
Alshad tertawa terpingkal pingkal sejak tadi. Ia sama sekali tak berhenti tertawa saat melihat wajah Aryanaka yang telah dipenuhi oleh ruam merah.
Memang biadab!
"Orang seganteng Lo punya cela juga ternyata." Katanya masih dengan tawa.
"Kalau begini mah jadi gantengan gue, Ka." Lanjutnya makin ngelantur dan narsis.
Membuat Zianna yang mendengar itu sontak saja memasang raut ingin muntah. Sedangkan Aryanaka hanya memandang datar ke arah Alshad.
"Mending ngaca dulu deh, Sat. Muka Lo penuh cemong tuh!" Seru Zianna memandang malas ke arah Alshad.
Sontak saja Alshad mengusap wajahnya, "Emang iya?" Wajahnya menoleh ke arah Aryanaka, "Ka, muka gue beneran cemong?"
Aryanaka tak menyahut. Memilih memandang Zianna yang tengah menggenggam sebuah obat pil untuknya. Wajahnya memelas, "Obatnya bisa dicampur gula aja gak sih, Na?"
"Biar gak pahit ... "
"Buahahaha." Lagi dan lagi Alshad terpingkal menertawakan Aryanaka. "Kocak bener, anjir!"
Plak!
Terlampau kesal. Zianna akhirnya menampar mulut Alshad lumayan keras, membuat sang empu mengaduh kesakitan.
Berisik sekali!
"Lo kalau gak membantu mending diem aja deh!" Sentaknya.
Lalu ia beralih menatap Aryanaka, "Ini obat tinggal Lo telen sekali cegukan, Ar. Pahitnya gak bakal kerasa." Bujuknya.
Aryanaka menggeleng, "Kalo gak ketelen gimana?"
Zianna menghela nafas lelah, "Ya dicoba dulu." Bujuknya lagi. Tangannya menyodorkan satu buah obat pil ke arah mulut Aryanaka.
Sontak saja Aryanaka menutup mulutnya sendiri menggunakan kedua tangannya. Menggeleng dan menolak untuk meminum obat itu.
"Ar," Bujuk Zianna masih sabar.
Aryanaka masih menggeleng.
"Kalau gak dicoba kita gak bakal tahu."
Aryanaka makin menggeleng. Bahkan, bekapan pada mulutnya semakin mengerat.
"Lo gak mau sembuh?"
Anehnya Aryanaka tetap menggeleng.
Membuat Zianna gemas sendiri. Dengan geram ia meletakkan obat itu ke wadahnya kembali. Membuka paksa bekapan Aryanaka pada mulutnya, matanya mengkode ke arah Alshad agar mencekoki obat itu ke dalam mulut Aryanaka.
Dengan cekatan Alshad menurut, segera mengambil obat itu dan menghampiri Zianna yang tengah menjagal Aryanaka.
Aryanaka panik. Memberontak dan menggeleng berkali-kali agar obat itu tak masuk ke dalam mulutnya, "Gue gak mau, woi!"
Tangan Alshad membuka mulut Aryanaka dengan paksa, dan mencekokkan obat itu ke dalam mulut Aryanaka. "Telen, anjir!" Titahnya dengan mata mengancam lantaran Aryanaka yang masih membuka mulut tak mau menelannya.
Aryanaka hendak melepeh obat itu, namun mulutnya segera ditutup kasar oleh Alshad. "Telen! atau gue panggil Papa buat ikut nyekokin Lo sekarang juga?" Ancamnya lagi.
Benar-benar kejam.
Mata Aryanaka memprotes tak terima.
Ini namanya penyiksaan!
Mata Alshad melotot, Ia menolehkan kepala pura-pura memanggil Gitarja, "Papa, bantuin Al nyekokin Naka, Pa!" Teriaknya agak keras guna mengancam Aryanaka.
Glek.
Hebatnya, ancaman itu berhasil membuat Aryanaka meneguk ludah kasar beserta obatnya yang syukurnya juga ikut tertelan.
Zianna bersorak kegirangan melihat itu. Berbanding terbalik dengan mata Aryanaka yang menyipit kepahitan.
Uhuk!
__ADS_1
"Minum woi, minum!"
Dengan segera Zianna mengambil sekelas air dan menyodorkannya pada Aryanaka, "Nih, air kobokan." Tuturnya.
Aryanaka melotot terkejut.
"Becanda."
