
"Apa kalian sudah pesan? Maaf gue lama." Ucap syafira setelah sampai di hadapan kedua temannya.
"Iya gak papa kok. Dan kita berdua sudah pesan tadi, mungkin bentar lagi bakal datang pesanan kita. Sebaiknya kamu makan gih. Keburu sangat dingin nanti..." Ucap syafina. Sedang syafila hanya manggut-manggut.
"Gue nunggu pesanan kalian berdua juga sampai aja deh, terus kita makan bareng. Gak enak kalo makan sendirian." Ucap syafira.
"Tapi makanan kamu nanti akan sangat dingin gimana?!" Ucap syafila.
"Udah... Gak papa. Kan enak, gak usah niup-niup gitu... hehehe..." Ucap syafira.
"Terserah kamu saja deh...?" Ucap syafila lagi. Sedang syafina hanya tersenyum.
"Oh iya sya... Apa yang kamu ucapkan tadi itu beneran kan...? Atau... Karena hanya ada perempuan itu tadi kamu terbawa emosi, terus tanpa sengaja ngucapin kalimat itu?!" Tiba-tiba saja syafina bertanya pada syafira seperti itu.
"Yang gue ucapkan??? Yang mana???" Ucap syafira bingung.
"Ituuu... Yang soal sahabat!" Ucap syafina lagi.
"Sahabat? Siapa?" Ucap syafira masih tetap bingung.
"Kata kamu kan... Aku, kamu, bahkan mungkin syafila juga..."
"Masih tetep gak ngerti." Ucap syafira.
"Huuuuf... Mungkin tadi kamu yang ngucapin itu karena emosi, itu sebabnya kamu tanpa sadar yang ngucapin itu." Ucap syafina lesu.
Sedang syafila hanya mendengarkan saja. Sebab ia tidak tau apa yang di bicarakan keduanya. Karena pada saat syafira mengucapkan itu semua, syafila sedang kabur ke toilet.
"Tunggu dulu dong sya... Jangan cemberut gitu ih. Jelek tau! Bentar, gue ingat-ingat dulu." Ucap syafira sambil mengingat-ingat apa saja yang ia ucapkan tadi. Namun yang syafira ingat hanyalah wanita bercadar tersebut beserta kemarahannya pada wanita itu.
Namun demi teman yang menurutnya baik, syafira tetap mengingat-ingat apa saja yang ia ucapkan. Walau sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis bayangan wanita bercadar itu.
"Ah aku ingat!" Ucap syafira heboh.
Namun setelahnya... Usai mengucapkan ' aku ingat ', syafira langsung cemberut. Dan bahkan mungkin sudah lupa akan ucapannya yang mengatakan syafina kalau cemberut jelek.
"Lah! Tadi sok-sokan bilang syafina kalau cemberut jelek. Tapi sekarang, malah di ganti kamu. Jadinya kamu mau di katai apa toh sya... Hihihi..." Ucap syafila meledek.
Sedang yang diledek hanya semakin cemberut mendengarnya. Namun dalam hatinya ia merutuki kebodohannya, yang telah melupakan ucapannya sendiri.
"Huuh! Au ah gelap! Gue rasa di sini cuma gue aja yang nganggep. Tapi kalian tidak!" Ucap syafira sedikit ketus.
"Lah, kok gitu."
"Maksudnya?!!"
Ucap syafina dan syafila berbarengan. Namun berbeda kata.
Syafina yang mengatakan ' lah kok gitu ' karena dia sudah mengerti atas ucapan syafira.
Namun berbeda dengan syafila yang tidak mengerti dan mengetahui apapun yang di ucapkan syafira, makanya dia mengatakan ' maksudnya '.
"Iyalah...! Berarti di sini cuma gue yang nganggep kalian tuh sahabat. Tapi kalian berdua tidak! Jujur... Gue sebenernya susah nyari temen dari dulu. Tapi sekalinya nemu, malah gak di anggap! Sial sekali nasib gue..." Ucap syafira.
"Tunggu tunggu! Jadi ini masalah pertemanan??? Pertemanan kita...?!! Yaelah syaa... Kalo saya tuh dari awal ketemu sama kalian... Ah tidak, maksud saya dari insiden perihal nama kita, dan kita juga tertawa bersama waktu itu, terus... Kita berkenalan dengan baik-baik, dari waktu itu juga saya udah nganggep kalian tuh temen saya. Yaa walaupun ada sedikit kesalah pahaman dan perdebatan di awal... Hihihi... Saya aja gak nyangka loh, kalo bakalan cepat menemukan teman. Apalagi itu kalian!. Jika waktu itu tidak ada kesalah pahaman, mungkin saat ini saya masih sendirian tanpa adanya teman ngobrol. Mengingat kalian yang mungkin akan sulit di sentuh. Syafina dengan sifat kalem dan pendiamnya... Membuat saya harus berfikir dua kali untuk berbincang dengannya, karena takut tidak direspon. Dan syafira dengan sifat yang menurut saya sedikit angkuh dan tidak mau mengalah, membuat saya juga harus berfikir dua kali. Karena mungkin akan merasa ngeri-ngeri takut untuk menyapa terlebih dahulu. Apalagi saya dari kampung... Takutnya bukan malah berteman, tapi malah di buli. Tapi takdir yang kuasa mempertemukan kita dengan cara yang unik, jadi saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sang kuasa berikan. Itu pemikiran saya... Entah kalau kalian berdua." Ucap syafila panjang kali lebar.
"Saya juga sama! Saya juga sudah menuliskan nama kalian menggunakan tinta emas dalam hati saya..." Ucap syafina membenarkan walau dengan sedikit bercanda.
