ARTI SAHABAT Sebenarnya...

ARTI SAHABAT Sebenarnya...
bab 13


__ADS_3

Ting!


Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi di masing-masing ponsel ketiganya.


"Waaah... Berarti kita full free dong hari ini..." Ucap syafira setelah membaca isi notifikasi tersebut.


"Iya nih. Kalo gitu kita bisa cerita-cerita di sepanjang hari ini..." Sambung syafila.


"Boleh!" Ucap syafina.


"Gimana kalo kita awali cerita yang kemaren dulu..., Gimana??" Ucap syafila yang tiba-tiba rasa penasarannya kembali menggebu seperti kemarin.


"Yang kemaren?" Ucap syafira dan syafina bersamaan.


"Iya, yang kemaren. Di mulai dari syafira... Eh maksudnya rara. Panggilan kita bertiga berubah dari sekarang aja ya...?!" Ucap syafila.


"Boleh!" Seru keduanya lagi.


"Kalo gitu... Rara, sekarang mulai ceritanya." Ucap syafila lagi.


"Cerita apa?" Ucap syafira yang tidak ingat akan peristiwa kemarin.


"Ya ampun sya... Eh, ra..., Itu yang soal wanita bercadar... Masa' lupa sih...?!" Ucap syafila.


"Ooh, si wanita ular... Sebenarnya aku males sih kalo ngebahas tentang dia. Tapi demi kalian berdua aku rela." Ucap syafira.


"Aaaaa... So sweeeeet...." Ucap syafila dengan nada lebay nya dan dengan tangan yang berada di pipinya.


"Lebay!!!" Ucap syafina dan syafira bersamaan seraya sama-sama mendorong bahu syafila disisi kanan dan kirinya.


Syafila yang mendapat perlakuan seperti itu dari kedua temannya dan dikatai lebay, hanya mencebik dan menggembungkan pipinya.


"Baiklah, jadi gini... Wanita ular itu bernama sovia, dan dia itu adalah mantan calon tunangan kakakku waktu kuliah, dia___"


"Tunggu dulu, mantan calon tunangan? Berarti belum bertunangan dong ya?!" Ucap syafila memotong ucapan syafira yang belum benar-benar selesai, karena saking keponya.


"Ya ampun sya... Eh, la...! Aku kan belum selesai ceritanya, main potong-potong aja." Protes syafira.


"Hehehe... Peace... Sorry sorry... Sok atuh, di lanjutkan atuh neng... Hihihi..." Ucap syafila tanpa merasa bersalah, dan sok-sokan berbahasa sunda.


"Siiih... Sok pakai bahasa sunda! Emang ngerti apa artinya?!" Ucap syafina meledek syafila.


"Tau lah!" Ucap syafila.


"Apa coba, aku pengen tau!!" Ucap syafina yang semakin gencar memojokkan syafila.

__ADS_1


"Ya pokoknya tau... Dan itu... RA HA SI A!!!" Ucap syafila dengan PDnya, dan mengeja kata 'rahasia' di akhir kalimatnya.


"Hehehe... Rahasia rahasia, bilang saja tidak tau. Sya sya... Eh, maksudnya... La... La... Hehehe..." Ucap syafina yang masih saja terus meledek syafina.


"Ini pada mau cerita sendiri-sendiri apa mau denger cerita ku sih?!" Syafira menegur keduanya dengan wajah cemberut.


"Hehehe... Maaf maaf. Lanjutkan!" Ucap keduanya berbarengan.


"Kamu sih sya... Eh, kamu sih na..." Ucap syafila menuduh syafina.


"Lah, kok aku??!" Protes syafina.


"Sudahlah, aku mau ke kantin aja. Males disini, cuma di kacangin." Ucap syafira seraya akan beranjak dari tempat ia duduk sedari tadi, karena merasa malas dengan teman-temannya.


"Eeh... Jangan ngambek dong sya... Eh, ra..." Ucap syafila seraya menahan pergelangan tangan syafira.


"Terserah!!!" Ucap syafira yang tetap akan berdiri.


"Baiklah baiklah, kita minta maaf. Kita tidak akan memotong cerita mu lagi sebelum selesai. In syaa allah. Bener kan sya... Eh, la...??" Ucap syafina.


Mendengar ucapan syafina, syafira pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Oke! Awas saja kalau sampai motong-motong lagi!!" Peringat syafira pada keduanya.


"Iya....." Ucap keduanya dengan kompak.


"Sampaaai..... Aaa... Sampai calon tunangan kakakku..." Ucap syafila dengan hebohnya.


"Iish... Kakakku la... Bukan kakak kamu..." Sanggah syafira yang tidak terima jika ada orang yang mengakui kakak kesayangannya sebagai kakak orang itu.


"Ya ampun sya... Eh, ra... Posesif amat jadi orang...! Tau dah... Kalo itu kakak kamu..., Aku cuma nyontohin ucapan kamu saja... Ada-ada saja."ucap syafila seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena merasa tak percaya jika seorang syafira yang notabene nya seperti orang yang acuh, tapi nyatanya kebalikannya. Posesif.


"Iyalah! Kan kakak aku..." Ucap syafira seraya memperlihatkan sedikit lidahnya pada syafila.


Sedang syafila yang mendengar ucapa syafira hanya mencebikkan bibirnya.