***
"Gila, leher gue sampai mau patah gara-gara Lo cekik!" Ketus Aryanaka pada Alshad sambil memegang lehernya.
"Heh, itu juga gara-gara Lo yang gak mau minum obat ya, babi." Sahutnya sengit.
"Lagian lebay banget minum obat begitu aja gak mau." Cibirnya sinis.
"Pahit woi." Balasnya, "Itu obat kalau manis juga gue minum." Lanjutnya lagi.
Sontak saja ucapan Aryanaka itu membuat Alshad melirik Aryanaka jengah, "Yang namanya obat ya pahit, ege. Yang manis tuh permen!"
Aryanaka mendengus, "Gue besok kalau jadi ilmuwan bakalan ciptain obat manis aja lah. Obat pahit bakal gue musnain biar orang-orang sakit gak makin kesiksa sama rasa pahitnya." Ujarnya makin melantur.
"Udah sakit, disuruh minum obat begituan pula. Pahit, pahit." Ujar Aryanaka dengan menggelengkan kepala saat mengucapkan kata pahit.
Alshad yang terlampau geram dengan ucapan tak masuk akal Aryanaka mati-matian menahan umpatan. Bahkan tangannya sudah terkepal guna menahan hasrat untuk memukul kepala Aryanaka agar menjadi waras sedikit.
Beruntung ia bisa menahannya.
***
"Hari ini kita fokus menyelesaikan materi untuk ujian akhir semester ini, ya. Ingat, kalian harus bersaing secara sehat. Saya tahu kalian semua anak hebat." Ujar wali kelas IPA 1 yang kebetulan mengampu mata pelajaran matematika kepada murid-muridnya.
"Jangan saling menjatuhkan. Pertahankan posisi dan jaga image kalian sebagai siswa kelas unggulan."
Ucapannya ini merujuk pada persaingan siswa-siswi kelas IPA 1 yang sangat sengit saat mengejar nilai. Singkatnya, ujian semester kali ini merupakan salah satu perang antar individu bagi kelas unggulan, yaitu IPA satu.
Kelas unggulan memang tak pernah lepas dari yang namanya persaingan. Umumnya, mereka akan menjadi rival satu sama lain saat mengejar nilai dan menuntaskan kembisiusan mereka.
Membuang waktu saja.
Katanya ingin fokus untuk ujian? Lantas kenapa wali kelasnya ini malah nyerocos saja dari tadi?
Zianna yang sudah jengah lantas mengangkat tangannya, memanggil sang wali kelas.
Hal itu sontak membuat seluruh atensi kelas berpindah padanya, termasuk Keylara yang tengah menggorok-gorok pensil dengan penggaris besi tanpa menimbulkan suara.
"Ada yang mau ditanyakan, Zianna?" Tanya guru itu.
Zianna menghela nafas pelan, "Bisa mulai membahas materinya sekarang saja tidak, Bu?"
Wali kelas itu sontak ternyenyum kaku, "Iya, bisa. Mari kita mulai sekarang."
***
"Gue denger, kelas sepuluh kedatangan murid baru." Ujar Keylara sambil menyeruput minumannya.
Zianna hanya mengeryit tak minat. Jika mereka kedatangan murid baru, lantas hubungannya dengan dirinya apa?
"Cewek."
Zianna menghela nafasnya, "Lo tuh gak usah bahas hal yang gak ada hub—"
"Naka di dekatin si murid baru!" Seru Kevandra heboh sambil menunjuk ke depan sana. Membuat Zianna dan Keylara kompak terkejut.
Di tempat yang berselisih beberapa meja di depan sana, terlihat seorang gadis ramping nan tinggi yang tengah mengajak Aryanaka berkenalan. Wajahnya terlihat ceria dan antusias. Berbanding terbalik dengan wajah Aryanaka yang terlihat sekali bahwa ia sedang tidak minat.
Mata Zianna memicing melihat itu.
Keylara yang mendengar seruan sang kekasihnya mengeryit curiga, "Lo kok bisa tahu kalau dia murid barunya, Ay?"
Kevandra mengusap tengkuknya, "Anu, tadi rame di grup anak cowok."
Zianna berdecih. Matanya menelisik ke arah murid baru itu. Tubuh tinggi semampai, body yang ramping namun terbentuk, kulit putih, rambut panjang yang indah, dan ... Sial! Kenapa dia bisa semenarik itu?!
__ADS_1
Zianna jadi membandingkan tinggi badannya dengan si murid baru itu. Dirinya benar-benar tidak ada apa-apanya.
