ARTI SAHABAT Sebenarnya...

ARTI SAHABAT Sebenarnya...
bab 08


__ADS_3

"Ukhti... Kenapa dengan motornya...? Apa ada masalah dengan motornya?!" Ucap orang itu setelah turun dari motor ninja nya.


Syafina tidak langsung menjawab pertanyaan orang itu, melainkan semakin memperdalam kerutan di dahinya. Lalu berucap...


"Maaf, apa kita saling kenal???" Ucapnya karena merasa heran, tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya di jalan raya. Kalau dilihat dari pakaian dan postur tubuhnya, sepertinya orang itu adalah laki-laki.


Mendengar ucapan itu, orang itu juga mengernyitkan dahinya di balik helm yang ia pakai. Setelahnya, menyentuh bagian mukanya yang tertutup helm.


"Ah iya, maaf lupa!" Ucap orang itu seraya membuka helm full face nya.


"Akhi?!!! Akhi... Akhi yang tadi bertanya tentang perpustakaan bukan?!!" Ucap syafina yang langsung mengenalinya saat melihat dengan jelas wajah orang itu setelah membuka helmnya.


"Iya ukhti, itu saya. Faisal." Ucap faisal mengakui.


"Kheem! Ada apa memanggil saya?!" Syafina berderham terlebih dahulu, sebelum berucap langsung pada intinya, dan kemudian langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain asal bukan ke arah faisal.


"Tidak, saya kebetulan juga lewat sini.... Dan tidak sengaja melihat seseorang yang sepertinya saya kenal. Dan ternyata benar, orang itu adalah ukhti..." Ucap faisal menerangkan.


"Emmm... Maaf sebelumnya ukhti... Apa ukhti butuh bantuan...? Ah tidak, maksud saya... Apa ada yang bisa saya bantu...? Ma.. maksud saya___"


"Tidak perlu, terima kasih! Dan iya, kalau tidak ada keperluan lain lagi, saya permisi. Assalamu'alaikum..." Ucap syafina yang langsung memotong ucapan faisal.


Bukannya syafina sombong... Tapi syafina lebih ingin menjaga dirinya sendiri dari sesuatu yang akan menjurus ke arah fitnah.


Mendengar ucapan itu, faisal termangu untuk sesaat.


Dan tersadar saat syafina sudah berada beberapa langkah di depannya.


Faisal segera mengejar syafina dan menahan motor syafina di bagian belakang jok motornya, yang membuat syafina reflek menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.


"Apa yang anda lakukan?!! Lepas!!" Ucap syafina yang merubah panggilannya menjadi semakin formal, karena faisal telah sedikit memancing emosinya.


Bagaimana syafina tidak terpancing emosinya? Jika yang dialami syafina saat ini sangatlah mengganggu fikirannya... Di dalam fikiran syafina saat ini... ' dimana hari sudah semakin sore, mama menelfon karena cemas memikirkan dirinya yang belum pulang, belum lagi... motor tiba-tiba mati tanpa sebab. Dan di tambah lagi ada seorang lawan jenisnya yang mengganggu perjalanannya yang akan mencari bengkel. ' sepertinya lengkaplah sudah apa yang saat ini ada di fikirannya dan memenuhi otaknya.


Syafina lebih memilih untuk memenuhi otaknya dengan materi-materi yang di berikan dosen, ketimbang dipenuhi oleh fikiran-fikiran semacam ini.


Karena bagi syafina, materi dari dosen bisa terpecahkan dan terselesaikan di mana saja dan kapan saja. Sedang fikiran semacam ini, akan terselesaikan jika sudah di urus sampai ke akarnya dan harus segera terselesaikan sesegera mungkin, jika tidak segera ditangani akan bisa jadi masalah besar.


"Maaf ukhti... Biar saya yang bawakan motor ukhti..." Ucap faisal lagi.


Sebenarnya faisal tidak ada niat lainnya, kecuali niat ingin menolong.


"Tidak perlu, terima kasih! Saya bisa sendiri. Permisi!" Ucap syafina seraya kembali akan melangkahkan kaki dan menuntut motornya.


