
Dita sangat senang dengan permainan detektif. sejak dulu dia sangat suka bermain detektif-detektif'an bersama dengan teman-temannya di waktu kecil. hingga saat ini semuanya masih terpendam dalam nalurinya.
Dita mempersiapkan beberapa peralatan yang bisa dia bawa kemana-mana demi menjaga keselamatannya. dia membawa persediaan minum dan juga makanan agar tidak sembarangan minum dan makan yang dimana dia tidak tahu keselamatannya kapan akan terancam.
dita memakai ransel di punggungnya. dia tidak hanya ingin berdiam diri menunggu kabar dari Leon. kita keluar dari dalam kamarnya dan berpamitan kepada mamanya.
"Dita setelah pulang kampus Kamu harus segera pulang jangan pergi kemanapun dan selalu beri kabar kepada Mama" nasihat mamanya.
"iya Mah Dita janji." dita berpamitan lalu keluar dari rumah.
...****************...
Leon rencananya hari ini akan pergi ke rumah Agus. ya memang rencana akan membuka usaha bersama dengan Agus. sehingga dia merasa tepat jika mengajak Agus berdiskusi mengenai usaha mereka yang akan dibangun bersama.
"aku harus terus mengawasi pergerakan Agus. Aku tidak mau adik terlalu jauh membalas dendam."
Leon keluar dari kamarnya dan langsung menaiki mobil.
jarak antara rumah Leon dan rumah Agus tidaklah begitu jauh. kita sama-sama seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga yang kaya raya. Bedanya Leon adalah anak yang mandiri dan selalu bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya sendiri. berbeda dengan Agus, yang selalu saja menggunakan fasilitas keluarganya. bahkan pada saat kasus yang pernah menimpa mereka semua. Agus bebas dari tuduhan.
belum sampai di rumah Agus. dia sudah janjian dengan Agus melalui chat ponsel.
"hai Gus."panggil Leon ketika melihat Agus keluar dari rumahnya.
"hai bro. udah nyampe aja lo. masuk Bro. Di rumah gue lagi sepi kebetulan."Agus mempersilahkan Leon untuk masuk ke dalam rumahnya.
rumah Agus sangatlah besar. rumah dengan cat putih dan berbagai pilar yang menyangga. sehingga membuat rumahnya semakin terkesan mewah.
"pada ke mana keluarga lo?"tanya Leon
"biasa bokap lagi ke Jepang dan nyokap gua lagi ke Paris. jangan kakak-kakak gue ya biasa dia lagi foya-foya di klub malam sama cewek-cewek cantik."jelas Agus kepada Leon.
__ADS_1
kehidupan warga Leon dan Agus memang sangat jauh berbeda. Leon meskipun terlahir dari keluarga kaya raya, tapi dia selalu dididik untuk hidup mandiri dan penuh kesederhanaan.
"rumah lu gede banget. kayaknya yang bagian samping sana baru selesai direnovasi."kata Leon yang mengomentari bagian samping rumah Agus.
"ya begitulah nyokap gue bosan dengan gaya rumah yang gitu-gitu aja. makanya itu dia lagi Paris buat beli beberapa peralatan rumah untuk mengisi bagian samping sana."Agus bicara dengan nada yang terkesan sombong.
Agus adalah anak ketiga atau bisa disebut anak bungsu dari keluarga itu. Agus terbiasa di manja dan dijadikan pangeran di dalam rumahnya. segala sesuatu yang diinginkan pasti akan selalu tersedia. gitu juga dengan usaha bisnis yang akan mereka rintis berdua kali ini. Agus mendapatkan modal usaha dari papanya.
"gue mau usaha biar kelihatannya gue kerja aja lah,"kata agus kepada Leon.
"ya kalau gue sih pengennya lu salah serius karena kan lu bareng gue. kita bangunlah usaha sama-sama. kalau usaha kita besar warga Lo juga yang bakalan bangga sama lo."kata Leon kepada Agus.
