
"Jadi, cewek tadi itu siapa?" Tanya syafila to the poin.
"Dia itu orang yang pernah ngedeketin gue dulu dengan dalih ingin temenan. Padahal awal-awalnya gak gitu... Malah terkesan acuh. Sampai akhirnya dia tau kalo aku adalah salah satu anak dari keluarga ardhen karena kecerobohan ku sendiri... Karena hal itulah dia sangat gencar ingin berteman denganku. Tapi tetap tidak aku pedulikan. Dan puncaknya___"
"Kenapa berhenti?" Tanya syafila.
"Kalo gak mau di ceritakan, gak papa kok." Ucap syafina yang melihat raut wajah syafira yang sepertinya memang berat untuk menceritakan.
"Nggak kok. Aku akan cerita... Bukankah kita sudah berkomitmen untuk tidak menyembunyikan apapun dalam persahabatan kita? Jadi aku akan tetap cerita tanpa ada yang ku di sembunyikan." Ucap syafira.
"Ra... Memang benar kita telah berkomitmen seperti itu... Tapi kita juga punya privasi sendiri ra, yang tidak semuanya bisa kita ceritakan. Itu adalah hak kita." Ucap syafina bijak.
"Iya memang benar kita memiliki hak privasi itu, tapi aku juga berhak untuk cerita kan? Jadi aku akan bercerita." Ucap syafira yang kekeh akan bercerita.
"Baiklah, terserah padamu saja... Itu adalah hak kamu..." Ucap syafina seraya tersenyum.
"Huuuuf... Dan sampai puncaknya, dia menyewa dua orang preman untuk menculik dan melecehkan ku. Karena aku benar-benar tidak merespon permintaan pertemanan darinya itu, dia malah berbuat semacam itu." Ucap syafira melanjutkan ceritanya yang sempat terhenti.
"Astaghfirullah ra... Tapi kamu gak kenapa-napa kan...?!!" Tanya syafila dan syafina berbarengan dengan rasa tak percaya, cewek itu mampu melakukan hal itu demi sebuah nama. Yaitu pertemanan.
"Astaga... Kalian lebay banget deh! Kalo aku kenapa-napa, saat ini mungkin aku gak bakal ketemu sama kalian... Ada-ada saja! Hehehe..." Ucap syafira seraya terkekeh.
"Yee... Maksudnya tuh waktu itu... Dasar!" Ucap syafila yang tadinya simpatik berubah mencebik.
Saat syafira akan mengatakan sesuatu saat syafila mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba ada suara lain di antara mereka bertiga.
"Permisi neng... Ini pesanannya..." Dan ternyata suara itu berasal dari suara si mamang penjual.
"Makasih mang..." Ucap ketiganya.
"Sama-sama neng..." Ucap si mamang, lalu pergi meninggalkan ketiganya.
"Oke, aku lanjut ya ceritanya..." Ucap syafira saat melihat si mamang penjual telah pergi, dan melupakan yang akan di katakan nya tadi pada syafila.
Dan di jawab dengan anggukan oleh syafina dan syafila.
"Dan untungnya... Aku bisa bela diri! Tinggal sat set sat set, dah...! Keok deh tu preman dua." Ucap syafira dengan bangganya.
"Bela diri?!!" Seru syafina.
"Benarkah? Jadi kamu jago bela diri?" Tanya syafila.
__ADS_1
"Ciaaah.... Baru tau dia!!" Ucap syafira dengan gaya sombongnya.
"Cih! Mulai... Mulai deh... Sombong..." Ucap syafila.
"Sorry sorry aja nih ya na... Bukannya sombong, tapi kenyataan... Hihihi..." Ucap syafira menyangkal ucapan syafila.
"Omongan sombong sama omongan kenyataan, gak ada bedanya kalo kamu yang ngucapin nya." Ucap syafila.
"Sudah ih. Debat terus perasaan... Sudah, makan dulu! Jangan di anggurin lagi tuh makanan. Dan jangan lupa baca doa sebelum memakannya." Tegur syafina pada kedua sahabatnya.
"Iya iya ustadzah... Hehehe..." Ucap syafira dan syafila dengan kompak, kemudian terkekeh.
Sedang syafina yang di ledek hanya cemberut, dan kemudian ikut terkekeh.
Selanjutnya... Mereka bertiga pun segera menyantap makanan masing-masing.
Beberapa menit kemudian...
Mereka bertiga telah menyelesaikan acara makan sore mereka, dan segera beranjak meninggalkan kantin tersebut. Setelah membayarnya.
Di taman kampus...
Tepatnya di salah satu bangku yang tersedia di taman.
"Stooop!!!!! Cukup! Pertama, aku beneran bisa bela diri. Kedua, seorang syafira ardhen gak suka ngada-ngada. Ketiga, syafira ardhen gak pernah ngibulin siapapun. Kecuali terpaksa. Dan yang terakhir... Aku, syafira ardhen, tidak akan pernah membohongi kedua sahabatku... In syaa allah." Ucap syafira yang cepat-cepat memotong ucapan syafila yang terus akan ada pertanyaan-pertanyaan 'gak,kan gak,kan' jika tidak di hentikan.
