
"Pertanyaan? Pertanyaan apa???" Tanya mama siska.
"Papa, sama tuh dua kurcaci...!" Ucap syafira.
"Ya ampun isya...! Tadi tuyul, sekarang kurcaci?!! Gitu-gitu, mereka itu keponakanmu ya!!!" Protes mama siska lagi.
"Ya ampun mama...! Tinggal jawab aja,susah amat." Ucap syafira yang menirukan gaya bicara sang mama.
"Kamu ini!"
"Mama ini!"
"Isya!"
"Mama!"
"Huuuuf....!"
"Huuuuf....!"
"Huuuuf... Papa belum pulang, mungkin terkena macet. Kalau keponakan mu tidak tau di bawa kemana sama bibi ratih. Mungkin di taman belakang. Mama juga tidak tau." Ucap mama siska yang akhirnya menyerah.
"Oke deh mama... Teng kiyu informasinya...! Isya mau bersih-bersih diri dulu, terus mau nyari tuh anak tuyul dua. Love you mama... Emmuach!!" Ucap syafira seraya bangkit dan mencium pipi sang mama, lalu berlari-lari kecil menuju kamarnya.
"Anak itu!" Ucap mama siska lirih seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun tiba-tiba syafira kembali lagi ke hadapan mama siska dan oma sofiah.
"Kenapa lagi...?!!!" Ucap mama siska yang merasa gemas dengan putri satu-satunya itu.
"Ada yang kelupaan!" Ucapnya.
"Apa?! Gak ada apa-apa kok di sini." Ucap mama siska.
"Assalamu'alaikum...!" Ucap syafira seraya menaik turunkan alisnya lalu membalikkan badannya dan kembali berlari-lari kecil. Dan kali ini benar-benar pergi.
"Astagaaa..." Ucap mama siska lagi seraya memijat-mijat pangkal hidungnya.
"Wa'alaikumussalaam siska... Bukan malah astaga! Kamu ini." Ucap oma sofiah.
"Ah iya... Wa'alaikumussalaam. Untung ibu ingatkan...!" Ucap mama siska.
"Oh iya... Ngomong-ngomong soal dua tuyul___"
"Ibuuu.....!!!"
"Eh, keceplosan. Gara-gara anakmu itu, ibu jadi ikut-ikutan kan..." Ucap oma sofiah.
Sedang mama siska yang mendengar ucapan oma dari anak-anaknya, hanya menghela nafas dan pasrah.
"Terserah ibu lah! Memangnya ibu mau mengatakan apa tentang CICIT-CICIT IBU....?!" Ucap mama siska dengan sedikit menekan kata 'cicit-cicit ibu'.
__ADS_1
"Ya ampun siska... Gitu aja marah. Tau kalau mereka itu cucu-cucu mu...." Ucap oma sofiah.
"Cicit ibu juga...!" Ucap mama siska tidak mau kalah.
"Iya iya... Tau...! Kamu ini ya."
Hening...
"Ibu... Katanya mau ngomong soal anak-anak, apa tidak jadi?!!" Ucap mama siska setelah beberapa saat saling diam.
"Lah, iya ya. Kamu sih sis... Ibu jadi lupa kan." Ucap oma sofiah.
"Kok jadi siska sih bu!" Ucap mama siska tidak terima.
"Sudahlah! Dan iya, ibu cuma mau nanya soal pengasuh anak-anak. Gimana apa belum nemu yang cocok??" Ucap oma sofiah.
"Huuuuf... Itu dia masalahnya bu... Siska rasa-rasanya akan menyerah bu, untuk mencarikan pengasuh buat mereka. Mereka terlalu menjaga jarak dengan orang yang baru mereka temui..." Ucap mama siska dengan nada lesu.
"Tapi kasian ratih, kalau dia masih harus mengasuh mereka... Seandainya mereka mau sama salah satu ART, kita kan gak perlu susah-susah nyari pengasuh lagi." Ucap oma sofiah.
"Nah... Itu ibu tau... Tapi mau gimana lagi bu... selain dengan kita... Mereka maunya hanya dengan bibi ratih aja." Ucap mama siska.
"Memang sean kapan pulang? Betah amat perasaan di kota orang. Jangan-jangan malah ngegunain kesempatan dalam kesempitan tuh anak. Jadi gak ingat deh, kalo ada dua bocah yang di tinggalnya di belakang." Ucap oma sofiah.
"Kalo sean beneran kerja gantiin papanya bu... Lah kalo cucu tengil ibu itu!!? temen-temen yang nemenin dia aja udah pada pulang... eh, dia masih ngaret aja. Pas ditanya kapan pulang, pasti akan ada saja alasannya... Mending kalo ada istri yang mendampingi, bisa saja sambil honey moon_an seperti kata ibu. Lah ini?!!! Jomblo akut aja sok ngaret-ngaret. Awas saja nanti pas pulang tuh anak!" Ucap mama siska saat mengingat anaknya yang lain.
"Itulah anakmu!!" Ucap oma sofiah.
"Iish kamu ini... Lagian kenapa bisa sampai ke anak-anak kamu sih?! Kan tadi ibu nanya nya pengasuh buat anak-anak sean...!" Ucap oma sofiah.
