AryAnna: An Eternal Story

AryAnna: An Eternal Story
Terbongkarnya rahasia Alshad


__ADS_3

tandai bila ada typo ❤️


Minggu pagi, hari yang selayaknya digunakan untuk bermalas-malasan. Tak terkecuali Zianna yang sedari tadi enggan berpisah dengan kasur kesayangannya.


Membuat Alshad yang berulang kali menyuruhnya bangun lantas geram melihatnya. Ia berkacak pinggang menyaksikan bagaimana Zianna memegang erat sisi ranjang menolak untuk ia seret keluar guna sarapan bersama.


"Anak gadis kok disuruh bangun pagi gak mau!" Omel Alshad saat itu juga.


"Bangun gak Lo!"


Bukannya menurut, Zianna malah menutupi kepalanya menggunakan bantal. Oh ayolah, seberisik-berisiknya Minggu pagi orang-orang yang mendengar suara las atau radio tetangga, maka percayalah bahwa suara Alshad jauh lebih berisik dari itu.


Melihat itu, dengan geram Alshad menarik kaki Zianna ke bawah ranjang. Membuat sang adik berteriak kesal.


"Mandi sana!"


"Gak mau!"


"Mandi!"


"Nggak!"


Alshad menggelatukkan giginya geram. Dengan gemas ia menarik Zianna bangun dan menyeretnya ke kamar mandi. Mendorong gadis itu untuk masuk dan segera menutup pintu.


Brak!


"Gue tunggu Lo sampai lima belas menit ke depan. Kalau dalam waktu segitu Lo masih pakai piyama ... Siap-siap pagi ini Lo dapet jatah cuci piring ngegantiin bibi!"


Zianna memandang pintu kamar mandi yang tertutup dengan kesal. Mencebik dan berkali-kali memperagakan orang yang sedang memukul ke arah Alshad yang ada di depan pintu.


"Pantesan gak punya cewek, orang kasar begitu!" Seru Zianna mengutuk.


Alshad yang semulanya sudah melangkahkan kaki ingin keluar kamar lantas berhenti tatkala telinganya mendengar ucapan itu. "Cewek gue bahkan lebih cantik dari Lo. Gak usah asal ngomong!" Sahutnya keras.


Zianna yang ada di dalam kamar mandi hendak mencibir. Tapi kemudian ia melotot menyadari sesuatu.


Alshad punya cewek?!


"G-gue becanda! Gue gak punya cewek kok!"


Alshad seketika merutuki mulutnya yang tak pandai menjaga rahasia. Bodoh. Jika Zianna sampai cepu pada Girta dan Nertaja, maka sudah, dia pasti akan tamat.


Tidak, dia tidak takut bila orangtuanya menolak pacarnya. Namun justru, yang ia takutkan adalah, bagaimana jika pacarnya nanti yang malah lari kala mengetahui seperti apa orang tua juga adik biadabnya itu?


***


"Papa,"


"Hm?"


"Al udah punya cewek loh~"


Uhuk!


Mata Alshad sontak saja memicing menatap sang adik yang saat ini tengah menampilkan ekspresi menyebalkan.


Girtaja mengeryit saat itu juga, matanya menoleh ke arah Alshad dengan mimik bertanya-tanya. Membuat Alshad yang melihat itu lekas menggeleng-gelengkan kepalanya panik, mulitnya bergerak-gerak menyanggah ucapan sang adik.


Girtaja menghela nafasnya lelah, "Kasihan ceweknya."


Zianna mengeryit heran, "Kok kasihan?"


"Cowoknya dekil begitu."


Astaga.


Alshad ingin sekali membalas hinaan itu, namun bila ia membalas ucapan itu, maka secara tidak langsung dia akan membenarkan ucapan Zianna yang mengatakan bahwa dirinya telah memiliki pacar.


Walaupun kenyataannya memang sudah.


Tapi sungguh, demi Tuhan, demi semesta, dan demi langit serta bumi. Dirinya benar-benar takut bila pacarnya nanti akan kabur akibat frustasi menghadapi tingkah keluarganya yang diluar nayla ini bila ia memilih mengakuinya.

__ADS_1


"Cowoknya pengecut pula."


Astaga, ternyata belum usai.


Alshad meneguk ludahnya kasar, "Kok pengecut?"


"Punya pacar tapi nggak berani ngenalin ke keluarganya. Bukannya itu sama aja pengecut?"


Zianna bersorak sambil mengangguk-angguk setuju. Ah, Papa. I love you so much!


Alshad hendak menyanggah ucapan itu, namun gerakan mulutnya terhenti kala suara kaki yang terdengar mendekat.


