AryAnna: An Eternal Story

AryAnna: An Eternal Story
Duka Wisnuwardhana yang sebenarnya


__ADS_3

Aryanaka membelah jalanan yang begitu ramai dengan kecepatan diatas rata-rata. Pikirannya kacau saat ini. Jantungnya yang berhenti berdetak seakan tak akan bergerak lagi. Tangannya bergetar dibalik pegangan stangnya yang keras.


Matanya sudah memerah. Tatapan matanya yang kosong ditutupi oleh perasaan takut yang makin mencuat. Tak peduli berapapun tanda lalu lintas yang ia langgar, yang terpenting adalah ia sampai di rumah sakit Darka Medika sekarang juga.


Oh ayolah, kenapa jalanan ini terasa sangat panjang?


***


Ketika sampai di area parkir, Zianna kelimpungan karena tak menemukan Aryanaka disana. Kemana perginya cowoknya itu? Ingin bertanya pada seseorang, tapi tak ada seorangpun disini.


Zianna menggigit jarinya khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi? Batinnya terus menanyakan hal yang sama.


Zianna mengamati deretan motor yang terparkir disana. Sial! Motor Aryanaka sudah tidak ada. Zianna makin kelimpungan dibuatnya. Menyisir rambutnya kebelakang dan bergerak gelisah.


Tiba-tiba saja deringan ponsel di saku kemeja sekolahnya bergetar. Segera saja ia ambil, siapa tahu itu Aryanaka. Zianna mengamati nama yang tertera disana. Zianna mendesah kecewa kala melihat nama yang tertera disana.


Ternyata Girtaja.


"Hallo, Pa?"


Zianna sempat dibuat terkejut dengan suara tangis lelaki diseberang sana. Disusul dengan Girtaja yang berujar penuh kepanikan yang amat kentara dari suaranya.


"Zianna– ..."


Zianna mematung mendengar penuturan papanya. Kakinya melemas, bahunya meluruh. Hal disekitar Zianna serasa hening tak ada suara sedikitpun.


Pertanyaan tentang Aryanaka yang berputar di kepalanya tadi terjawab sudah oleh penuturan Girtaja saat ini.


Dengan langkah tergesa ia berlari kembali kekelasnya. Mengambil tas sekolahnya sekaligus milik Aryanaka yang tertinggal. Ia sudah menyadari ini dari awal.


Dengan raut kecemasan yang amat kentara dari suaranya yang bergetar, Zianna menghampiri Keylara dan Kevandra.


"Kev, Lo bawa mobil, 'kan?"


Kevandra menoleh heran, "Bawa, kenapa emang? Lo mau numpang?" Membuat tepukan kecil di mulutnya oleh Keylara pun terjadi.


Biasanya, Zianna akan menyahuti candaan ini dengan seruan kesal. Namun sekarang situasinya berbeda.


"Anterin gue ke rumah sakit Darka Medika, sekarang, Please ... gue mohon."


Mendengar nada frustasi dan kacau Zianna membuat keylara dan juga Kevandra terkejut, "kenapa?"


"Please jangan banyak tanya. Lo mau nganterin gue apa nggak?"


Melihat raut kacau Zianna yang sangat jarang ia lihat, Keylara pun turut khawatir dibuatnya, "Kita berdua bakalan nganterin Lo."


Setelah meminta izin pada guru yang bersangkutan, mereka langsung saja tancap gas menuju rumah sakit Darka Medika.


Kevandra berkali-kali mengumpat lantaran jalanan pagi ini yang sangat macet. Para kendaraan seakan merayap di sepanjang jalan. Ia menancap gasnya dengan kecepatan penuh dengan perasaan yang sama khawatirnya kala melihat wajah frustasi Zianna. Kendati ia tak tahu apa yang sebetulnya terjadi.


Di kursi belakang, terlihat zianna yang bergerak gelisah dengan terus menelepon seseorang namun tak terlihat ada jawaban sedikitpun.


Bibir Zianna terus bergumam, "Arya, angkat please ... "


***


Sesampainya di sana.


Aryanaka mematung di depan pintu ruangan tempat bundanya berada. Tak ada setitikpun air mata yang menetes dari matanya atas kepergian sang bunda. Ia berduka dalam diam.