"Tapi... apa ukhti tau letak bengkel di daerah sini?" Ucap faisal selanjutnya.


Mendengar ucapan faisal kali ini, membuat syafina kembali menghentikan langkahnya.


' iya ya! Dimana aku bisa menemukan bengkel di daerah sini??? Perasaan di daerah sini, aku tidak melihat satupun ada bengkel deh! Yang ada cuma di dekat rumah. Dan itu jauh sekali... ' ucap syafina dalam hatinya seraya celingukan kesana kemari, dan... Menyerah.

__ADS_1


Dengan ragu, syafina menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke arah faisal.


Mungkin bagi sebagian orang, sikap syafina tidaklah sopan karena memunggungi lawan bicaranya.


Namun bagi sebagian orang lagi, akan mengetahui jika perbuatannya itu adalah benar dengan tidak menatap langsung ke arah lawan bicaranya.


Tapi jangan salah! Syafina melakukan itu, hanya jika dengan lawan jenisnya... Tapi jika sesama jenis, maka beda lagi ceritanya.


"Kalo begitu... Mari saya antar! Saya tau dimana ada bengkel di sekitaran sini, dan itu agak masuk-masuk ke dalam. Maaf sebelumnya, jika di izinkan... Saya yang akan menuntun motor ukhti." Ucap faisal.


"Apakah jauh???" Syafina merespon ucapan faisal dengan pertanyaan. Dan sedikit melembutkan ucapannya dari pada tadi.


"Tidak terlalu siih... Tapi lumayan." Ucap faisal


"Tapiii.... Bagaimana dengan motor akhi...?" Ucap syafina.


"Itu gampang... Biar nanti saya akan meminta orang untuk mengambilnya." Ucap faisal.


"Tapiii... Ah, begini saja! Bagaimana kalau akhi tunjukkan jalan saja dengan membawa motor akhi. Sedangkan saya... Saya yang akan tetap menuntun motor saya. Gimana akhi... Apa akhi setuju...?" Ucap syafina mengusulkan apa yang tengah ada di fikirannya. Karena yang sebenarnya, syafina sedikit was-was untuk meninggalkan motor faisal di pinggir jalan tanpa pengawasan.


Mendengar usulan syafina, sebenarnya faisal sedikit ragu, tapi tetap mengangguk untuk mengiyakan.


Syafina yang merasa tidak mendapat dan mendengar respon dari faisal, terpaksa mendongak. Karena syafina yang sejak tadi menundukkan kepalanya, tidak melihat akan anggukan faisal.


Dari dekat memang syafina tidak mengetahui, karena tidak berani memperhatikan faisal secara langsung dan terang-terangan.


Namun jika ada orang yang memperhatikan keduanya dari kejauhan, orang itu akan melihat jika keduanya memanglah tidak benar-benar saling tatap. Melainkan... Jika tidak mengalihkan pandangan, maka mereka akan menatap kebawah, agar tidak secara langsung bertatapan.


Namun yang tidak syafina ketahui, faisal juga sedikit banyaknya juga tau akan batasan itu.


"Jadi bagaimana...? Apa akhi setuju?" Tanya syafina pada faisal. Karena menurut syafina, ia tidak mendapatkan respon darinya.


Mendengar pertanyaan itu, faisal juga terpaksa mengalihkan pandangannya pada syafina.


"Apa?!! Setuju apa lagi ukhti? Bukankah saya sudah mengangguk?!!!" Ucapnya seraya kembali mengalihkan pandangannya ke arah lainnya lagi. Karena tanpa disengaja dan di duga, keduanya beradu pandang.


"Iyakah? Kapan? Ah, sudahlah. Berarti akhi setuju kan dengan usulan saya? Kalau begitu ayo segera berangkat, hari sudah semakin sore. Saya tidak mau kalau sampai kemalaman di jalan. Mari akhi...! Ah iya, sebelumnya... terima kasih!." Ucap syafina yang juga kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Iya, sama-sama... Tunggu sebentar, saya ambil motor saya dulu..." Ucap faisal, dan di angguki syafina.