"Iya ya bu... Kok bisa sampai ke tuh anak tengil ya bu...?" Tanya mama siska pada oma sofiah. Yang hanya di jawab kedikan bahu oleh oma sofiah.
"Sudahlah, ibu mau ke kamar ibu dulu." Ucap oma sofiah seraya berdiri dari duduknya.
"Iya bu..."
*****
Disisi lain...
"Assalamu'alaikum... Isya pulang..." Ucapnya seraya masuk ke dalam rumah, setelah sesaat tadi memarkirkan motornya terlebih dahulu.
"Wa'alaikumussalaam... Ya allah isya... Kenapa baru pulang nak..." Tanya sang ibu saat baru melihat sang anak masuk rumah.
"Kan isya tadi udah bilang ke mama... Kalo motor isya tiba-tiba MATOT, MAti TOTal ma... Yang mengharuskan isya mau tidak mau harus ke bengkel dulu... Maaf ya ma, kalo udah bikin mama khawatir..." Ucap isya isya itu. Yang tidak lain adalah syafina, sambil mencium tangan sang ibu.
"Iya gak papa kok... Yang penting kamu selamat sampai rumah. Ya udah, kamu bersih-bersih gih. Abis itu kita makan bersama." Ucap sang ibu yang bernama fatimah.
"Oh iya sya... Apa isya udah sholat maghrib?!" Tanya mama fatimah.
"Udah kok mah... Tadi di masjid depan. Karena kebetulan isya udah nyampe' daerah sana yang pas adzan." Jelas syafina pada sang mama.
__ADS_1
"Ooh ya udah kalo gitu. Oh iya, teman kamu yang katanya nemenin kamu di bengkel mana? Gak di ajak mampir...?" Tanya mama fatimah.
"Emmm... Itu mah. Apaaa... Dia gak bisa ma, karena___" Ucapan syafina terpotong karena bingung harus menjelaskannya gimana pada sang mama.
"Karena???" Ucap mama fatimah mengulang perkataan syafina yang terpotong.
"Karena___" ucapan syafina kembali terpotong. Namun kali ini bukan di sengaja, melainkan karena ada suara lain yang memotong.
"Assalamu'alaikum..." Ucap suara itu seraya tersenyum melihat syafina dan mama fatimah berada di sana.
"Wa'alaikumussalaam..." Jawab keduanya. Syafina dan mama fatimah.
"Kakak... Kakak juga baru pulang...?" Seru syafina setelah menjawab salam, dan ketika sudah melihat dengan jelas siapa yang telah memotong ucapannya.
"Iya... Oh iya dek! Tadi temen kakak, sekitar jam setengah limaan kayak yang ngeliat kamu di sebuah bengkel, apa benar itu kamu?!" Ucap orang yang dipanggil syafina dengan sebutan kakak itu, yang ternyata adalah kakak kandung syafina yang bernama ahmad.
Seraya mencium tangan mama fatimah, dan syafina mencium tangan sang kakak.
"Mungkin. Bisa jadi kak! Soalnya sekitar jam segituan isya memang ada di bengkel, karena tiba-tiba motor isya matot. Gak tau kenapa. Tapi, kalau bener teman kakak ngeliat isya, kok isya gak tau sih kak?!" Ucap syafina.
"Kan cuma kayak yang ngeliat sya... Bukan nyamperin dan menyapa... Kamu ini.!" Ucap ahmad sang kakak seraya mengusap kepala syafina yang terbalut jilbab lebarnya.
"Hehehe... Iya ya kak, isya lupa." Ucap syafina sambil cengengesan.
"Hemmm... Dasar! Dan iya, Kamu bareng siapa kesananya?!" Tanya kak ahmad lagi.
"Emmm... Isya... Isya bareng sama temen kak. Tapi... Laki-laki." Ucap syafina dengan jujur seraya menundukkan kepalanya karena takut jika kakak dan mamanya marah akan hal itu.
"Laki-laki!!!" Seru keduanya dengan mata yang sama-sama melotot karena terkejut.
Pasalnya... yang keduanya tau, syafina tidak pernah dekat dan sangat-sangat menjaga jarak dengan orang yang bernama laki-laki.
Dan mendengar seruan itu, syafina semakin memperdalam tundukkan kepalanya.
"I..i..iya kak... Ma..." Ucap syafina masih dengan kepalanya yang menunduk.
"Kenapa???" Ucap keduanya.
"Maksudnya?" Tanya syafina yang mendadak otaknya ngebleng disebabkan karena rasa takutnya yang mendominasi.
"Ya ampun isya... Maksudnya, kenapa laki-laki...? Kenapa tidak perempuan? Gitu..." Ucap kak ahmad.
"Karena... Karena terpaksa kak..." Ucap syafina.
"Terpaksa???" Ucap kak ahmad dan mama fatimah bersamaan.
"Iya... Terpaksa... Karena___" dan mengalirlah cerita syafina dari A sampai Z, tanpa ada yang di tutup-tutupi dari keduanya. Karena memang sejak kecil syafina tidak pernah berbohong, dan sikap itu sudah di pelajari syafina sejak ia masih berusia dini, maka tertanamlah hingga sampai saat ini.
Dan yang menanamnya pertama kali, hanya menikmati buah hasil tanamannya, yang berbuah manis itu.
*****
__ADS_1