__ADS_1


Melihat bundanya perlahan ditutup oleh selimut putih, ia seakan dipaku ditempat, tubuhnya membeku, tak bergerak sedikitpun kendati hanya melangkah untuk memeluk sang ibu.


Di depan pintu itu, Aryanaka menatap sang ayah yang memeluk bundanya erat-erat seakan tak mengijinkannya pergi. Tangisan pilu sang ayah bahkan sudah terdengar sedari tadi.


Membuatnya turut merasakan sakit. Kedua tangan Aryanaka terkepal kuat. Siapa yang bisa ia salahkan disini?


Hanya dirinya.


Ini salah dirinya yang tak becus menjadi seorang putra. Dasar Aryanaka bodoh. Aryanaka tak berguna. Menjaga ibunya saja dia gagal. Bagaimana ia akan menjaga diri sendiri dan orang-orang yang ia sayang?


Zianna yang baru saja datang bersama Keylara dan juga Kevandra dengan tergesa lantas menghampiri Aryanaka, raut mukanya panik dengan kekhawatiran yang amat kentara, "Arya..." Panggilan itu membuat Aryanaka menoleh.


Aryanaka memandang Zianna dengan nanar. Matanya sudah memerah menahan tangis.


Keylara dan Kevandra yang melihat apa yang sebenarnya terjadi sama-sama mematung lantaran terkejut.


Dengan langkah putus asa serta tatapan matanya yang kosong, Aryanaka mendekap tubuh Zianna dengan erat guna mencari ketenangan. Berharap dengan adanya Zianna, ia tak perlu lagi berpura-pura kuat.


Zianna mati-matian menahan tangis, ia harus terlihat baik-baik saja di depan Aryanaka. Aryanaka membutuhkannya. Aryanaka butuh Anna-nya.


Zianna memeluk tubuh Aryanaka erat-erat mencoba menyalurkan kekuatan. Berharap semoga Arya-nya akan segera baik-baik saja.


Dibalik pelukan Zianna, Aryanaka seakan kehabisan kuasa. Air matanya turun begitu saja membasahi punggung Zianna. Ia terisak pilu dalam dukanya.


"Ada aku, Arya. Ada aku ..." Tangan Zianna mengelus pelan punggung Aryanaka.


Aryanaka makin mempererat pelukannya, "Anna ..."


Zianna menggigit bibirnya, menahan tangis, "Iya, ini aku,"


Aryanaka makin terisak.


Runtuh sudah pertahanan Zianna saat itu. Tangis yang ia tahan mati-matian akhirnya terlepas juga. Ia menangis memeluk Arya-nya. Nyatanya, ia pun turut terluka atas kehancuran Aryanaka.


Arya-nya hancur.


Perisai terkuat Zianna itu akhirnya tak mampu menahan serangan yang menerjangnya.


Tak ada tampang jahil dan menyebalkan seperti biasa. Yang ada hanya tangis dan isakan pilu yang Aryanaka tunjukkan pada dirinya.


Semesta seakan menghianati mereka saat ini. Membuat mereka kecewa.


Zianna dan orang-orang yang ada disitu menjadi saksi atas kehancuran sang Aryanaka Narantaka.


Rengganis Tunggadewi, dinyatakan meninggal dunia hari ini. Meninggalkan banyak luka pada siapapun yang menyayanginya. Penderitaan Rengganis telah usai. Setidaknya, ia tak akan merasa sakit kembali setelah ini.


Yang paling disayangkan adalah, Rengganis pergi sebelum berbahagia kembali bersama suami dan putra semata wayangnya. Sungguh ironis. Rengganis hanya akan menjadi kenangan termanis sekaligus menyakitkan dalam patri Aryanaka dan juga Jayadipura, suaminya.


Hari ini, adahal hari dimana duka sebenarnya terjadi.


***


Siapapun pasti tak menyangkal bahwa, penyesalan memang selalu datang di akhir setelah semuanya terjadi. Seperti yang dirasakan Jayadipura saat ini.


Ia ingin marah. Pada dunia, pada semesta, pada Tuhan, dan pada dirinya sendiri yang bahkan lebih buruk dari sekedar tak berguna.


Rengganis-nya telah tiada.


