ARTI SAHABAT Sebenarnya...

ARTI SAHABAT Sebenarnya...
bab 09


__ADS_3

Sesampainya di salah satu bengkel...


"Alhamdulillah ya allah... Akhirnya.... Huuuuf... Huuuuf... Huuuuf..." Ucap syafina setelah sampai dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di bengkel tersebut, dengan nafas tersengal-sengal.


"Aduh ya allah, capek banget." Ucapnya lagi seraya mengipas-ngipasi badannya dengan jilbab lebarnya.


Jelas syafina merasa kecapekan... Karena dia harus berjalan menuju bengkel yang jauhnya kurang lebih satu kilometer_an. Belum lagi harus menuntun motor miliknya yang beratnya dua kali lipat dari bobot tubuhnya.


"Ini, minumlah." Ucap seseorang yang tiba-tiba menyodorkan minuman dingin ke hadapannya.


Syafina reflek mendongak, menatap seseorang yang menyodorkan minuman dingin kepadanya.


Dan ternyata dia adalah faisal.


Dengan ragu syafina menerima minuman dingin tersebut, karena dia juga memang sedang lagi haus.


"Terima kasih!" Ucapnya.


"Sama-sama!" Balas faisal.


"Ini!" Ucap syafina seraya menyodorkan pecahan uang sepuluh ribuan pada faisal, setelah sebelumnya terlebih dahulu meneguk minumannya.


"Apa ini??" Ucap faisal.


"Uang! Apa lagi...!" Ucap syafina.


"Saya tau itu uang ukhti... Maksud saya untuk apa uang itu...!" Ucap faisal memperjelas ucapannya.


Syafina tidak menjawab lewat lisan, melainkan menunjukkan minuman yang sudah tinggal setengah itu.


Faisal yang mengerti pun segera berucap...


"Tidak perlu! Itu buat ukhti..." Ucapnya.


"Tapiii....." Ucap syafina, dan tidak tau harus berkata apa lagi.


"Anggap saja itu sebagai bentuk rasa bersalah saya, karena sudah membiarkan seorang wanita kesusahan." Ucap faisal.


"Tapi itu bukan kesalahan akhi... Itu adalah pilihan saya sendiri. Jadi akhi tidak perlu merasa bersalah seperti itu." Ucap syafina.


"Iya...! Maka dari itu, biar saya tidak merasa bersalah lagi, ukhti harus menerima minuman itu dengan suka rela. Jadi semuanya impas. Gimana?!!" Ucap faisal.


"Terserah akhi sajalah!" Ucap syafina yang akhirnya pasrah dan mengantongi kembali uang tersebut.


"Oh iya akhi...! Akhi sebaiknya pulang lah! Sudah hampir maghrib soalnya. Terima kasih atas bantuan akhi... Daan... Terima kasih juga untuk minumannya." Ucap syafina.


"Ukhti ngusir saya?!!!" Tanya faisal.


"Bukannya ngusir, tapi___"


"Kalau bukan ngusir, apa dong namanya?!! Apa ini yang namanya habis manis sepah di buang???" Ucap faisal yang buru-buru memotong ucapan syafina.

__ADS_1


"Bukannya begitu... Maksud saya... Terserah lah! Terserah akhi maunya gimana!" Ucap syafina yang akhirnya menyerah dan memilih untuk tidak berdebat dengan faisal.


Faisal yang mendengar ucapan syafina pun tersenyum menang, karena berhasil membuat syafina tidak memiliki pilihan.


Faisal tidak memiliki pilihan lain selain harus melakukan itu...


Faisal melakukan itu karena tidak ingin meninggalkan syafina sendirian di tempat asing. Apalagi hari sudah hampir gelap, dan faisal merasa tidak pasrah untuk meninggalkannya.


Bukannya apa-apa faisal melakukan itu... Pasalnya, syafina adalah perempuan... Jika saja laki-laki maka terserah.


Drrrt... Drrrt... Drrrt...


Tiba-tiba ponsel syafina bergetar didalam tas selempang nya.


"Assalamu'alaikum ma..." Ucap syafina setelah mengangkat dan meletakkan ponselnya ke dekat telinganya.


(".............")


"Maaf ma... Isya lupa memberi kabar ke mama. Tadi, habis telfonan sama mama tiba-tiba motor isya mati dan gak bisa di nyalain sama sekali. Untungnya ada teman isya yang bantuin isya..."


(".................")


"Iya ma in syaa allah... Ini isya lagi di bengkel, di temenin teman isya..."


("................")


"Iya ma, wa'alaikumussalaam...." Ucap syafina dan 'klik' panggilan telepon pun terputus.


"Huuuuf.... Apa masih lama bang???"


Di sisi lain...


Syafira baru saja sampai di pelataran mansion keluarga ardhen saat jam sudah menunjukkan pukul 16:57 WIB.


"Kak Dika sama kak vano beneran gak mau mampir dulu ke dalam???" Tanya syafira pada dika dan vano.


"Tidak! Salam saja buat oma, tante siska, dan lainnya... Soalnya kakak masih harus balik lagi ke rumah sakit. Tau kalo si cunguk ini." Ucap dika.


"Sialan lo! Kak vano juga nggak deh sya... Capek, pengen istirahat! Salam juga ya, sama yang lainnya..." Ucap vano.


"Baiklah! Terserah kalian saja. Kalo gitu, isya masuk ya kakak-kakak tampanku..." Ucap syafira seraya pergi meninggalkan keduanya di area parkiran kediaman keluarga ardhen.


