
Di kantin kampus...
"Sya.....!!!!!" Panggil seseorang.
Namun hanya syafila dan syafina yang menoleh.
Sedang syafira bersikap masa bodoh dan acuh mendengar suara tersebut, dan tetap melanjutkan aktivitasnya, yaitu memesan makanan untuk makan siang nya.
"Apa ada yang bisa dibantu?"
"Apa saya mengenal anda...?"
Ucap syafina dan syafila hampir berbarengan.
"Eh, bukan! Saya manggil syafira, bukan salah satu dari kalian, apalagi kalian berdua! Saya tidak kenal kalian. Permisi!" Ucap orang itu sedikit ketus, dan langsung melewati keduanya.
"iish! Bercadar tapi judes amat ya! Ternyata benar kata mbak saya, tak semua pakaian mencerminkan kepribadian seseorang. Mbak saya juga bercadar, tapi dia lembut tuh!. Baik kata maupun sikap mereka sangat jauh berbeda seratus delapan puluh derajat." Gerutu syafila seraya membanding-bandingkan wanita itu dengan mbak nya.
"Gak boleh gitu ih, gak baik membanding-bandingkan seseorang." Tegur syafina pada syafila.
"Astaghfirullah... Iya kamu benar sya... Maaf saya terbawa suasana..." Ucap syafila.
Mereka berdua pun akhirnya menyusul syafira.
"Sya..." Panggil orang itu lagi, yang ternyata seorang wanita bercadar.
Namun Syafira tetap tidak peduli.
"Sya... Apa kamu masih marah sama mbak... Itu hanya salah paham sya... Kakakmu sam, telaah___" Ucap wanita bercadar itu seraya akan menggenggam tangan syafira. Namun ucapannya terpotong dan tangannya di tepis oleh syafira sebelum benar-benar menyentuh.
"Jangan pegang-pegang gue! Dan jangan pernah sebut nama kakak gue dengan mulut sampah lo itu. Paham lo!" Ucap syafira setengah berbisik, namun dengan nada rendah dan menekan.
"Tapi kan sya... Sam cum___"
"Gue bilang, jangan sebut nama kakak gue dengan mulut sampah lo itu!!! Ngerti gak sih!!! Atau lo budek, hah!!!" Bentak syafira dengan suara tinggi dan sedikit nyaring, karena merasa sudah tak kuasa lagi menahan amarahnya.
Akibat dari suara lantang syafira, syafira dan wanita bercadar itu seketika menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
Syafila dan syafina yang juga ikut menyaksikannya langsung, segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri keduanya, terutama syafira.
"Sya... Udah... Istighfar sya... Istighfar..." Ucap syafina menenangkan.
"Tarik nafas sya... Tariiik... Keluarkan perlahan... Tarik nafas.... Keluarkan lagi..." Syafila juga ikut menenangkan syafira yang tengah emosi.
__ADS_1
"Hemmmz huuuuf.... Hemmmz huuuuf.... Istighfar... Istighfar..." Ucap syafira nyeleneh seraya mengusap-usap dadanya. Entah syafira berucap seperti itu karena memang tidak sadar, atau memang benar-benar tidak tau apa itu istighfar dan cara mengucapkan nya.
Membuat orang yang mendengarnya, terutama syafina dan syafila yang tepat berada di sampingnya, tak tau lagi entah harus tertawa atau menangis.
"Pffft... Pffft... Saya... Saya ke toilet dulu." Ucap syafila yang tidak dapat menahan lagi tawanya pun segera berpamitan.
Sedang syafina yang mengetahui alasan syafila pergi hanya tersenyum menggeleng, dan sekuat tenaga untuk menahan tawanya. Demi syafira.
"Mbaaak.... Maaf sebelumnya... Saya tidak mengenal mbak siapa, dan tidak tau apa masalah mbak dan syafira. Tapi saya harap mbak mengerti... Jika untuk saat ini sepertinya syafira belum bisa diajak berbicara... Jadi saya mohon pada mbak nya, agar meninggalkan tempat ini. Tidak enak jadi tontonan semua orang..." Tutur syafina dengan lembut karena tidak mau membuat wanita bercadar tersebut tersinggung.
"Kamu ngusir saya?! Apa hak kamu mengusir saya, hah?! Apa kamu tau siapa saya? Saya itu adalah kakak ip___"
"Cukup! Lo tanya dia punya hak apa ngusir lo dari sini, iya?! Dia punya hak! Dia punya hak karena dia adalah sahabat gue! Puas lo! Sekarang, gue minta lo pergi sekarang juga dari hadapan gue!!!" Syafira memotong ucapan wanita bercadar itu dengan nada rendah dan tatapan dingin.
"Tapi kan sya....."
"Gue bilang pergi sekarang juga...!" Ucap syafira masih dengan suara rendahnya.
"Syaa..."
"Pergi!!! Budek lo ya!!! Gue bilang pergi ya pergi...!!! Apa perlu gue panggil satpam biar bisa ngusir lo dari sini!!!" Ucap syafira dengan nada tinggi kembali, dan dada yang naik turun di karenakan emosi nya yang membuncah.