Saat syafina telah sendiri, karena faisal tengah mengambil motornya... Tiba-tiba ada suara klakson mobil, dan seseorang yang dikenalnya tengah melongokan kepalanya di salah satu jendela mobil itu.


"Syaa!!! Ngapain? Kok belum pulang???" Ucap orang itu, yang ternyata adalah syafira.


"Eh sya... Iya ini juga mau pulang kok... Lagi nunggu teman...?" Ucap syafina seraya melirik ke arah faisal yang tengah memasang helm nya kembali. Dan syafina pun segera menghampiri syafira.


Saat sudah berada tepat di samping mobil, syafina sedikit melongokan kepalanya ke arah jendela mobil yang di buka syafira untuk mencari tau dengan siapa syafira pulang.


' ooh... Ternyata dengan mereka... ' batin syafina.

__ADS_1


"Mau di temenin?!!" Tawar syafira.


"Terima kasih atas kebaikanmu bestie ku... Tapi tidak papa, temanku itu sudah hampir sampai... Jadi kamu pulang saja, tidak papa kok!" Ucap syafina yang menolak dengan cara halus.


Sebenarnya syafina mau-mau saja ditemani syafira... Tapi apa dayanya, hari semakin sore... Dan pasti sama dengan dirinya, orang rumah syafira pasti juga tengah menunggu syafira dan mencemaskan nya.


"Beneran???" Tanya syafira sekali lagi untuk memastikan.


"Emmm... In syaa allah beneran gak papa. Sudah sana! Hati-hati dijalan ya..." Ucap syafina dengan sedikit rasa ragu.


"Baiklah, aku duluan ya... Emmm... Assalamu'alaikum..." Ucap syafira.


Mendengar ucapan syafira, syafina jadi tersenyum dan berucap...


"Wa'alaikumussalaam warohmahtullah ukhti..." Ucap syafina untuk menjawab salam syafira.


"Kak... Titip sahabatku ya... Hati-hati bawa mobilnya..." Ucap syafina lagi seraya kembali sedikit melongokan kepalanya ke arah dalam mobil, untuk menitipkan syafira sahabatnya kepada orang yang di panggil syafira kak vano dan kak dika itu.


Yang di jawab dengan gumaman saja oleh keduanya.


"Iish! Jawabnya yang bener dong kak... Dia itu sahabat isya... Nyebelin banget sih!!!" Gerutu syafira pada kedua kakaknya itu.


Mendengar gerutuan syafira, akhirnya keduanya pun berucap...


"Iya dek... Pasti..." ucapnya sedikit kaku.


Mendengar itu syafina hanya tersenyum.


"Baiklah sya... Aku pulang duluan ya... Assalamu'alaikum..." Ucap syafira lagi yang kembali mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalaam... Hati-hati ya..." Ucap syafina.


Setelah itu, mobil yang ditumpangi syafira pun akhirnya melaju dan kembali menyatu dengan kendaraan lainnya di jalan raya tersebut.


"Ayo ukhti...!" Ucap faisal yang tiba-tiba sudah berada di dekat syafina dengan motornya.


"Astaghfirullah!!" Ucap syafina karena merasa kaget.


Syafina pun hanya mengangguk mengiyakan dan segera kembali menghampiri motornya, dan kembali menuntunnya.


"Maaf... Kaget ya?!!" Ucap faisal yang mendengar ucapan syafina yang sambil memegang dadanya.


Sedang syafina hanya tersenyum kecut.


' sudah tau, nanya. ' batin syafina.


Kenapa faisal baru sampai untuk menghampiri syafina??? Bukankah hanya beberapa langkah saja dari jarak syafina dan motornya sendiri???


Itu karena, faisal sengaja menunggu dan memberikan privasi pada syafina untuk menyelesaikan perbincangannya dengan seseorang yang berada di dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Syafina pun berjalan perlahan sambil menuntun motor miliknya, dengan faisal yang berada di depannya untuk menunjukkan jalan kepada syafina arah dimana bengkel berada.


*****


__ADS_2