
"Iya ma... Mereka semua baik kok sama isya. Mama tau saat si wanita ular ada di kampus isya... Mereka lah yang menjadi tameng buat isya... Dan mengusir wanita ular itu..." Ucap syafira sambil senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian itu. Dan sedikit melebih-lebihkan.
"Mereka??? Wanita ular???" Ucap sang mama mengulang perkataan syafira.
"Iya ma... Mereka... Mereka adalah syafina dan syafila!" Seru syafira dengan antusias nya.
"Lalu wanita ular?!!" Tanya sang mama sedikit was-was.
"Wanita ular.... Huuuuf... Pokoknya isya tambah benci sama dia ma! Dia sudah bikin isya jadi pusat perhatian semua orang... Mending jika jadi pusat perhatian karena kagum. Lah ini, malah bikin malu isya di kampus.... Bikin bete tau nggak mah kalo ingat!!!" Ucap syafira.
"Maksud kamu dia!!!???" Tanya sang mama agak sedikit berseru.
"Iya ma... Memangnya siapa lagi yang berjuluk wanita ular kalo bukan si sovia itu! Huuh! Bikin sebel aja tuh orang... Untung aja ada teman baru isya itu, yang bisa nenangin isya. Kalo nggak, abis tuh orang di tangan isya..." Ucap syafira dengan menggebu-gebu.
"Emang berani?!!" Ucap sang mama sedikit menggoda.
"Berani lah! Kan isya jago taekwondo...! Jadi pasti berani." Ucap syafira.
"Yakiiin..." Ucap sang mama semakin menggoda.
"Iih... Mama mah gitu... Tau gitu isya hajar beneran aja tuh si wanita ular tadi, biar mama percaya!!" Ucap syafira dengan cemberut.
"Hahahaha.... Iya iya... Mama percaya kok. Maaf ya putri mama yang cantik..." Ucap sang mama seraya memeluk tubuh syafira dari samping. Dan dengan pelukan itu, berhasil membuat senyum syafira kembali lagi.
"Eh, iya ma, papa belum pulang ya ma?! Kok gak keliatan sih?! Terus tuh tuyul-tuyul pada kemana mah? Kok gak keliatan juga??" Tanya syafira saat tidak melihat sama sekali orang yang ia bicarakan.
"Iish... Tuyul tuyul! Mereka itu cucu mama ya...! Enak aja di bilang tuyul. Kalo mereka tuyul, berarti kamu tantenya tuyul..." Ucap sang mama seraya menoyor kepala syafira karena tidak terima cucunya dikatain tuyul.
"Iih mama... Kan cuma bercanda...! Hari ini kenapa sih?? perasaan semua orang seneng banget mainin kepala isya... Tadi kak vano yang nyentil kepala isya, sekarang giliran mama yang noyor kepala isya, nanti siapa lagi...???" Ucap syafira yang kembali bersungut.
"Oma!!!" Ucap sang oma seraya menoyor kepala syafira.
"Iih oma! Kok malah ikut-ikutan sih?!!" Ucap syafira sambil mengelus kepalanya yang tadi di toyor sang oma.
"Lagian kamu juga kenapa gak ngasih tau kami, kalau tu perempuan ular gangguin kamu lagi. Apa kamu sudah tidak nganggep kami keluarga kamu lagi...??" Ucap sang oma.
"Bukannya gitu oma... Syafira gak kepikiran...! Soalnya pas liat dia, bawaannya langsung emosi aja. Padahal isya udah berusaha keras buat gak peduli sama tuh orang, tapiii... Huuuuf...." Syafira dengan sengaja menghentikan ucapannya, karena emosinya tiba-tiba seperti datang tanpa di undang.
__ADS_1
"Baiklah sudah sudah, tenang oke... Tenang... Tarik nafas... Hembuskan... Istighfar istighfar sya..." Ucap sang mama menenangkan, saat sudah melihat syafira putri satu-satunya itu, mulai mengeluarkan tanduknya.
"Hemmmz huuuuf... Hemmmz huuuuf... Istigh___, tunggu dulu! Istighfar???" Ucap syafira yang tiba-tiba teringat sesuatu.
' Hemmmz huuuuf.... Hemmmz huuuuf.... Istighfar... Istighfar... ' Ingatan syafira kembali ke beberapa waktu lalu, saat masih berada di kampus, lebih tepatnya mengingat ucapannya sendiri.
"Aaaaaaaa.......!!!!!!! Malunyaaaaa.......!!!!!!!! Astaga astaga astagaaaaa.....!!!!!!!!! Mau di tarok dimana muka gueeeee.........!!!!!!!! Aaaaaaaa.......!!!!!!!" Syafira tiba-tiba histeris, saat tiba-tiba mengingat ucapannya waktu berbicara... Ah tidak, lebih tepatnya berdebat dengan orang yang ia juluki si wanita ular.
Sampai-sampai tidak menyadari jika ia keceplosan menyebut dirinya dengan sebutan 'gue'.
Syafira baru tersadar dengan ucapannya, saat sang mama dan sang oma menegurnya secara bersamaan.