"Jadi tidak hanya gue saja yang menganggap kalian sebagai teman sekaligus sahabat?!" Ucap syafira, dan di angguki keduanya.
"Waaah... Berarti perasaan gue tidak bertepuk sebelah tangan dong..." Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Yeee.... Dikira pacaran apa ya, sampe' bertepuk sebelah tangan segala...?!" Ucap syafila.
Ketiganya pun tertawa bersama... Ada bahagia juga haru, yang menghiasi hati mereka saat ini.
"Berarti kita sekarang udah resmi jadi best friend...?!!" Tanya syafira antusias, seraya mengulurkan jari kelingkingnya di depan syafila dan syafina.
"Iya... Best friend forever..." Ucap syafila yang juga mengulurkan serta mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking syafira.
"Best friend forever dunia akhirat." Ucap syafina menambahkan kata-katanya seraya mengikuti apa yang di lakukan syafila pada syafira.
Syafila dan syafira saling melirik lalu berucap bersama, apa yang di ucapkan syafina.
"Best friend forever dunia akhirat..." Ucap keduanya, dan ketiganya pun kembali tertawa bersama.
Sampai tiba-tiba sebuah suara menghentikan tawa mereka bertiga.
"Permisi neng... Ini pesanannya. Maaf lama, tadi harus bikinin yang lainnya dulu... Yang sudah pesan terlebih dahulu neng..." Ucap mamang penjual di kantin tersebut.
"Iya mang... Gak papa kok. Kami ngerti..." Ucap syafina.
"Iya neng, makasih atas pengertiannya. Silahkan dinikmati makanannya, mamang permisi dulu."
"Iya mang, silahkan..." Ucap syafina lagi.
Sebelum mereka menyantap makanan yang mereka pesan, syafila berucap...
"Perempuan bercadar itu tadi, sebenarnya siapa kamu sih sya...?!" Tanyanya seraya menatap ke arah syafira.
"Hemmmz huuuuf... Nanti gue ceritain. Untuk sekarang kita makan dulu. Laper gue, tenaga gue habis di serap tuh nenek lampir!." Ucap syafira.
Sedang syafina yang juga mendengar Pertanyaan syafila, sedikit menyenggol lengan syafila untuk memberikan isyarat.
Syafina yang melihatnya pun mendengus, kemudian tersenyum.
Saat syafira, syafila, dan syafina akan mulai menyantap makanan masing-masing, tiba-tiba syafila berucap seraya mendongak sambil sedikit menggebrak meja.
"3G!!!" Serunya saat tiba-tiba teringat akan apa yang membuat nya dejavu tadi, saat berpapasan dengan wanita bercadar.
"Kenapa lo sya...?!"
"Kamu kenapa sya...?!
Ucap syafira dan syafina bersamaan.
"Ah tidak, tidak kenapa-kenapa kok. Maaf ya, kalo saya sudah ngagetin kalian. Ayo di lanjut makannya." Ucap syafila sambil cengengesan.
Syafila yang menyuruh untuk melanjutkan makan, tapi dirinya malah hanya menusuk-nusuk makanannya.
"Makanannya dimakan toh sya... Jangan cuma di tusuk-tusuk gitu. Gak bakal jadi sate juga kan tuh makanan kalau hanya ditusuk-tusuk terus...!" Ucap syafina saat melihat syafila yang hanya menusuk-nusuk makanannya.
"Ini gue lagi makan sya..." Ucap syafira.
"Ah, iya sya..." Ucap syafila.
Syafira dan syafila berucap berbarengan, yang membuat ketiganya saling tatap dan kemudian...
"Hehehehe...." Ketiganya langsung terkekeh bersama, dan yang sepertinya mulai menyadari sesuatu.
"Sudah sudah, ayo cepat makan" ucap syafina saat sudah menghentikan kekehannya. Dan di angguki keduanya.
Dan ketiganya pun mulai menyantap makanan yang mereka pesan. Sesekali akan diselingi dengan kata, canda maupun tawa kembali.
__ADS_1
Mengingat perbedaan sifat ketiga nya, akankah mereka bertiga bisa benar-benar menyatukan segala perbedaan itu...?
Dan mampukah mereka menjadikan perbedaan itu arti sahabat yang sebenarnya...?
Akankah persahabatan mereka terus menjulang tinggi, atau malah sebaliknya! terjerumus.
Jika salah satu nya tidak mengalah, maka akan terkalahkan oleh ego. Dan akhirnya pecah!
Tapi jika sebaliknya... Jika salah satunya terus mengalah, tapi yang satunya lagi tidak mau mengalah. bisa jadi akan menjerumuskan yang merasa menang. Dan parahnya lagi yang terus mengalah akan ikut terjerumus bersama yang merasa harus terus menang.
Memang... Mengalah bukan berarti kalah.
Tapi tidak baik juga untuk terus mengalah demi membahagiakan seseorang.
Mengalah boleh... Tapi di situasi yang tepat.
Ada kalanya juga, dimana kita dibutuhkan dan dituntut untuk bersikap tegas. Seharusnya itu tidak akan pernah jadi masalah jika dia benar-benar tulus terhadap kita.
Apalagi kalau sampai dalam suatu hubungan saling mengalah. Mungkin tidak akan ada lagi julukan neraka di dunia... Melainkan surga dunia...
Tidak lah mesti harus terus mengalah demi mempertahankan suatu hubungan.
Karena bisa jadi dia akan semakin ngelunjak jika kita bisanya hanya terus mengalah dan mengalah.
Dalam suatu hubungan.....
Sangatlah penting untuk saling berkomunikasi. Asal dengan komunikasi yang baik, yang tidak menyakiti salah satunya.
\*\*\*\*\*
__ADS_1