leon pergi ke tempat dimana dia harus bertemu dengan seseorang yang merupakan rekan bisnisnya.


"mobilnya ada di sini. berarti dia ada di pabrik." Leon kembali melanjutkan langkahnya setelah melihat mobil temannya terparkir di area parkiran mobil.


Leon dengan sangat percaya diri berjalan menuju ruang kerja teman bisnisnya itu. Namun, sesampainya dia di sana. Leon malah di kejutkan dengan sesuatu hal yang tidak terduga. dia bukannya masuk malah menguping pembicaraan.


"dengar, kali ini jangan sampai ada yang meleset. kesalahan yang terjadi kepada wanita itu tidak boleh terulang lagi. kali ini sasaran targetnya adalah dia. pria yang telah memperkosa adikku, sekaligus pria yang membuat kakakku meregang nyawa akibat overdosis obat." Seorang pria bicara untuk memerintah seseorang.


"saya akan laksanakan bos. akan saya pastikan juga wanita yang bernama Tasya itu tidak akan pernah kembali normal lagi. atau apa perlu saya lenyapkan saja dia?" tanya seorang pria yang mendapatkan tugas dari bossnya.


"tidak perlu. kecuali jika memang dia berangsur membaik. meski merepotkan, tapi hal ini membuat permainanku semakin seru. kocokan nama ini sudah mengeluarkan nama si biang keladi itu. giliran mereka yang lainnya. aku akan pastikan mereka semua akan lenyap satu persatu dengan cara yang berbeda. lenyapkan pria itu dan buat dia merasakan sakitnya ketika meregang nyawa." Pria itu tertawa terbahak-bahak sambil memegang toples kecil seperti kocokan arisan.


...****************...


Leon berlari kencang. dia bahkan sangat ketakutan dan tidak berani untuk menemui pria itu seorang diri di ruangan yang mungkin bisa menjadi tempatnya menghembuskan nafas terakhir.


Leon sudah berada di parkiran mobil dengan nafas yang ngos-ngosan. Leon menarik nafas panjang agar dia. Isa kembali tenang.


"pak Leon." seseorang memanggilnya.


Leon langsing melotot seakan matanya akan keluar. "kamu?" Leon menatap pria itu.


"saya asisten pribadi dari pak Adit. apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pria yang kini sudah memakai kacamata Hitam.


Leon sangat terkejut karena pria itu kini sudah berada di hadapannya. dia tidak menyangka kalau langkah pria itu begitu cepat. padahal tadi dia masih berbincang dengan Adit.


"Maaf, saya hanya ingin bertemu dengan Adit membahas pengiriman beras untuk beberapa hari kedepan. apa bisa saya sampaikan kepadamu saja?" tanya Leon.


"silahkan pak, saya akan memberitahukan kedatangan anda ke pak Adit nanti. karena sepertinya pak Adit saat ini sedang sibuk." ujar si pria berkacamata hitam.


"Iyah saya akan beritahukan kamu kalau untuk pengiriman beras selanjutnya adalah hari Kamis. saya tadinya ingin bertemu dengan pak Adit, tapi karena katamu dia sedang sibuk jadi saya tidak akan mengganggunya." Leon sudah bicara dengan lancar karena nafasnya sudah tidak terburu lagi.


Selesai dia bicara dengan asisten pribadinya Adit. Leon segera menancap gas mobilnya dan meninggalkan pabrik tempat usaha Adit.

__ADS_1


"aku tidak menyangka ternyata dugaan Dita benar. kemungkinan besar Adit adalah dalang dari semua ini. aku ingat betul saat itu saudara Adit meninggal dunia yang satu kampus dengan kami. dan saat di hari kami sedang mengadakan acara kelulusan kampus Adit juga ada di kantor polisi. hanya saja aku tidak tahu siapa yang sedang ditunggunya dan Apa urusannya."


Leon bergumam pada dirinya sendiri. Leon langsung mengarahkan mobilnya ke rumah Dita. dia dan Dita hari ini memang tidak ada jadwal mata kuliah. saya nggak Leon tahu pasti kalau Dita ada di rumahnya saat ini.


"Aku harus memberitahukan kita semuanya. saat ini masih salah satu di antara kami semua akan menjadi sasarannya. sebisa mungkin kami harus mencegah hal ini terjadi lagi."


dan semakin menginjak pedal gasnya dengan kencang hingga mobilnya melesat di jalanan bagaikan angin.


Leon sampai di sebuah perumahan dan dia memarkirkan mobilnya.


"Dita... Dit ...Dita" leon berteriak dari luar rumah memanggil-manggil nama sahabatnya.


dari dalam rumah Dita yang sedang membantu mamanya membungkus beberapa kue yang sudah matang mendengar suara seseorang memanggil namanya.