"Siapa yang punya pacar tapi gak berani ngenalin ke keluarganya?"


Ini suara Nertaja.


Alshad yang melihat kedatangan mamanya lantas kembali meneguk ludahnya dengan susah payah. Menghadapi Zianna dan Girtaja saja ia kalah telak, bagaimana bisa ia mengahadapi Nertaja yang saat ini sudah mulai bergabung?!


Girtaja tersenyum miring melihat kegusaran sang putra, dagunya menunjuk Alshad sebagai jawaban dari pertanyaan sang istri, "Putramu."


Sontak saja Nertaja terkejut, "Putraku pengecut?!"


Astaga.


"Mamah, Alshad bukan pengecut." Protes Alshad.


Nertaja lantas meralat ucapannya, "Maaf, maksud mama, kamu udah punya pacar?"


Pertanyaan Nertaja ini masih sangat umum dan terdengar biasa saja, namun entah mengapa telinga Alshad menangkap pertanyaan itu sebagai sirine tanda bahaya.


"Nggak." Jawab Alshad memilih berbohong. Namun anehnya, kepala Alshad mengangguk kala mengucapkan itu. Sangat kontras dengan jawabannya.


"Lihat, dia ngangguk, ma!" Kompor Zianna sembari menunjuk Alshad.


Alshad segera menggeleng panik, "Nggak kok!"


Hal itu sontak saja membuat Girtaja dan Nertaja kompak menghela nafas mereka, "Jadi sebenarnya kamu ini sedang punya pacar atau nggak?"


Astaga Alshad ... Kejujuran membawamu ke dalam kedamaian.


Maka jujur saja lah.


Lagipula tubuh dan ekpresimu sama sekali tidak bisa berbohong.


"Tujuh belas tahun mama kenal kamu, mama baru tahu kalau kamu udah berani bohong sama mama."


Yah, sudah. Ketika ultimatum ini sudah keluar, maka sudah. Artinya Alshad telah berada diujung tanduk sekarang. Ingin kemana lagi dia?


Girtaja yang melihat itu lantas mengompori, "Papah gak ikut-ikutan, lho. Orang papa juga dibohongi."


"Zianna juga!" Seru Zianna turut mengompori.


Membuat Alshad berdecak. Kenapa dirinya yang selalu dinistakan?! Kalau sudah begini, maka bohong pun kena, jujur juga kena. Mau bagaimanapun jatuhnya tetap jadi serba salah.


Alshad menghela nafasnya, "Iya, Al udah punya pacar."


Terbongkarlah sudah.


Mata Nertaja yang sudah menajam sejak tadi makin menjadi nyalang setelah mendengar pengakuan itu. Nertaja ini memang tipe ibu yang lembut, namun jika ia merasa dibohongi, maka bumi pun mampu ia hancurkan saat itu jiga. Nafas Nertaja sudah kembang-kempis menahan luapan emosi.


Membuat Alshad bergidik, tubuhnya meringsut menjauhi sang mama, "Mah, Alshad anak mamah loh ..."


"Yang bilang kamu anak setan, ya, siapa?!"


"Ampun ma!"


***


Zianna mati-matian menahan tawa melihat Alshad yang tengah menyapu halaman belakang dengan seperempat hati. Selepas mamanya memberi sederet omelan yang hampir membuat telinga Alshad pengang, pada akhirnya terlemparlah Alshad disini. Di halaman belakang rumah yang bahkan belum terjamah sapu dari Minggu kemarin lantaran tukang kebun keluarga yang tengah mengambil cuti.


"Gue mulai nyesel waktu kecil pernah nanem pohon mangga disini." Rutuk Alshad tatkala daun mangga kering yang tak henti-hentinya berguguran lantaran tersapu angin.

__ADS_1


"Tumbuh elit, berbuah sulit!"


"Pohonnya jarang keramas kali, ya? makanya daunnya pada rontok begini!" Gerutu Alshad makin ngawur.


"Jangan salahin pohonnya, salahin diri Lo sendiri yang dasarnya emang gak becus buat nyapu." Sahut kejam Aryanaka yang ternyata sudah ada di sana sejak Nertaja memutuskan hukuman Alshad tadi.


Alshad berdecak, menudingkan sapu lidinya ke arah Aryanaka, "lo kalau gak ngebantuin mending diam aja deh!"


"Oh, siap."


Sial!


Tepat saat itu juga, Nertaja datang menghampiri mereka sembari membawa nampan berisi sepiring kue dan tiga gelas jus. Membuat Alshad yang tengah menyapu seketika menghentikan kegiatannya. Ia lekas menghampiri mamanya dengan wajah berbinar.


