
Keesokan harinya...
Saat tiba di depan gerbang universitas ketiganya berpapasan dengan cara bergilir.
Syafira dengan mobil beserta sopirnya.
Syafina dengan motor matic nya.
Dan syafila dengan sepasang sepatu nya.
Benar... Syafila saat ini tengah berjalan kaki.
Syafila berjalan kaki di karenakan dia ngekos di dekat universitas tersebut. Dan yang kebetulannya lagi, kosannya tepat berada di seberang universitas tersebut.
Syafila ngekos, karena di antara mereka bertiga hanya syafila lah yang orang luar daerah kota S, yang mau tidak mau harus ngekos.
Dan syafila lah yang sampai terlebih dahulu di banding keduanya. Disusul syafira, lalu syafina.
"Hai sya...." Ucap syafira yang baru saja turun dari mobilnya, dan kebetulan berpapasan dengan syafila.
"Hai juga sya...." Balas syafila.
"Kok lo jalan kaki sih?" Tanya syafira bingung melihat teman barunya itu berjalan kaki.
"Ya... Karena saya memang pengen jalan kaki. Gak etis kan... Kalo kita tinggal nya hanya lima langkah dari kampus, tapi masih naik angkutan umum... Hihihi." Jawab syafila seraya cekikikan.
"Iyakah? Lo tinggal di sini? Dimana? Kok gue baru tau sama ketemu lo kemaren, Kalo lo emang tinggal di sekitar sini?" tanya syafira lagi dengan beruntun.
"Nanya nya satu-satu atuh sya... Hihihi... Pertama saya memang tinggal di sini, tapi bukan asli orang sini. Saya pindahan dari universitas di kota M. Dan yang kedua, saya tinggal di sana. Di kosan itu tepatnya." Ucap syafila menerangkan seraya menunjuk arah tempat tinggal nya yang sekarang.
"Oaalaaah.... Gitu tach! Kirain...! Hihihi." Ucap syafira lagi. Sedang syafila hanya mengangguk membenarkan.
Setelah beberapa saat berbincang, tiba-tiba ada suara orang yang menyapa dari arah belakang mereka. Karena memang saat ini keduanya sedang memunggungi jalan, tapi tidak sampai menghalangi.
"Assalamu'alaikum sya..." Ucap orang itu.
"Wa'alaikumussalaam...." Ucap keduanya.
"Eh sya... Baru sampai?" Ucap syafila.
"Iya sya... Kalian sudah dari tadi? Kok masih disini?" Ucap syafina yang masih berada di atas motor matic nya.
"Kami juga baru saja nyampe' kok sya... Iyakan sya... Eh?!" Ucap syafira, dan kemudian sedikit bingung dengan ucapan nya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa sya...?" Tanya syafina.
"Ah tidak, tidak kenapa-kenapa kok. Udah yuk masuk, kagak enak ngobrol di jalan kayak gini..." Ucap syafira lagi, yang di angguki keduanya.
' sya... Sya... Sya. Syafira, syafina, syafila. Au ah memusingkan! ' fikir syafira seraya memutarkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya, karena merasa pusing hanya karena sebuah nama.
Sementara syafila dan syafina masih belum menyadari keanehan dan keunikan dari nama mereka. Sedang syafira telah sedikit menyadarinya. Sedikit, hanya sedikit saja.
*****
Sesampainya di kelas mereka...
"Udah siap untuk hari ini?!" Seru syafila pada keduanya.
"Siap dong...!"
"In syaa allah siap."
Ucap syafira dan syafina berbarengan namun beda kata.
"Hahahaha...." Ketiga nya tertawa bersama.
Itulah keunikan mereka bertiga...
Selain dari nama yang hampir sama, kelas, jurusan, juga jadwal kelas pun sama. Takdir memang tiada yang tau.
"Ada apa?" Ucap keduanya berbarengan.
"Eh..." Ucap syafina sedikit merasa bingung saat mendapat respon keduanya. sama seperti yang dirasakan syafira tadi. Padahal niatnya hanya ingin memberi tau syafira seorang.
"Kenapa sih sya... Eh..." Ucap keduanya lagi berbarengan, lalu tertawa bersama karena berucap selalu bersamaan. Tapi masih tidak begitu memperhatikan keunikan dari mereka.
Setelah puas tertawa bersama, akhirnya syafira pun berucap.
"Barusan lo mau ngomong apaan sya?" Tanya nya pada syafina.
"Ah itu.... Saya cuma mau bilang kalau mau menyanggupi sesuatu itu, harus di iringi kata ' in syaa allah '. Udah, mau katakan itu saja, gak ada yang lain." ucapnya seraya tersenyum.
"Maksudnya?" Tanya syafira bingung.