Namun tiba-tiba syafira kembali menghampiri keduanya sambil meneriaki nama keduanya yang berada di dalam mobil dengan jendela yang tertutup karena mobil akan siap melaju kembali.


"Ada apa...?" Ucap vano.


"Apa ada yang ketinggalan...?" Ucap dika seraya melihat kesana kemari apa ada barang yang bukan miliknya ataupun milik vano. Namun sepertinya tidak ada apa-apa di kursi penumpang belakang sana, dimana syafira tadi duduk.


"Iya ada yang ketinggalan."


"Apa??? Gak ada apa-apa kok!" Ucap kak vano dan kak dika bersamaan.

__ADS_1


"Ada kok... Tapi bukan barang. Tapiii____"


Syafira sengaja memotong ucapannya untuk membuat keduanya penasaran. Dan benar saja, alis keduanya mengernyit tanda kebingungan.


Dan ucapan syafira selanjutnya membuat keduanya terpelongo tak percaya.


"Assalamu'alaikum!!! Bye kak dika... Bye kak vano... Hati-hati dijalan... Sekali lagi, assalamu'alaikum...!" Ucapnya seraya langsung berlari meninggalkan keduanya.


Saat baru saja masuk ke dalam mansion, syafira di sambut dengan keberadaan mama dan oma nya yang sedang duduk bersama di sebuah sofa yang tersedia di ruang tamu.


"Mama... Oma... Isya sudah pulang...!!" Ucapnya saat menyapa keduanya.


"Kok baru pul___"


"Eh, tunggu sebentar ma! Ada yang kelupaan!" Ucap syafira menghentikan ucapan sang mama, dan buru-buru kembali keluar.


Beberapa saat kemudian...


"Assalamu'alaikum... Mama... Oma.... Isya sudah pulang...!!" Ucapnya lagi, yang membuat sang oma dan sang mama kebingungan. Pasalnya syafira tidak membawa apa-apa saat sudah kembali.


"Katanya ada yang kelupaan, apa??? Kok gak bawa apa-apa?!!" Tanya sang mama, yang bernama siska.


"Itu tadi... Kan udah. Mama aja sama oma yang gak ngejawab!" Ucap syafira.


"Hah??? Apaan sih sya?!! Orang mama gak liat kamu bawa apa-apa kok?! Aneh kamu..." Sanggah mama siska.


"Memangnya siapa yang bilang, kalau isya kelupaan barang ma....!?" Ucap syafira.


"Lah??? Terus???" Ucap sang mama dan sang oma berbarengan.


"Salam!" Ucap syafira singkat.


"Salam? Maksudnya??!!!" Ucap sang mama dan sang oma berbarengan lagi, dan semakin kebingungan.


"Astaga mama... Oma.... Masa' salam aja gak tau sih... Salam itu, assalamu'alaikum oma... Mama..." Terang syafira.


"Jadi kamu balik keluar, dan bilang kelupaan sesuatu itu... Cuma mau ngucapin assalamu'alaikum???" Tanya sang oma, yang bernama sofiah. Dan ucapan oma sofiah di setujui mama siska, karena mama siska juga akan mengatakan itu, tapi sudah keduluan oma sofiah.


"Iya! Memang kenapa? Salah oma?!!" Jawab syafira.


"Nggak kok, gak salah. Cuma, tumben saja gitu... Ada apa?!" Ucap sang oma.


"Gak ada apa-apa kok! Cuma kata sahabat baru isya... Jika mau masuk rumah itu, usahakan ngucapin salam katanya. Agar setan yang mengikuti kita di luar rumah, tidak ikut masuk ke dalamnya... Gitu katanya oma..." Jelas syafira.


"Ooh... Bagus bagus! Siapa dia? Ah tidak, siapapun dia... Sebaiknya kamu jangan melepaskan teman yang seperti itu. Dia bisa saja akan terus membimbing dan merangkul mu... Kenapa oma menyuruhmu jangan melepaskan teman seperti dia itu, karena sangat jarang di jaman seperti sekarang ini, ada orang yang mau mengajak dan membimbing kita ke jalan yang benar. Yang banyak malah sebaliknya. Ingat isya... Berhati-hatilah dalam memilih teman. Jangan sampai salah pergaulan. Ingat itu...!!" Saran sang oma.


"Siap oma ku sayang....." Ucap syafira seraya memeluk sang oma.


"Isya sayang, kamu beneran punya teman nak... Syukurlah... Mama ikut seneng dengernya! Semoga saja temanmu itu baik ya sayang..." Ucap sang mama yang juga merasa ikut senang, karena syafira telah sedikit demi sedikit menghilangkan rasa traumanya.


Ya... Syafira memang memiliki trauma masa kecil. Karena waktu syafira masih kecil, ada insiden yang menyebabkan trauma berkepanjangan dalam diri syafira. Yaitu tidak mempercayai orang-orang disekitarnya (kecuali keluarganya), terutama orang-orang yang baru dikenal nya.

__ADS_1


Itu sebabnya, syafira menjadi sosok yang kuat untuk dirinya sendiri. namun di salah artikan bagi sebagian orang yang mengenalnya dan bahkan baru kenal. Syafira akan di cap sebagai sosok orang yang sombong dan angkuh.


Namun yang sebenarnya adalah... Tidak sama sekali. Itu semua disebabkan karena rasa traumanya akan orang-orang disekitarnya, sehingga membuat syafira mengacuhkan hampir semua orang yang berada di sekitarnya itu.


__ADS_2