
"Oh iya ra! Kamu mau tanya apa tadi?" Tanya syafina pada syafira.
"Hem??" Ucap syafira seraya menoleh pada syafina.
"Tadi... Sebelum adzan berkumandang, bukannya kamu ingin bertanya sesuatu?" Ucap syafina memperjelas ucapannya.
"Ooh... Itu ya... Hehe..., Tidak, bukan apa-apa kok. Tidak terlalu penting." Ucap syafira.
' untuk sekarang... ' lanjutnya dalam hati.
"Ooh... Kirain apa." Ucap syafina.
"Oh iya na! Tadi kata kamu, makhrom itu adalah keluarga dari ayah keatas dan keluarga dari ibu ke atas. Juga keluarga suami ke atas. Maksudnya itu gimana sih na...??" Ucap syafira mengalihkan ucapan namun tepat sasaran.
"Maksud dari keluarga ayah ke atas ataupun keluarga ibu ke atas itu adalah... Saudara kandung laki-laki maupun perempuan ibu atau ayah ke atas itu adalah makhrom bagi kita, walaupun berbeda jenis. Tapi jika yang sepadan dengan kita, atau yang di sebut sepupu itu... Kebawah bukanlah makhrom. Eh, benar gak sih??? Pusing juga ngejelasinnya..." Ucap syafila yang sok-sokan mau menjelaskan, tapi malah pusing dan bingung dengan ucapannya sendiri.
"Masih gak ngerti... Malahan makin konslet." Ucap syafira seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maksud ucapan lala tuh, gini ra... Saudara ayah atau ibu keatas maksud nya... Dari mulai paman atau bibi, kakek atau nenek, seterusnya yang bernasab kandung keatas itu adalah makhrom... Termasuk juga saudara kandung kakek atau nenek kita... Tapi tidak dengan pasangan mereka yang berlawan jenis dengan kita. Apa sudah mengerti tentang yang dinamakan makhrom ra?" Ucap syafina.
"In syaa allah... Nanti in syaa allah aku akan mengoreksinya lagi sendiri di rumah, hasil dari penangkapan fikiran ku sendiri... Hehehe..." Ucap syafira.
"Baiklah, sekarang tinggal yang bukan makhrom. Yang bukan makhrom dengan kita itu adalah sepupu kebawah... Yang maksudnya... Walaupun anak dari paman atau bibi kandung dari ayah ataupun ibu, jika berlawanan jenis dengan kita... Maka dia itu bukan makhrom dengan kita. Begitu pula anak sepupu dan seterusnya hingga bernasab-nasab kebawah. jika sudah baligh, tidak halal jika bersentuhan dengan kita. Begitu pula sepupu ayah ataupun ibu, maupun sepupu kakek ataupun nenek jika sudah dinamakan sepupu dan keturunannya yang berlawan jenis dengan kita, maka mereka maupun kita haram bersentuhan. Sejauh ini, apa sudah mengerti bestie??" Lanjut syafina.
"In syaa allah mengerti...!" Ucap syafira.
Sedang syafila hanya mangguk-mangguk.
"Alhamdulillah kalau gitu... Sekarang tinggal yang makhrom dengan keluarga suami..., Yaitu... Mertua, orang tua mertua, dan terus di atas mereka adalah makhrom dengan kita. Tapi jika kandung dengan suami... Jika tiri? Beda lagi ceritanya. Walaupun menurut nasab adalah mertua juga, tetap tidak lah halal bagi kita bersentuhan dengan mertua tiri yang berlawan jenis. Apa sudah mengerti??" Tanya syafina.
"In syaa allah..." Ucap keduanya
"Baiklah, tinggal yang bukan makhrom walau keluarga suami juga... Yaitu... Jika orang itu adalah selain dari mereka yang aku sebutkan tadi, maka bukan makhrom kita, walaupun itu adalah saudara kandung mertua. Jika berlawan jenis loh ya... Dan in syaa allah tentang makhrom dan non makhrom, telah selesai kita bahas. Wallahu a'lam bisshowab..." Ucap syafina.
"Tuh la..., Kalo ngejelasin tuh kayak nana, jelas dan detail... Gak kayak kamu, muter-muter..." Ucap syafira seraya meledek bercanda.
Sedang syafila yang merasa jika sedang diledek oleh syafira, hanya mencebik.
"Sudah sudah, di bilangin jangan suka membanding-bandingkan orang, masih saja! Apalagi sahabat seperti kita..., Gak lucu kan jika orang itu berantem dengan kita hanya karena membandingkannya dengan yang lain..." Ucap syafina.
"Tuh ra... Dengerin...!! JA...NGAN SU...KA ME...LE...DEK wleeek...!" Ucap syafila yang gantian meledek syafira dengan cara menekan setiap kata yang ia ucapkan.
"Lala...! Iish! Kalian mah sama saja..." Ucap syafina seraya bersedekap tangan.
