
"iish... Somboong..." Sindir syafira pada syafina.
"Bukannya sombong, tapi kenyataan. Kan memang dia adalah mbak ku, jadi otomatis secara sengaja maupun tidak sengaja aku akan menjadi muridnya kan... Iyakan...? Bener kan...? Ya iyalah, masa' nggak! Ho ho ho ho..." Ucap syafila, dan di akhir kalimatnya syafila bersuara layaknya santa Claus.
"Aku jadi penasaran, seperti apa mbak mu yang kamu bangga-banggakan itu." Ucap syafira.
"Sama aku juga. Rasanya pengen juga ketemu." Ucap syafina yang menyetujui ucapan syafira.
"Ya seperti manusia lah bestie..." Ucap syafila.
"Yeee...!!" Ucap keduanya seraya kembali mendorong bahu syafila seperti yang dilakukan keduanya tadi.
"Ya ampun... Kalian berdua ini! Suka bener perasaan ngedorong bahu berhagaku ini." Protes syafila Seraya mengelus-elus bahunya.
"Berharga berharga, berharga dari Hongkong." Ucap syafira.
"Ya berhagalah... Kalo patah karena terus di dorong-dorong kalian gimana... Mau tanggung jawab kalian dengan cara mematahkan bahu kalian juga..." Ucap syafila lagi.
"Diiih... Ogah!" Ucap syafira.
"Apaan ogah-ogah! Kan kita bestie..." Ucap syafila dengan tersenyum miring.
"Bukan alasan!" Sanggah syafira.
"Sudah sudah, jadi bagaimana dengan mbak mu itu la? Gimana caranya ketemuan dengannya?" Ucap syafina menengahi.
"Hemmmz... Sayangnya mbak ku itu ada di kota M..." Ucap syafila.
"Yaaah....." Ucap keduanya dengan raut wajah yang kecewa.
"Aha... Aku tau! Gimana... kalo liburan nanti, kita liburan ke sana?!" Usul syafila.
"Itu masih lama la..., Keburu lumutan nanti kepengennya..." Ucap syafina.
"Sudahlah... Kita lihat saja nanti gimana enaknya. Lebih baik kita lanjutkan saja cerita-ceritanya. Keburu semakin sore nanti..." Ucap syafira.
"Bener kata rara! Kalo gitu sekarang giliran nana!" Ucap syafila.
"Kok bisa aku?!" Tanya syafina.
"Iyalah! Kan yang punya cerita belum kelar kemaren, cuma kamu sama rara." Ucap syafila.
"Iyakah?!!" Ucap syafina.
"Iyalah....!! Masa' enggak...!!!" Seru syafira dan syafila kompak.
"Nih ya na... Pertama, yang tentang ngebekap mulut ku..., Yang kedua, tentang kenapa aku gak boleh memeluk kakak-kakak ku kemaren? Jangankan memeluk, pegangan tangan saja kata kamu gak boleh. Iyakan?!! Sekarang, jelasin!" Ucap syafira.
"Ooh... Yang tentang itu...!" Ucap syafina yang seraya mangguk-mangguk.
__ADS_1
"Sudah inget kan? Sekarang ayo jelaskan kenapa!!!" Ucap syafira lagi.
"Terus... jadinya yang mana dulu yang mau di jelasin?" Tanya syafina.
"Kan udah di bilang barusan..., Ngebekap dulu, baru sentuhan..." Ucap syafira mengulang perkataannya, namun di singkat.
"Baiklah, yang ngebekap dulu ya... Kenapa aku ngebekap rara, itu karena pada saat itu rara mau memberi tahukan namanya pada akhi atau laki-laki itu kan? Bener kan ra?" Ucap syafina.
"Iya, kamu benar. Terus apa masalahnya?" Tanya syafira.
"Karena dia itu orang asing. Sudah itu saja masalah dan penjelasannya." Ucap syafina
"Lah, kan dia udah bilang, kalau dia itu mahasiswa sini juga. Iyakan...? Iyakan la, kamu juga denger dia ngomong gitu juga kan la...?" Ucap syafira seraya meminta persetujuan dari syafila.
Syafila yang ditanya hanya mengangguk membenarkan ucapan syafira.
"Lebih tepatnya mahasiswa pindahan!" Ucap syafina memperbaiki.
"Kan sama aja na..." Ucap syafira yang masih kekeh.
"Ya gak sama lah ra... Bukannya niat suudzon nih ya... Tapi jika kita berjumpa dengan orang asing, bukankah kita patut waspada...? Gimana kalo orang itu berniat jahat sama kita?! Dengan berdalih atau alasan BERKENALAN. Kita kan gak tau, apa motif dia yang sebenarnya..., Ingat ra... La... Sedalam-dalamnya laut masih bisa di ukur. Tapi dalamnya hati, siapa yang tau...?" Ucap syafina yang menjelaskan panjang lebar.
' iya ya! Kenapa kali ini aku tidak belajar dari pengalaman. Padahal sebelum-sebelumnya aku tidak begini... Apa yang terjadi padaku...? Apa iya karena aku terpesona pada pria itu...?? Tidak tidak, ini tidak boleh terjadi. Benar kata syafina! Bukan suudzon, tapi waspada! Ya... Benar begitu...! ' ucap syafira dalam hatinya.
"Iya... Kamu benar nana. Mungkin aku terlalu bersemangat saat itu, sehingga aku melakukan kesalahan." Ucap syafira.
"Iya sih... Dan itu semua berkat kamu. Makasih ya bestie..." Ucap syafira.