"Benarkah??"
"Iyakah??"
Ucap syafila dan syafina berbarengan, beda kata namun satu tujuan.
"Of course... Tentu saja!" Ucap syafira dengan yakin.
"Buktinya?" Tanya syafila yang seperti masih tidak percaya.
"Buktinya...? Bukankah dua preman itu adalah sebuah bukti yang nyata?!!" Ucap syafira.
"Kan kita tidak melihatnya secara langsung ra? Jadi kita perlu bukti yang nyata. Benarkan na...?!" Ucap syafila dengan meminta persetujuan dari syafina dan memberikan isyarat mata agar syafina menyetujui ucapannya.
Syafina yang mengerti akan isyarat dari syafila, yaitu karena keinginannya untuk melihat sendiri bela diri yang dimiliki oleh syafira.
__ADS_1
Namun tanpa diketahui syafila dan syafina, kode dan isyarat keduanya di ketahui oleh syafira.
"Ck, kagak usah pake' isyarat-isyaratan... Ngomong aja keles kalo KALIAN... TERUTAMA KAMU, LALA SAYANG... Ingin mengetahui dan melihat secara langsung aksi bela diri ku kan? Iyakan...?" Ucap syafira yang menekan kata 'kalian... Terutama kamu, lala sayang...' seraya memutarkan bola matanya.
"Hehehe... Kok bisa tau sih bestie...?" Ucap syafila seraya cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Hihihi... Kik bisi tii sih bistii... Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya!!" Ucap syafira yang meniru ucapan syafila dengan gaya mencibir, serta meniru kata-kata yang lagi viral.
Syafila yang mendengar ucapan syafira berubah jadi cemberut.
Sedang syafina hanya terkekeh melihat kedua sahabatnya itu.
"Oke, akan aku tunjukkan ilmu bela diri ku pada kalian berdua. Tapi masalahnya, siapa yang akan menjadi lawan ku??" Ucap syafira.
"Aha...! Karena yang ingin mengetahuinya adalah kalian, makaaa___" ucap syafira lagi, dan sengaja memotong ucapannya kali ini seraya melirik ke arah syafina dan syafila dengan senyum devil nya.
Syafina dan syafila yang merasakan tatapan syafira itu, menjadi ngeri sendiri.
"Apa?!!! Jangan aneh-aneh deh ra...!" syafila buru-buru protes sebelum syafira mengutarakan maksudnya.
"Jangan aneh-aneh gimana?! Aku kan gak ada bilang apa-apa..." Ucap syafira dengan pura-pura tidak mengerti.
"Sudahlah ra... Aku mengerti apa maksud ucapanmu yang sengaja kamu potong itu..." Ucap syafila dengan bersedekap dada.
"Ohohoho... Kau sudah mengerti rupanya! Karena kau sudah mengerti... Maka majulah!" Ucap syafira, dan di akhir kalimatnya raut mukanya berubah menjadi dingin dan datar, seolah tidak akan ada orang yang bisa menyentuhnya.
"Ra, jangan ngada-ngada deh ra... Aku gak bisa bela diri..." Ucap syafila yang tiba-tiba merasa takut akan ekspresi yang di tunjukkan syafira saat ini padanya. Begitu pula syafina.
"Maju!" Ucap syafira lagi masih dengan nada dinginnya.
"Ra... Jangan bercanda, ih!" Ucap syafila yang langsung bangkit berniat ingin melarikan diri dari incaran syafira.
Namun sayang, syafira lebih dulu tau niatan syafila. Sehingga syafira lebih dulu mencekal pergelangan tangan syafila.
Itulah hebatnya ilmu bela diri... Selain bisa bertarung, insting juga melekat di pelajaran itu. Sehingga syafira mengetahui pergerakan lawannya, sebelum lawan itu bergerak.
"Mau kemana ha?!! Bukannya elo sama syafina ingin tau seberapa bisanya gue bela diri? Gue akan tunjukkan sekarang juga!" Ucap syafira dengan menekan setiap katanya, dan juga mengganti semua panggilannya, sehingga menciptakan aura yang sangat mencekam bagi yang melihat dan merasakannya.
"Ra.. aku mohon lepasin tanganku ra... Aku percaya, aku percaya kalau kamu itu beneran ahli bela diri..., Aku percaya ra... Sekarang aku mohon lepasin tanganku ra... Biarkan aku pergi... Aku masih punya keluarga di kampung... Kasian mereka, kalo aku kenapa-napa... Aku mohon ra..." Ucap syafila memohon seraya menundukkan kepala, karena tidak berani menatap syafira lagi.
Sedang syafina hanya diam di tempat dengan perasaan yang ketar-ketir, tidak tau akan melakukan apa. Syafina tidak menyangka, jika dia telah berteman dengan jelmaan psikopat. Dan...
__ADS_1
Bukk!!!
"Aawww!!!"