ARTI SAHABAT Sebenarnya...

ARTI SAHABAT Sebenarnya...
bab 16


__ADS_3

'allahu akbar... allahu akbar....'


Ucapan syafira terpotong di sebabkan ada suara adzan berkumandang, pertanda sang pencipta 'allah' telah memanggil ummat nya agar berjumpa dan berseru hanya kepadanya.


"Lanjutin nanti pertanyaan nya ya ra... Jawab adzan dulu..." Ucap syafila dan di setujui kedua sahabatnya, terutama syafira.


'allahu akbar... Allahu Akbar... Laa ilaha illallah.....'


"Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaha illallahu muhammadur rosulullahi sholallahu 'alaihi wassalam. Allahumma rabbaha dihid da'watittammah... Wassholatil qoimah___" ucap dan doa setelah adzan syafila dan syafina berbarengan.


Sedang syafira hanya mendengarkan saja, karena memang ia tidak hafal doa sesudah adzan tersebut.


"Kalo gitu kita lanjutin nanti saja ya acara bincang-bincang nya. Sekarang, ayo kita sholat 'ashar dulu." Ucap syafina.


"Memang kenapa kalau nanti saja atau bentar lagi?" Tanya syafira.


Syafira yang selalu bertanya, bukannya dia hanya di dasari oleh kekepoan nya belaka. Syafira selalu bertanya, Karena syafira memang tidak mengetahuinya. Karena ia sedari kecil memang tidak pernah memperdalam ilmu agama. Yang ia tau hanyalah jika sholat itu wajib bagi seluruh umat muslim.


"Ayo ke musholla! In syaa allah aku akan menjawabnya sambil berjalan..." Ucap syafina.


"Jika bisa utamakanlah kewajiban kita kepada allah. Termasuk didalamnya adalah sholat lima waktu. Adzan adalah sebagai pertanda jika allah sedang memanggil kita... Sama seperti saat kita menerima panggilan telepon, bukankah kita akan langsung buru-buru menghampiri asal suara ponsel tersebut? Dan jika tidak kita buru-buru mengangkatnya atau bahkan tidak mengangkatnya sama sekali, ponsel itu akan mati dengan sendirinya. Dan bukankah orang yang menelfon kita kadang akan merasa marah dan bahkan mungkin akan tidak menyapa kita lagi dan lebih parahnya akan meninggalkan kita jika panggilannya tidak dijawab. Begitu pula dengan adzan, sholat, dan allah. Adzan di umpamakan adalah dering ponsel, sholat adalah jawaban kita, dan puncaknya adalah allah, si pendengar kita. Jika kita ditinggalkan manusia... Mungkin akan ada sedikit rasa sedih yang menghampiri kita, karena masih ada banyak pengganti manusia-manusia lainnya. Di ibaratkan, gugur satu tumbuh seribu. Tapi jika kita ditinggalkan dan tidak dipedulikan lagi oleh allah, kemana lagi kita akan pergi...? Fikirkanlah baik-baik semua itu!" Jelas syafina dengan sambil berjalan menuju musholla.


"Dan iya, pahala terbesar waktu sholat adalah di awal waktu. Apa iya kita akan menyia-nyiakan pahala yang paling besar itu? Ibaratkan di dunia nyata, kita akan diberi rejeki nomplok oleh seseorang, tapi kita tolak mentah-mentah, gimana perasaan seseorang itu? Orang itu tidak akan rugi karena pemberiannya yang secara cuma-cuma telah di tolak oleh kita, karena orang itu bisa saja memberikannya pada yang lainnya, Justru kita yang akan merasa rugi di kemudian hari dan merenung, 'mengapa aku tolak rejeki yang sudah ada di mata kemarin, seandainya tidak aku tolak, sudah pasti hari ini aku tidak akan kesusahan'." Ucap syafina lagi dan kembali menjeda sejenak ucapannya.

__ADS_1


"Begitu pula dengan pahala yang di berikan allah di awal waktu sholat. Allah tidak akan merasa rugi jika kita menolaknya, karena kita yang membutuhkan bukan allah. Allah akan dengan siapnya memberikan rezekinya pada yang benar-benar menginginkannya. Dan kita juga yang akan merugi di kemudian hari, yakni di hari dimana perkumpulan amal di satukan. Dan saat itu tiba hanya penyesalan yang tiada arti yang kita temui." Lanjut syafina.


Dan pas sekali... Saat syafina sudah menghentikan ucapannya, ketiganya telah sampai di sebuah musholla yang tersedia di kampus.


"Ayo kita wudhu' dulu..." Ucap syafina lagi.


"Ukhti... Kalian mau sholat juga?" Tanya seseorang yang sudah kesekian kalinya menyapa ketiganya.


"Iya..." Ucap syafila dan syafina berbarengan.