"Sudah sudah... Ayo lanjutkan ceritanya...!" Ucap syafina menengahi keduanya.


"Hem... Baiklah, tadi sampai di calon tunangan KAKAKKU kan...?" Ucap syafira seraya menekan kata 'kakakku' di kalimatnya, dan kembali menjulurkan lidahnya pada syafila.


"Hem... Lanjutkan saja... Tidak usah meledek lagi..." Ucap syafila seraya memutarkan bola matanya jengah.


"Yayayaya... Aku akan melanjutkannya. Dia... Wanita ular itu ketahuan berselingkuh pada hari dimana saat acara pesta pertunangan akan berlangsung. Waktu itu kakak memang tidak pernah memberi tau siapa dirinya sebenarnya di keluarga kami, karena kakak ingin mencari pendamping yang tidak memandang keluarganya, melainkan melihat dirinya apa adanya... Sampai saat itu tiba, dia malah berselingkuh dengan laki-laki yang katanya lebih segalanya daripada kakakku. Terutama masalah kekayaan. Mama sudah memberitahu kakak, jika ada yang tidak beres dengan wanita itu... Namun kakak tidak mempercayai kata-kata mama. Dan setelah Kakak mengetahui semua itu dengan mata kepalanya sendiri baru dia percaya. Dan kakak mengetahuinya pada saat hari dimana pesta pertunangan telah siap. Bahkan semua tamu undangan sudah hadir. Huuuuf..." Ucap syafira seraya menghembuskan nafas berat.


"Lah, memang saat meminta atau meminangnya, wanita itu tidak tau siapa keluarga kakakmu?" Tanya syafila.

__ADS_1


"Tau! Tapiii___" Dan mengalirlah seluruh cerita yang diketahui syafira pada kedua sahabatnya.


"Ooh... Jadi begitu toh...! Pantas saja kamu seperti sangat membencinya. Aku saja yang hanya mendengar ceritamu saja, juga ikutan kesal apalagi kamu dan keluargamu. Terutama kakakmu itu. Padahal bercadar, tapi tidak malu dengan cadarnya. Memang bener apa yang di katakan mbak ku..." Ucap syafila.


"Memang, apa kata mbak mu la...?" Tanya syafira. Dan mulai terbiasa dengan panggilan baru mereka.


"Tuh... Nana juga tau...!" Ucap syafila, dan melimpahkan pertanyaan syafira pada syafina agar di jawab.


"Benarkah?! Benarkah kamu tau na...? Berarti cuma aku yang tidak kamu beri tau la? Jahat!" Ucap syafira.


"Apaan? Gimana kamu juga bisa tau... Jika kamu saja sibuk ngurusin itu wanita bercadar kemaren. Aneh." Ucap syafila yang tak terima dikatakan jahat oleh syafira.


"Sudah sudah! Tidak baik menghakimi seseorang. Belum tentu juga kita lebih baik daripadanya... Iyakan...?" Ucap syafina yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Iish! Bikin penasaran juga dosa loh na...!" Ucap syafira yang masih kekeh karena penasaran.


"Sudahlah ra... Gak penting juga. Eh tapi... Ada pentingnya juga loh na kata-kata mbak ku itu... Agar sekalian waspada, berhati-hati, dan tidak mudah tertipu... Boleh ya na aku kasih tau sama rara?!" Ucap syafila.


"Terserah!" Ucap syafina setelah memikirkannya beberapa saat.


"Oke..., Jadi kata mbak ku itu, tidak semua pakaian mencerminkan kepribadian seseorang. Udah, gitu aja." Ucap syafila tanpa merasa bersalah sama sekali. Karena menurutnya, perkataannya sudah benar.


Sedang syafira yang sudah bersiap mendengarkan ucapan syafila dengan sangat serius, berubah menjadi terpelongo di buatnya.


"Sudah?!!! Segitu aja???" Tanyanya yang seperti terserang shok dengan ucapan syafila.


"Iya, udah. Memang apalagi?!" Ucap syafila.


"Astaga lala.... Aku kira kata-katanya bakal panjang kali lebar. tapi nyatanya?? Sedotan minuman saja lebih panjang la...!" Ucap syafira.


"Yang penting itu bukan panjangnya ra... Tapi arti dan maknanya..." Ucap syafina.


"Betul! Pertanyaan nya adalah... Apa kamu mengerti arti dan makna dari ucapan mbak ku itu?" Ucap syafila.


"Tau lah...! In syaa allah... Hehehe..." Ucap syafira.


"Apa??!!!" Tanya syafila dan syafina berbarengan.


"Emmm... Apa ya... Nyerah deh. Hehehe..." Ucap syafira.


"Dasar!" Ucap syafila.


"Rara... Kita jadi orang jangan malu mengakui kekurangan kita... Apa kamu tau kata pepatah yang mengatakan... Malu bertanya, sesat dijalan. Di karenakan kita malu mengakui kekurangan kita, dan bahkan mungkin sok tau. Dan yang mengakibatkan kita juga yang salah langkah nantinya... Iyakan...?!" Ucap syafina.


"Betul!" Ucap syafila.

__ADS_1


"Betul betul aja kamu dari tadi. Emang ngerti?!" Ucap syafira.


"In syaa allah... Kan bisa di bilang aku murid kakak ku..." Ucap syafila dengan senyum bangganya, seraya menaik turunkan alisnya.


__ADS_2