"Bukan karena aku ra, aku hanya sebatas perantara saja. Sedang yang menggerakkan adalah yang maha kuasa. Jika kamu ingin berterima kasih, berterima kasihlah kepadanya... Lewat sholat malam jika bisa. Dan iya, kamu tidak salah kok... Anggap saja kamu lagi keceplosan waktu itu. Tapi kalau bisa, jangan di ulangi lagi... Oke bestie..." Ucap syafina menenangkan seraya tersenyum.
"Oke bestie... Eh, in syaa allah... Hehehe..." Ucap syafira.
"Sudah, yang lalu biarlah berlalu... Jadikan ini, sebagai pelajaran buat kita... Oke bestie...! Nana, sekarang lanjutkan penjelasannya. Penjelasan yang kedua. Benar begitu ra...?" Ucap syafila.
"Hem..." Jawab syafira yang hanya dengan gumaman. Karena entah kenapa kini syafira jadi merasa malas, walau hanya sekedar menjawab kata 'iya'. Padahal barusan biasa-biasa saja.
Semua itu dikarenakan dirinya merasa bersalah pada dirinya sendiri setelah mendengar penjelasan dari syafina perihal orang asing.
' aku harus lebih berhati-hati lagi kedepannya. Tapi... Tapi kenapa aku rasanya tidak bisa berpaling dari pria itu... Astaga isya...!!! Huuuuf... Astaghfirullahal adzim... ' ' batin syafira.
Saking seriusnya syafira melamun, sampai-sampai tidak menyadari jika syafina sedari tadi berbicara untuk menjelaskan penjelasan yang kedua dengan panjang lebarnya.
"Ra... Rara... Kamu mendengarkan ucapan ku kan ra...? Raraaa...!!!" Panggil syafina pada syafira yang awalnya lembut diubahnya jadi sedikit membentak seraya menepuk bahunya untuk menyadarkan syafira dari lamunannya.
"Astaga!!! Kamu apa-apaan sih na...?! Ngagetin aja..." Gerutu syafira seraya mengelus dadanya karena merasa terkejut.
"Diiih... Malah nyalahin orang! Kamu tuh yang apa-apaan...? Orang dari tadi ngomong panjang lebar tuh dengerin..., Eeh... Ini malah ngelamun gak jelas!" Bukan syafina yang menjawab, melainkan syafila.
"Kamu lagi ngelamunin apa sih na...??" Tanya syafina yang kembali lembut.
__ADS_1
"Hayo loooh.... Lagi ngelamunin cowok kan...???" Tuding syafila pada syafira.
"Khuk khuk khuk khuk. Apaan sih kamu lala! Sok tau banget. Memangnya kamu cenayang apa?! Yang bisa baca isi fikiran orang."
' oops!!! ' lanjut syafira dalam hatinya.
Syafira yang mendengar ucapan syafila, menyebabkan syafila tersedak saliva nya sendiri, dan tak sengaja keceplosan.
"Tuh kan ngaku...." Ucap syafila lagi yang semakin gencar ingin memojokkan syafira. Namun bercanda.
"Iih...! Apaan sih lala... Udah ah. Ayo na, lanjutkan penjelasannya." Ucap syafira seraya mengalihkan pembicaraan. Dan jangan lupakan pipinya yang tengah memerah.
"Penjelasan apa lagi rara... Yang cantik jelita bak dewi yunani..., Hello rara... Kamu darimana saja sedari tadi sih...? Nana udah dari tadi selesai ngejelasinnya. Ngelamunin cowok terus siiih... Jadinya gak denger kan ucapan temannya...!" Ucap syafila, dan yang merasa mempunyai kesempatan untuk bisa meledek syafira kembali.
"Benarkah???" Ucap syafira.
"Tentu saja!" Ucap syafila.
Sedang syafina hanya tersenyum.
"Kalo gitu... Nana... Sahabatku yang paling baik... Boleh di ulang lagi kan penjelasannya..." Ucap syafira merayu serta bergelayut manja pada syafina layaknya anak kecil yang meminta mainan.
"Jangan na! Jangan mau! Ntar malah di tinggal bengong lagi sama tuh dewi yunani..." Ucap syafila yang masih saja terus meledek syafira.
"Syirik aja lo!"
"Eeh!!" Tegur syafina atas ucapan syafira.
"Hehe... Peace...!" Ucap syafira seraya memperlihatkan dua jarinya.
"Ayolah na... Ya... Jelasin lagi ya... Please..." Ucapnya lagi yang masih terus merayu.
"Jangan mau na!" Ucap syafila.
"Apaan sih lala... Jangan ikut-ikutan deh...! Ya nana ya..." Ucap syafira.
"Sudah sudah, gak usah debat lagi...! Iya, aku akan mengulangnya." Ucap syafina.
"Yeeey...! Makasih sahabatku..." Ucap syafira seraya memeluk syafina. Namun di balik punggung syafina, syafina tidak mengetahui jika syafira menjulurkan lidahnya pada syafila pertanda telah menang.
Syafila yang melihatnya pun hanya mendengus karena merasa kalah. Dan segera berpaling.
Namun yang tidak diketahui syafira, syafila berpaling karena untuk menyembunyikan senyumnya.
"Baiklah, jadi gimana?" Ucap syafira seraya mengurai pelukannya pada syafina.
"Baiklah, jadi gini ra... Kenapa saya tidak membolehkan kamu bersentuhan apalagi sampai berpelukan dengan laki-laki kemaren, itu karena kalian bukanlah makhrom. Apa sejauh ini sudah mengerti?" Ucap syafina menjelaskan secara singkatnya.
"Memang kenapa kalau bukan makhrom?" Tanya syafira.
__ADS_1