Syafina yang masih setia berada di posisi awal nya, yaitu di samping syafira. terus merangkul dan mengelus tangan syafira untuk menenangkannya.
"Satpam!!!! Pak satpam!!!!!"
"Oke oke! Mbak pergi sekarang..." Ucap wanita bercadar itu buru-buru, dan yang akhirnya menyerah.
"Cih! Mbak mbak. Mbak gila iya...!" Gerutu syafira setelah wanita bercadar itu pergi.
Sesaat kemudian syafila datang, selisih beberapa waktu saja dengan kepergian wanita bercadar tadi.
"Udah pergi aja tuh mbak mbak bercadar....!" Ucap syafira pura-pura tidak tau, dan pura-pura celingukan mencari keberadaan wanita bercadar itu.
Ya, yang sebenarnya tadi syafila berpapasan dengan wanita bercadar itu, namun berpura-pura tidak tau, karena tidak ingin dan juga malas untuk menceritakannya.
"Iya sudah..." Syafina lah yang menjawab. Sedang syafira hanya diam saja dengan wajah di tekuk. Namun tiba-tiba syafira berdiri.
"Mau kemana syaa..?! Kamu belum makan...!" Seru syafina dan syafila berbarengan saat melihat syafira tiba-tiba berdiri sebelum makanan yang ia pesan datang.
"Gue mau ke toilet bentar." Ucap syafira sedikit dingin. Mungkin karena efek dari masih terbawa suasana.
Mendengar ucapan syafira, akhirnya mereka berdua pun mengangguk bersamaan.
__ADS_1
Di toilet...
Tut... Tut... Tut...
("Halo syaa... Kenapa? Tumben nelfon kakak?!") Tanya seseorang di seberang sana.
"Kak! Lo tuuh....." Ucapan syafira terhenti karena di potong oleh suara orang di seberang sana.
("Ish!! Ngomong nya...") Tegur orang di seberang sana.
"Iya iya maaf..." Ucapnya ketus.
("Kenapa sih? Hem?")
"Kakak kapan pulang sih?! Isya sebel tau nggak...! Sebel harus ngadepin itu wanita stress sendirian gak ada kakak... Kak sam tolong bilangin kek ke wanita stress itu. Bilangin suruh jangan ganggu isya gitu... Sebel isya jadinya tuh..." Ucap syafira mengadu pada sang kakak.
("Dia gangguin kamu lagi?!") Tanya sang kakak di seberang sana. Yang menurut dari suaranya, ia juga tengah merasa emosi.
"Iya... Dan sekarang di kampus nya isya... Sebenarnya isya malu kak harus jadi pusat perhatian semua orang. Mending kalo jadi pusat perhatian karena mengagumi isya. Lah ini.... Ck, dasar wanita sialaaan....." Ucap syafira mengadu dengan nada agak manja.
Ya... Syafira hanya akan bersikap manja pada keluarga nya saja... Tapi jika di luar, dia akan menjadi pribadi yang berbanding terbalik.
("Sudaah.... Kamu jangan ngambek gitu. Nanti kakak akan coba bicara padanya. Dan kakak janji, ini adalah terakhir kali nya dia gangguin adek kakak yang manis dan manja ini... Apa masih ada yang mau di bicarakan lagi? Jika tidak ada, kakak tutup dulu telfonnya ya... Soalnya kakak masih ada pekerjaan...") Ucap sang kakak di seberang sana.
"Memangnya kakak masih ada pekerjaan apaan sih? Kak vano sama kak dika aja sudah dari beberapa minggu yang lalu pulang nya! Kenapa kakak masih ngaret aja di kota orang. Apa kakak nyari calon istri di sana?!" Ucap syafina.
("Khuk khuk khuk! Apaan sih kamu dek... Ada-ada saja. Kakak tuh kerja... Bukannya maen-maen. Dah lah, kalo gak ada yang mau di bicarakan lagi, kakak tutup telfonnya.")
"Apaan sih kak...! Orang cuma nanya yang sebenarnya kok. Malah di kata apa-apaan. Ck. Pokoknya ya kak... Isya doain kakak dapet jodoh yang terbaik. Tidak seperti dia...!" Ucap syafira lagi.
("aamiin...")
"Ish, katanya mau kerja, gak mau main-main. Nyatanya ngaminin juga." Ledek syafira pada kakak nya yang berada di seberang sana.
("Isyaaa....")
"Udah dulu ya kak. Isya mau balik ke teman-teman isya... Udah di panggil soalnya. Bye kak... Jangan lupa! Urusin tuh nenek lampir. Klik" ucap syafira terburu-buru dan langsung memutuskan panggilan telepon nya, karena tidak mau mendengar omelan sang kakak.
"Huuuuf.... Semoga kak sam mendapat jodoh yang baik luar maupun dalam. Tidak seperti dia. Aamiin..." Ucap syafira seraya mendoakan sang kakak. Setelah itu syafira pun keluar dari toilet dan menuju ke arah dimana teman-temannya berada.
Kantin...
"Apa kalian sudah pesan? Maaf gue lama."
__ADS_1