"Isya ngomongnya...!!!" Ucapnya sedikit tinggi.
"Hehehe... Maaf oma, mah... Tapi isya maluuu..." Ucap syafira seraya merengek dan memeluk sang mama yang tepat berada di sampingnya.
"Malu?!! Kenapa???" Ucap sang mama. Sedang sang oma hanya mendengarkan.
"Semua itu gara-gara si perempuan ular itu, isya jadi tidak fokus. Yang membuat isya jadi malu mah..." Ucap syafira.
"Apa sih sya... Yang jelas ngomongnya. Mama gak ngerti...!" Ucap sang mama.
"Tapi tapi apa sih sya... Gak jelas tau nggak!" Ucap sang mama.
"Tapi isya bukannya ngucap astaghfirullahal adzim, malah ngucap istighfar... Istighfar... Gitu mah....." Jelas syafira.
"Pffft.... Pffft... Kamu, kamu!! Hahahaha....." Ucapan sang mama terpotong disebabkan tawanya yang meledak terlebih dahulu. Dan disusul oleh tawa sang oma.
"Iih... Mama! Oma! Masa' ngetawain juga sih... Aah!! Aaaaaaaa.... Mama sama oma aja yang gak nyaksiin langsung, udah ketawa. Apalagi yang nge_live!!! Aaaaaaaa malunya akuuu...." Ucap syafira.
"Astaga cucuku memang yang paling pintar!!! Aduh perut oma sampai sakit..." Ucap sang oma seraya berusaha menghentikan tawanya.
"Hahahaha.... Oke oke. Maaf, maaf maaf. Pffft..." Ucap mama siska.
"Iih mama....!!" Protes syafira.
"Oke oke oke... Huuuuf... Huuuuf... Istighfar... Istighfar... Pffft..." Ucap mama siska lagi, yang sekalian meledek.
__ADS_1
"Mama!!!" Ucap syafira sedikit kesal dengan sang mama yang terus mengejeknya.
"Baiklah baiklah, huuuuf... Huuuuf.... Huuuuf..." Ucap mama siska.
"Ah iya, ngomong-ngomong soal teman kamu, mereka gimana? Coba ceritakan secara detail sama mama tentang mereka." Ucap mama siska lagi yang akhirnya bisa menghentikan tawanya juga.
"Au ah, males cerita. Lagi bad mood. Pokoknya.... Yang jelas mereka berdua baik. Dan kapan-kapan isya akan ajak mereka berdua ke sini, bolehkan ma...??!!!" Ucap syafira, yang tadinya merasa bad mood karena diketawain mama dan omanya. Tiba-tiba kembali full happy saat mengingat teman barunya itu.
"Tanya aja sama oma! Kalo oma yes, mama juga yes." Ucap mama siska.
Mendengar jawaban dari sang mama, syafira pun mengalihkan pandangannya pada sang oma.
"Gimana oma?!! Boleh ya omaa... Please... Isya mohon... Oma sama mama, pasti juga langsung suka sama temen-temen isya itu! Boleh ya oma yaa...." Ucap syafira merayu.
"Emmm.... Menurut oma___" ucapan oma sofiah sengaja dipotong untuk mempermainkan cucu perempuannya itu.
"Ayolah omaaa..." Rengek syafira layaknya anak kecil.
"Emmm... Yes!!!" Dan ucapan yang di tunggu-tunggu syafira pun terucap dari lisan sang oma.
"Yes!!! Makasih oma... Sayang deh sama oma ku tercinta... Emuach!" Ucap syafira dengan girangnya seraya kembali memeluk dan kali ini juga mencium sang oma.
"Oma aja nih?!! Sama mama nggak...?!" Ucap mama siska dengan pura-pura merajuk.
"Ulululuuu sayang nya isya... Jangan ngambek dong... Nanti kerutannya makin banyak..." Ucap syafira seraya bercanda.
"Enak aja! Mama masih glowing gini, di bilang banyak kerutan. Kualat tau rasa nanti..." Ucap mama siska yang balas bercanda juga.
"Ya jangan dong ma... Kalo isya juga kerutan, nanti di sangkanya isya yang mamanya mama. Nanti kalau gak ada yang mau sama isya gimana hayooo... Mama juga yang repot kan..." Ucap syafira.
"Iya deh iya... Mama ngalah... Kalo soal berdebat gak bakal ada yang bisa nandingin! Seharusnya kamu tuh ngambil jurusan pengacara, karena kalau soal debat mendebat kamu ahlinya..." Ucap mama siska.
"Jangan dong mah! Kalo isya ngambil jurusan pengacara juga, nanti kak vano malah gak punya pekerjaan lagi. Hihihi..." Ucap syafira seraya terkekeh.
"Kamu ini! Ada-ada saja." Ucap mama siska lagi seraya menggetok dahi syafira pelan.
"Iih mama! Mulai deh...!" Ucap syafira seraya mengelus dahi yang di getok sang mama.
__ADS_1
"Oh iya mah! Mama belum jawab pertanyaan isya tadi." Ucapnya lagi.
"Pertanyaan? Pertanyaan apa???"