Siapa yang paling merasa menyesal? Tentu saja Jayadipura jawabannya.

__ADS_1


Dirinya yang membawa Rengganis pada lubang penderitaan ini pada awalnya. Jika saja ia bisa menjaga istrinya dengan baik. Jika saja, ia punya kuasa untuk melawan ayahnya. Jika saja, Permadi tidak menolak Rengganis untuk menjadi bagian dari hidupnya.


Atau jika saja ... Ia tak mengenalnya Rengganis sedari awal.


Maka mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Permadi tak akan mungkin membencinya. Rengganis tak akan mungkin mengalami penderitaan sebegitu hebatnya. Aryanaka juga tak mungkin terlahir dari ayah tak berguna seperti dirinya.


Dan yang paling pasti, Rengganis tak akan mungkin meninggalkan dunia ini sekarang juga.


Sekarang, apa gunanya dia hidup? Toh, dia juga bukan orang hebat yang berguna. Ia hanyalah seonggok manusia bajingan yang gagal menjaga keluarganya. Hal yang paling baik saat ini adalah, ia pergi dari dunia ini dan menyusul istrinya di alam sana.


Setidaknya, ia tak lagi mengurusi persoalan dunia yang begitu rumit. Setidaknya, ia bisa bertemu dengan istrinya lagi disana. Setidaknya, ia bisa kembali membangun hubungan baik dengan ayahnya yang telah tiada. Bukankah itu lebih baik?


Ya, itu memang yang terbaik.


Jayadipura memandang ratusan gedung pencakar langit dihadapannya, udara pagi ini cocok sekali untuk nya menemui ajal.


Dengan perlahan ia memejamkan matanya dan melangkahkan kaki naik ke atas pembatas gedung di lantai tertinggi rumah sakit Darka Medika.


Rengganis, tunggu aku. Tak ada yang boleh memisahkan kita berdua, bahkan kematian sekalipun.


"JAYADIPURA!"


Girtaja menarik lengan Jayadipura dan membawanya jatuh ke lantai rooftop RS Darka Medika yang kasar, berseru marah pada Jayadipura, "Jangan gila!"


Jayadipura memberontak dari cekalan tangan Girtaja, mata kosongnya menatap Girtaja marah, "Kenapa kau menghalangiku bertemu istriku?!"


"Kau mau mati?!"


"Iya!"


Girtaja menggelengkan kepalanya tak percaya dengan napas terengah lantaran berlari menggunakan tangga darurat saat ingin kesini, "Gila." Desisnya.


"Kau mau meninggalkan Aryanaka sendiri?"


Netra Jayadipura lantar teralih menatap Girtaja, "Memangnya apa gunanya aku disamping Narantaka?"


"Kau ayahnya!"


"Ayah tak berguna maksudmu?!"


Girtaja menggeram, menghempas lengan Girtaja, "Iya! Dan kau akan menjadi lebih tidak berguna kalau kau pergi begitu saja saat ini. Sekarang, anakmu itu sedang frustasi karena kehilangan ibunya yang bahkan baru saja ia selamatkan."


"Kau sebagai ayahnya harusnya sadar diri dan sadar posisi tentang apa yang harus kamu lakukan untuk menyikapi hal seperti ini. Bukan dengan bunuh diri seperti pengecut yang tidak bisa menyikapi suatu hal!" Girtaja menatap Jayadipura nyalang.


"Kalau kau mau bunuh diri, setidaknya perbaiki dulu kesalahanmu sebagai ayah bajingan yang tidak pernah berguna itu!"


"Aku bukan mau bunuh diri! Aku ingin menemui istriku."


Girtaja yang mendengar itu makin naik pitam. Astaga, Jayadipura bodoh!


"Apa kau belum mengerti juga?! Istrimu sudah tiada!"


Oke, Girtaja memang sedikit keterlaluan sekarang. Tapi, pola pikir Jayadipura yang gila ini kalau tidak di kerasin, ya, tidak akan pernah sadar.


Jayadipura menunduk dengan tangan yang terkepal kuat.


Girtaja menghela nafasnya kasar, "Bangun! Aryanaka menunggumu."


–to be continue–

__ADS_1


Tolong sadarkan Jayadipura🙏


__ADS_2