"Ah, mama. Udah Al duga kalau mama gak akan sekejam itu sampai ngebiarin Al nyapu tanpa dikasih minum." Cengir Alshad lantas duduk di atas tikar yang sudah ditata sedemikian rupa. Membuat sang mama hanya mampu mendengus.


Alshad mengambil segelas jus tersebut dan meminumnya hingga habis setengah. Ketika hendak mengambil sepotong kue, tangannya ditepuk seketika oleh Nertaja.


"Tangan kamu kotor!"


Alshad mencebik tak terima, "Bersih kok, ma!" Protesnya sembari menunjukkan kedua tangannya kepada Nertaja.


Nertaja menghela nafasnya, "Cuci tangan dulu Al,"


"Tap—"


"Cuci tangan, atau mama gak akan kasih kamu ini." Ancam Nertaja kala Alshad hendak memprotes.


Dengan wajah tertekuk akhirnya Alshad tetap menurut. Jarak kran air dengan tempatnya saat ini berselisih beberapa meter, tentu saja akan membutuhkan waktu bila ia berjalan kesana dan kembali kesini.


Bukan apa, ia hanya takut jika kue itu ludes kala ia kembali kesini. Wajar saja, ini sudah sering terjadi. Aryanaka dan Zianna itu sangat serakah jika menyangkut tentang masakan Nertaja. Ujung-ujungnya pasti dia yang tidak kebagian karena dimakan habis eleh mereka.


Alshad beranjak dari duduknya, namun sebelum itu ia memandang Aryanaka dan Zianna penuh peringatan, "Jangan dihabisin sebelum gue balik kesini."


Zianna balik memandang kakaknya, "Berarti kalau Lo udah balik kesini, kuenya boleh kita habisin dong?"


Mata Alshad melotot, "Ya jangan dihabisin pokoknya!"


Mata Nertaja turut memandang sang putra, "Ya makanya kamu cepat cuci tangannya."


Lekas saja Alshad melesat menuju kran air dengan kecepatan angin. Mencuci tangannya dengan sat set tanpa menggunakan sabun, lantas kembali menuju tempat semula.


Batinnya berkata, bodoh amat gak pakai sabun, yang penting tangan basah.


***


"Naka, kuenya enak?" Tanya nertaja kala Aryanaka memakan kue buatannya sembari becanda dengan Zianna.


Aryanaka menoleh menatap nertaja, lantas mengangguk, "Enak kok, ma. Seperti biasa." Jawabnya sembari menyengir.


"Iya, masakan mama kan selalu enak!" Sahut Zianna dengan mulut penuh kue.


Nertaja memandang sang putri, "Makanya kamu juga harus bisa masak mulai sekarang, biar bisa bikin makanan enak kaya mama."


Seketika Zianna menghentikan kunyahan di mulutnya. Ucapan Nertaja ini sebenarnya biasa saja. Sangat biasa saja malah. Tapi entah mengapa sangat ngejleb di dada Zianna.


Arryanaka lekas memandang ekspresi Zianna saat ini. Memastikan bahwa Zianna tidak merasani ucapan Nertaja tadi. Tapi sepertinya harapannya tidak terjadi sekarang.


Zianna mendengus. Kenyataan bahwa ia belum bisa memasak hingga saat ini benar-benar membuat batinnya terguncang. Zianna bisa masak kok, tapi hanya sebatas masak mie instan dan telur saja. Mungkin bila Zianna lebih giat belajar maka ia akan cepat bisa. Namun masalahnya, Zianna malas.


"Aryanaka mau kamu kasih makan apa nanti kalau kamu aja gak bisa masak?"


Duh ...


Aryanaka yang mendengar ucapan Nertaja yang mungkin—maksudnya memang sedikit membebani Zianna lantas memegang tangan gadisnya itu untuk menenangkan, "Gak papa. Zianna kalau gak bisa masak gakpapa. Lagian Aryanaka juga belum tentu bisa benerin pipa air jebol, genteng bocor, listrik konslet, mobil mogok, es kutub mencair, kebakaran hutan, punahnya badak jawa, melestarikan budaya leluhur, korupsi, dan mengentaskan kemiskinan." Ujar Aryanaka dengan sedikit canda.


Zianna tak perlu bisa memasak. Karena sesungguhnya, prinsip Aryanaka pada hubungannya dengan Zianna adalah, bagaimanapun caranya, maka Zianna harus nyaman dan tidak terbebani.


Itu saja.


Juga, ini tentang bagaimana cara agar mereka saling menerima dan melengkapi. Jika Zianna tidak bisa memasak, maka dia yang harus bisa. Begitupun sebaliknya.

__ADS_1


–to be continue–


__ADS_2