"buka dulu sana Dita. sepertinya dia sedang memanggil-manggil namamu. kamu intip dulu dari jendela Siapa yang datang jangan langsung bukakan pintu."awalnya Mama Dita memerintahkan Dita untuk membuka pintu namun Mungkin dia teringat hal-hal yang yang mengerikan yang terjadi kepada teman-teman putrinya sehingga dia meminta putrinya untuk lebih waspada.


Dita berjalan keluar dapur dan menghampiri jendela rumah. Dita membuka hordeng jendela dan dia lihat Leon berada di depan sana dengan wajah yang pucat.


"gue siapin minuman dulu ya buat lo. kayaknya dari muka lo kelihatan khawatir banget sih."


tanpa mendengar persetujuan dari Leon Dita langsung pergi ke dapur dan menyiapkan minuman.


"Siapa yang datang Dit?"tanya mamanya kepada Dita.


"si Leon mah yang datang. aku ngobrol dulu sama dia sebentar ya. nggak apa-apa kan Mah aku tinggal dulu?"tanya Dita kepada mamanya.


"ya sudah sana kamu ngobrol dulu aja. Jangan lupa bawakan juga Leon kue bolunya. Mama kan tadi bikin kue bolu lebih."


setelah mendengar penuturan dari mamanya. Dita langsung memotong beberapa iris kue bolu untuk disediakan kepada Leon.


Dita membawa nampan berisikan sirup dingin dan juga kue bolu hangat.


"diminum dulu biar lebih tenang."kata Dita kepada Leon.

__ADS_1


"thank you banget ya dit. lo emang orang yang paling ngerti situasi gue."


tanpa terduga ternyata Leon menunggu habis minuman yang disediakan oleh Dita. di taman jadi semakin penasaran apa yang terjadi kepada Leon sehingga wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Ada apa sih? kok lu khawatir banget?"tanya Dita yang penuh dengan rasa penasaran.


"gini Dit. Ternyata apa yang lo pikirkan selama ini itu benar." ujar Leon kepada Dita.


"yang gua pikirin apaan sih yang gue pikirin? kalau ngomong itu yang jelas Jangan ngegantung gitu dong Leon."protes Dita kepada Leon.


"tadi gua pergi ke pabriknya si Adit. rencananya gua mau kasih tahu dia mengenai pengiriman paket beras yang rencananya akan dikirim ke tempat kakak gue buka usaha. sesampainya gue di sana gua nggak sempat sama sekali ngobrol sama dia. tapi gue denger kalau misalkan dia itu sedang merencanakan sesuatu yang begitu mengerikan."penuturan Leon membuat Dita semakin bertanya-tanya Apa yang dilakukan oleh Adit.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? kita tidak tahu siapa sasaran selanjutnya."seru Dita kepada Leon.


Leon berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan dari Dita. dia bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya. dia juga sebenarnya masih tidak yakin dengan apa yang dipikirkannya. karena memang saat itu beritanya simpang siur.


"Lo ingat gak, tentang adiknya Adit yang meninggal dunia akibat depresi setelah di perkosa?" tanya Leon.


"ingatlah. kita'kan juga pergi untuk mengucapkan bela sungkawa hingga ikut ke pemakaman." tutur Dita.


"Lo ingat juga siapa yang diberitakan saat itu?" tanya Leon dengan wajah yang sangat serius.


"ingat! si Agus, tapi'kan katanya Agus tidak terbukti bersalah. lalu apa ada kaitannya?" tanya Dita dengan wajah penuh tanda tanya.


"ya, tadi dia itu bikin kayak kocokan arisan dan keluarlah satu nama. dia bilang nama kali ini yang keluar tepat sasaran. sebab pria ini yang telah menghancurkan kehidupan adiknya dan juga membuat adiknya bunuh diri akibat depresi." jelas Leon yang menceritakan apa yang dia dengar tadi di pabrik Adit.


"kalau begitu, apa mungkin Agus?" dita langsung merasa kalau semua ini mungkin mengarah kepada Agus. sebab Agus satu-satunya tersangka saat itu.


"jadi bagaimana cara kita mengetahui apa benar Agus atau bukan?" lanjut Dita.


"sepertinya gue harus terus bersama Adit. dan Lo harus terus stand by ponsel. gue akan telepon kalau ada sesuatu yang sangat janggal. Lo cari bantuan atau hubungi pihak kepolisian." perintah Leon.


"okeh kita akan bekerja sama demi mengungkap kebenaran dan menolong mereka. meski mereka bersalah bukan begini cara menghukum mereka." pikir Dita.

__ADS_1


__ADS_2