Sedang syafira hanya menatapnya tanpa berkedip. Dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


' ini yang aku tidak sanggup... Dia selalu saja berada di sekeliling ku. ' batin syafira setelah tersadar dari keterpanaan nya.


"Maaf sebelumnya akhi, kalau begitu kami permisi dulu." Ucap syafina seraya menundukkan kepalanya dan segera menarik tangan kedua sahabatnya.


Sedang orang yang tidak lain adalah faisal juga mengangguk mengiyakan.


Setelah ketiga orang sahabat itu pergi, faisal tersenyum sendiri di tempatnya.


"Hey sal, ngapain lo disini sendirian?" Sapa salah satu temannya.


"Eh, hai ton! Mau sholat juga? Kalo gitu kita bereng yuk." Ucap faisal pada temannya itu seraya merangkul bahunya.

__ADS_1


*****


"Gimana? Udah plong?" Tanya syafina saat sudah berada di luar musholla.


"Maksudnya??" Jawab syafira dengan pertanyaan pula.


"Maksudnya... Kalo aku nih ya... Pengalaman pribadi soalnya. Kalo semisal sudah selesai sholat, mau melakukan atau mengerjakan apapun akan terasa lebih ringan dan tanpa beban. Tapi jika mengerjakan sesuatu terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat, pasti akan terasa ada beban yang menyertai pekerjaan tersebut. Coba deh rasakan sendiri dalam diri kita." Ucap syafina.


"Dan iya, jangan suka menunda-nunda sholat, jika tidak ingin rezekinya ikut tertunda. Kita ingin rezekinya, tapi kepada sang pemberi rezekinya menganggap remeh. Jika kita menginginkan isi dari dunia ini, maka rayu lah terlebih dahulu pemiliknya. Ingin ciptaannya, tapi tidak ingin pada penciptanya. Sama saja bohong." Ucapnya lagi.


"Memang... Memang ada yang sering atau bahkan tidak sama sekali mengerjakan sholat. Bahkan terkesan tidak mengenal dan tidak mau mengenal penciptanya, tapi dia baik-baik saja, senang-senang saja, bahkan kaya raya dan harta melimpah dimana-mana dan tidak kekurangan apapun. Itu namanya Istidraj. Fir'aun adalah kaca besarnya bagi kita. Jika kita sudah merenungi Fir'aun dengan baik dan teliti, maka tidak akan ada pertanyaan-pertanyaan semacam itu lagi." Ucap syafina.


"Bagaimana Fir'aun di masa lalu?! Fir'aun tidak mau menyembah apa yang nabi musa sembah. Tapi fir'aun tidak pernah sakit, harta berlimpah, istri yang cantik, apa yang dia mau akan langsung tersedia. Benar begitu bukan...?! Tapi lihatlah akhirnya... Pada akhir hayatnya..., Itulah yang harus kita renungi. Allah sudah mengazab Fir'aun sejak masih berada di dunia, tapi apakah kita tau kelanjutan kisah Fir'aun di akhirat? Tidak kan... Hanya allah saja yang tau. Dan jika ingin mengetahuinya, tirulah prilaku fir'aun semasa ia hidup. Maka in syaa allah kelak akan berkumpul dengannya." Lanjutnya.


"Dan iya, allah tidak benar-benar membinasakan fir'aun di dunia ini... Bukankah sampai sekarang fir'aun masih ada?! Allah tidak menghancurkan jasad fir'aun, agar kita bisa tau dan bisa menjadi pelajaran bagi kita semua... Baik itu dulu, sekarang, dan nanti di masa mendatang, di generasi-generasi berikutnya juga akan mengetahuinya. Ingat! Lihat, renungkan, dan terapkan. Tapi jangan salah sambung, terapkan disini... Bukan untuk menerapkan keburukannya melainkan kebalikannya. Ambil hikmahnya. Tapi, ya itu tadi, balik lagi pada diri kita sendiri. Karena setiap perbuatan, entah itu baik atau buruk, pasti akan ada balasannya... Mungkin tidak langsung di dunia, tapi di akhirat nanti, in syaa allah pasti. Wallahu a'lam bisshowab..." Lanjutnya lagi seraya mengakhiri ucapannya.


"Kok aku jadi ngeri-ngeri sedep ya dengernya... In syaa allah aku tidak akan lagi menunda-nunda yang namanya sholat. Hiiiiii...." Ucap syafira seraya bergeridik.


"Sama aku juga, in syaa allah." Ucap syafila juga.


"Alhamdulillah... Aamiin... Semoga allah senantiasa selalu bersama kita... Aamiin..." Ucap syafina mengaminkan niat kedua sahabatnya.


"Aamiin..." Ucap syafila dan syafira yang juga mengaminkan.

__ADS_1


"Oh iya ra! Kamu mau tanya apa tadi?" Tanya syafina pada syafira.


"Hem??"


__ADS_2