Terlihat di depan sana si murid baru itu mengulurkan tangannya hendak mengajak Aryanaka bersalaman. Namun, Aryanaka hanya memandang uluran tangan itu sambil mengeryitkan dahi.
Oh!
Kedua tangan Aryanaka kan sedang memegang nampan makanan. Jelas sekali jika dia tidak bisa bersalaman. Astaga, apakah murid baru itu tidak sadar?
Zianna menghela nafasnya lega. Setidaknya si murid baru ini agak sedikit bodoh. Jadi ia tak perlu khawatir. Aryanaka kan anti dengan wanita bodoh, kecuali Zianna.
Eh, tapi Zianna kan tidak bodoh.
Memikirkan itu, Zianna sontak mengusap hidungnya bangga. Ia merasa beruntung.
"DOR!"
Zianna terperanjat kaget mendengar getakan itu. Begitu pula dengan Keylara dan kevandra.
Zio.
Si tersangka penggetaan itu tertawa geli melihat keterkejutan ketiganya. "Muka kalian kocak!"
Dengan geram Kevandra melempar Zio menggunakan kotak tissue. Membuat Zio makin tergelak. Keylara dan Zianna kompak mendengus melihat itu.
Zianna tampak tak acuh akan kehadiran Zio, ia memilih kembali melihat perjuangan si murid baru yang sedang mengajak Aryanaka berkenalan.
Zio mendudukkan diri tepat disamping Zianna. Memandang wajah cantik yang ternyata tengah melihat pusat perhatian di depan sana. Ia mengukir senyum miring, turut melirik ke depan sana.
"Si anjing cocok juga sama si murid baru."
Zianna refleks bombastic side eye mendengar celetukan yang Zio keluarkan.
Cocok apanya?!
***
Aryanaka berjalan santai menuju tempat dimana Zianna dan teman-temannya duduk sambil membawa nampan yang sudah ada menu makanan seperti biasa diatasnya.
Baru saja mulutnya akan memanggil Zianna, ia di kejutkan oleh perempuan asing yang tiba-tiba mencegahnya.
"Hallo, kak."
Aryanaka melirik gadis itu heran. Menoleh ke kiri ke kanan dan belakang guna memastikan bahwa yang gadis ini sapa memang dirinya atau bukan. Tapi saat ia menoleh, tak ada seorangpun di sekitarnya. Jadi dapat dipastikan bahwa gadis ini memang sedang menyapanya.
Aryanaka mengangkat sebelah alisnya, seakan bertanya apa yang diinginkan oleh gadis ini.
"Aku siswa baru disini. Kelas sepuluh IPA 1." Ujar gadis itu sok akrab.
Aryanaka hanya memandang gadis itu tak minat.
Ayolah, ia ingin segera menghampiri Anna-nya dan memakan makanannya sekarang juga. Kenapa gadis ini sangat mengganggu? Ingin pergi begitu saja tapi gadis ini terus-terusan menghalangi jalannya.
"Nama aku Nadine. Nama kakak siapa?"
Aryanaka berdecak dalam hati, namun dengan ogah-ogahan ia tetap menjawab pertanyaan itu. "Naka."
Gadis itu tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangan kanannya, "Salam kenal ya, kak."
Aryanaka mengeryit memandang uluran tangan itu.
Gadis ini tak sadar atau memang buta, sih? Dirinya sedang membawa makanan, bodoh!
Astaga, sabar Aryanaka. Kamu tidak boleh menyumpahi orang lain begini. Tidak baik untuk kesehatan batin dan juga mental.
Lama menunggu uluran tangan yang tak berbalas, gadis itu kembali menarik uluran tangannya dengan kaku sambil tertawa canggung saat menyadari sesuatu. "Sorry, kak. Aku gak sadar kalau tangan kakak lagi pegang itu."
Aryanaka kembali berdecak dalam hati, matanya menatap gadis itu malas, "Bisa minggir gak? Gue mau kesana." Dagunya menunjuk meja dimana ada Zianna yang ternyata sudah ditempeli oleh si sialan alias Zio. Muka Aryanaka berubah tak bersahabat detik itu juga.
Gadis itu tertawa kaku, "Oh— iya. Silahkan." Tubuhnya ia geser ke samping guna memberi Aryanaka jalan.
Tanpa menyahut Aryanaka berjalan melewati gadis itu yang ternyata diam-diam mendengus dan mengumpat di dalam hati.
—to be continue—
__ADS_1