__ADS_1
"Hehe... Maaf maaf... Kan cuma bercanda... Lagian kita kan BFFDA, jadi kita tidak boleh saling sakit hati... Jika ada di antara kita yang tidak menyukai terutama sikap dan sifat kita, kita harus membicarakannya baik-baik dan dengan kepala dingin. Kita tidak boleh memutuskan atau membicarakan apapun terutama tentang kita, jika kepala dan hati kita sedang panas. Janji bestie...?!!" Ucap syafila seraya memperlihatkan jari kelingkingnya.
"Janji, in syaa allah..."
"In syaa allah, janji..."
Ucap syafira dan syafina berbarengan seraya menautkan jari kelingking masing-masing dengan jari kelingking syafila.
"Ra... La... Kok aku kayak yang laper ya?! Ke kantin yuk...!" Ajak syafina pada kedua sahabatnya, setelah beberapa saat terdiam.
"Hayuk...!"
"Kuy lah...!"
Ucap syafira dan syafila hampir berbarengan.
Dan ketiganya pun beranjak dari tempat mereka berteduh saat ini.
Kantin...
"Kalian berdua mau pesan apa? Biar aku yang pesanin." Tawar syafira pada syafina dan syafila.
"Biar aku pesan sendiri aja." Ucap syafila.
Sesampainya di stan penjual...
"Mang... Saya pesan___" ucapan syafira terpotong saat terdengar sebuah suara yang seperti tengah menyindirnya, dan segera menoleh.
Setelah syafira mengetahui siapa pemilik suara tersebut, dia pun hanya berdecak malas.
"Huuuuf... Huuuuf... Istighfar... Istighfar... Hahahaha..." Ejeknya.
"Heh! Maksud lo apa ha?!!!" Ucap syafira sedikit tinggi.
"Diiih... Siapa juga yang ngomong sama lo coba! GR...!" Ucap orang itu.
"Itu barusan! Lo lagi nyindir gue kan...?!" Ucap syafira lagi.
"Hehe... Lo ngerasa?!! Bagus deh!" Ucap orang itu lagi.
"Elo!!!" Tunjuk syafira pada orang itu seraya akan menghampiri. Namun ditahan oleh kedua sahabatnya.
"Apa?!!! Mau ngadu sama keluarga lo? Silahkan... Gue kagak takut!" Ucap orang itu yang sepertinya memang sengaja ingin memancing amarah syafira.
__ADS_1
"Sudah ra... Sabar... Gak usah terbawa emosi..." Ucap syafina menenangkan syafira.
"Iya ra... Anggap saja angin lalu... Atau kalo nggak, anggap saja kaleng rombeng di tempat sampah." Sambung syafila.
"Huss!!" Tegur syafina pada syafila. Yang di balas cengiran oleh syafila.
"Hohoho... Jadi gini temen pilihan lo?! Ckckck... Gue kira selera lo tinggi. Tapi nyatanya?? Heh!" Ucap orang itu lagi seraya tersenyum meremehkan.
"Mereka adalah sahabat gue yang berharga...! Gak kayak elo! Murahan...!" Ucap syafira.
"Jaga omongan lo ya...!" Ucap orang itu seraya menunjuk-nunjuk syafira.
"tangan lo kagak usah nunjuk-nunjuk. Mau lo, gue umumin sama semua orang tentang kebusukan lo...?! Mau?!!" Ancam syafira pada orang itu.
"Ngomong apa sih lo? Gak jelas!" Ucap orang itu seraya memalingkan mukanya.
"Ooh... Omongan gue gak jelas?? Oke... Bakal gue perjelas sekarang!" Ucap syafira yang kali ini tidak hanya sekedar mengancam.
"Woy temen-temen!!! Nih disini ada___" ucapan syafira yang sambil berteriak agar tatapan semua orang beralih padanya tiba-tiba terhenti saat mendengar ucapan orang itu.
"Dasar gila!!!" Ucap orang itu seraya meninggalkan tempat itu.
"Elo tuh yang gila!!!" Ucap syafira meneriaki orang itu.
"Sudah ra... Sabar... Istighfar." Syafina baru berucap lagi karena omongannya sejak tadi tidak di dengar oleh syafira.
"Huuuuf.... Astaghfirullahal adzim...." Ucap syafira yang kali ini pengucapannya telah benar.
"Lagian siapa sih tuh cewek ra? Kok kayak yang musuhin lo gitu?!" Tanya syafila yang mulai kepo.
"Nanti gue... Eh, maksudnya nanti aku ceritain." Ucap syafira seraya duduk dengan asal di salah satu kursi yang memang tersedia di kantin.
' gara-gara tuh cewek! Gue jadi keceplosan. ' gerutu syafira dalam hatinya.
"Kalian duduk saja... Biar aku yang pesanin. Kalian mau pesan apa memang?" Tawar syafina.
Syafira akhirnya menyebutkan apa yang ingin dia pesan pada syafina. Karena saat ini syafira memang lagi malas untuk sekedar memesan makanan.
Sedang syafila sebenarnya ingin pesan sendiri, namun syafina memaksa dengan alasan syafira jangan di tinggal sendiri untuk saat ini.
Beberapa saat kemudian syafina pun telah kembali dari memesan makanan untuk mereka bertiga.
"Jadi, cewek tadi itu siapa?"
__ADS_1