"Maksud dari perkataan syafina tuh sya.... Misalkan ada yang bertanya sama kamu. Sya kamu mau ke kampus?. Jangan langsung jawab iya iya aja, tapi di iringi kata... Iya in syaa allah saya akan ke kampus. gitu sya.... Karena kita tidak tau kedepannya akan seperti apa. Bisa jadi kamu gak jadi kuliah, karena mendadak ada urusan yang tidak mungkin bisa kamu tinggalkan. Contohnya kurang lebih seperti itu. Benar begitu kan sya... Eh..?!" Bukan syafina yang menjawab, melainkan syafila. Dan pas di akhir kalimat, syafila merasa bingung juga, sama seperti yang di rasakan syafira dan syafina tadi.
' ah, terserah lah. ' batin syafila.
__ADS_1
"Mendekati benar." Ucap syafina.
"Lah bukannya sama-sama ke kampus ya? Entah itu di iringi kalimat in syaa allah atau pun tidak?!" Ucap syafira sedikit menyanggah, karena tidak mengerti akan hal itu.
"Begini ya sya... Jika kamu berkata sesuatu, tetap iringi lah dengan kalimat in syaa allah. Karena kalimat itu bisa dibilang, kalimat perintah langsung dari allah yang bisa dibilang wajib di ucapkan ketika kita ingin menyanggupi atau pun ingin membenarkan sesuatu, tapi kita tidak tau kedepannya akan seperti apa. In syaa allah, yang berartikan... ' jika allah mengizinkan '. Menjurus pada... Jika tidak semua hal itu atas kemampuan kita, melainkan atas izin darinya. Apa sekarang kamu mengerti?!" Ucap syafina yang menjelaskan panjang lebar.
"Emmm... Sedikit... Tapi nanti akan gue coba...! In syaa allah kan?!!!" Ucap syafira.
"Alhamdulillah..."
"Bagus lah..."
Ucap syafina dan syafila berbarengan.
"Mau saya ceritakan asal mula turunnya kalimat in syaa allah? " tanya syaina.
"Boleh." ucap syafira. Sedang syafila hanya mengangguk, karena sedikit banyaknya dia sudah tau cerita itu.
"Menurut riwayat... ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada nabi Muhammad Saw. Tentang kisah ash-habul kahf (penghuni goa), dan kisah dzulkarnain. Lalu beliau menjawab, ' datanglah esok pagi kepadaku, agar aku ceritakan kepadamu '. Dan beliau tidak mengucapkan ' in syaa allah '. Tapi rupanya sampai esok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut, sehingga nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 suroh ke 18. Yaitu suroh al-kahf. Yang artinya... ' dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, "aku pasti akan melakukan itu esok pagi," Kecuali (dengan mengatakan) "in syaa allah". Dan ingatlah kepada tuhanmu apa bila engkau lupa dan katakanlah, "mudah-mudahan tuhan ku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini. ' (QS. Al-kahf 23-24). Begitulah kurang lebih. Wallahu a'lam bisshowab." Ucap syafina sedikit menceritakan apa yang ia ketahui.
"Baiklah, karena ini perintah allah. Akan gue coba mengucapkannya mulai hari ini...!" Ucap syafira mantap.
"In syaa allah....!!!" Seru syafila dan syafina bersama.
"Ah iya, in syaa allah. Hehehe... Lupa!" Ucap syafira sambil cengengesan serta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tingkah syafira yang seperti itu, di sambut syafina dan syafila dengan tawa, dan tawa itu pun menular pada syafira.
Sedang diluar pintu kelas, ada sesosok tubuh yang tengah mendengarkan perbincangan ketiga nya dengan tersenyum.
' Masya Allah.... ' ucapnya dalam hati seraya berlalu pergi.
Pas sekali, saat mereka sudah menghentikan perbincangan mereka, dosen pun tiba. Yang mengharuskan ketiga nya benar-benar menghentikan perbincangan seru mereka.
Begitulah manusia yang sebenarnya...
Tidak hanya tau untuk menyalahkan, tetapi juga tau apa solusinya. Dan menjelaskan nya dengan lembut agar orang yang kita koreksi mengerti dengan perlahan.
Tapi jika kita menjelaskan nya dengan emosi, maka sebaliknya yang kita dapatkan. Yaitu juga emosi yang kita dapat dari orang tersebut. Karena orang itu mungkin akan merasa telah di remehkan dan merasa di injak-injak harga dirinya, akibat dari emosi kita.
Dan bukannya damai yang kita peroleh, melainkan perpecahan yang semakin nyata yang kita hadapi.
Apalagi jika orang itu adalah orang terdekat kita... Jadi, berhati-hatilah dalam berucap! Bertutur lah dengan lembut.
jika memang ingin menasehati, bicaralah dari hati ke hati.
__ADS_1
Jangan hanya kita saja yang tidak ingin disinggung. Orang lain pun sama...
*****