Agus tersenyum kecut. dia memang kurang bisa diberikan nasihat oleh siapapun. bukan maksudnya Agus menolak dinasehati oleh orang lain. saja Dia pikir harta keluarganya yang tidak bisa habis tujuh turunan dan tujuh tanjakan itu bisa selalu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Leon melihat sekitar rumah dia harus waspada karena dia takut serangan akan datang ditambah lagi saat ini hanya ada dia, Agus, tiga asisten rumah tangga dan juga dua satpam yang berjaga di luar. Leon tidak bisa pasrah dan bergantung kepada orang lain. Dia belajar dari kejadian Tasya dan juga Sherlin.
di tempat yang begitu penjagaannya ketat dan banyaknya penjaga yang lalu lalang saja mereka bisa kecolongan sehingga membuat Sherlin kehilangan nyawanya.
"boleh aja. nanti kita pergi ke klub malam oke?"ajak Agus kepada Leon.
"kayaknya enakan kita di rumah aja deh. lebih aman juga kan kalau kita di rumah."kata Leon.
"lu kenapa sih bro? kayak orang ketakutan gitu. santai aja Bro. Siapa juga mau celakain kita?"Agus bicara seakan akan nyawanya tidak akan pernah dalam bahaya dan setiap bahaya bisa segera diatasi.
"ya udah terserah lu aja deh Gus. ikut aja yang penting dekat-dekat sama lo." ujar Leon lagi.
Leon dan Agus membicarakan beberapa planning dari perencanaan usaha yang akan mereka rintis bersama.
...****************...
karena hari masih sangat terang Dita pergi ke tempat Tasya dirawat. dia hanya ingin memastikan sesuatu kepada Tasya.
__ADS_1
kita membuka pintu kamar Tasya dan dia lihat di dalam ada kedua orang tua Tasya yang sedang menemani putrinya.
"selamat siang om dan tante. maaf Dita baru bisa kemari." Dita menyalami kedua orang tua Tasya.
"tidak apa Dita. tante tahu kamu pasti sibuk dengan kuliahmu. tante dengar kamu sedang melanjutkan studi S2 karena mendapat beasiswa dari tempatmu bekerja."
"benar tante. Alhamdulillah kita berkesempatan untuk sekolah S2 dan baru saja bulan ini mulai perkuliahan."Dita menjawab dengan penuh kesopanan.
"kamu pasti mau ngobrol sama Tasya kan? silakan Dita tante dan om pergi ke kantin dulu untuk membeli makanan. tante titip Tasya ya."
kedua orang tua Tasya keluar dari kamar ruang perawatan putrinya. sedangkan Dita duduk di tepi kasur memandang sahabatnya yang masih tertidur.
Dita mencoba membangunkan Tasya. Dia benar-benar sangat penasaran apakah benar adik yang berbuat hal kerja ini kepadanya dan juga Sherlin.
"Tasya. Apa kamu bisa mendengarku? bisakah bangun sebentar Tasya?"Dita membangunkan Tasya dengan sangat hati-hati.
tidak lama setelah Dita membangunkan Tasya. Tasya pun membuka kelopak matanya.
"Dita."panggil Tasya yang sudah mengenali wajah Dita.
Dita sangat bersyukur ternyata temannya Hari ini kondisinya sangat stabil. namun, dia takut Setelah dia bertanya tentang adik kondisi Tasya akan menjadi buruk lagi.
"Dita, kondisiku saat ini sudah sangat baik. hanya saja aku mohon jangan katakan kepada siapapun. Tika kamu harus tahu kalau adik lah yang melakukan hal ini kepadaku dan juga Sherlin."
Dita menjadi tercengang. dia tidak menyangka ternyata Tasya sudah normal kembali.
Dita langsung memeluk Tasya erat. dia langsung menumpahkan air matanya sehingga Tasya ikut menangis.
"Jangan menangis Lagi. sekarang kita harus bersatu untuk meringkus adit. aku harus tetap berpura-pura menjadi orang yang tidak waras untuk sementara waktu sampai Adit. bisa kita kalahkan."
Dita mengangguk dan menghapus air matanya. kita mengurai pelukannya dan menatap lekat sahabatnya.
__ADS_1