
Disinilah mereka sekarang, di sebuah supermarket yang konon berada dekat dengan rumah milik Aryanaka. Mereka berdua lantas mengambil troli belanja dan lekas memilih bahan makanan pokok untuk mengisi kulkas yang kosong.
Sekilas info, mereka kesini dengan berjalan kaki.
Berkali-kali Zianna mengambil berbagai macam jajanan dan ia masukkan ke dalam troli. Dan berkali-kali pula Aryanaka mengembalikannya ke tempat semula. Tolong ingatkan pada Zianna bahwa tujuan mereka kesini adalah untuk membeli bahan makanan, bukan jajanan.
Zianna memberengut, menghentak hentakkan kakinya kesal. Ia, kan hanya ingin jajan, kenapa tidak boleh?! Jika Aryanaka ingin berhemat, rasanya itu tidak mungkin. Memang dasarnya Aryanaka saja yang pelit!
Zianna juga hanya mengambil 'sedikit' jajanan dan beberapa susu kotak. Tidakkah Aryanaka ini mengasihaninya yang belum minum susu kotak hari ini? Di dalam kulkas Aryanaka tak pernah sekalipun terisi jenis minuman bernama susu. Dan Zianna amat menderita gara-gara itu.
Apalah arti Zianna tanpa susu kotak?
Zianna melipat kedua tangan di depan dada, bibirnya bahkan sudah manyun beberapa centi. Kakinya di hentak-hentakkan sambil berjalan mengikuti Aryanaka yang sibuk memilih daging. Benar-benar seperti anak kecil yang tidak diperbolehkan membeli permen.
Aryanaka melirik Zianna sekilas, "Lo udah ngabisin segala macam snack di kulkas gue, gak usah beli lagi. Keracunan micin baru tau rasa!" Ucapnya kejam.
"Halah, emang dasarnya Lo nya aja yang pelit. Dasar orang kaya pelit!"
"Gue cuma mau make sure kalo Lo gak keracunan micin, Anna." Tutur Aryanaka melihat kekesalan sang gadis.
Sungguh, Zianna ingin sekali menangis sekarang.
"Terus kenapa susu kotak gue juga dikembaliin?! Emangnya susu kotak juga mengandung micin?!" Damprat nya kesal.
"Gak sengaja. Tangan gue reflek." Sahut Aryanaka santai.
Zianna tercengang dibuatnya, "Ngeselin! Mau gue ambil lagi!" Serunya lalu berbalik menuju kulkas dimana deretan susu kotak berada. Berjalan dengan kesal dan kaki yang tak lupa dihentak-hentakkan guna menunjukkan kekesalan.
Melihat itu Aryanaka lantas tergelak kecil, senang sekali rasanya mengerjai gadis itu. Aryanaka menggeleng pelan dan kembali melanjutkan kegiatan berbelanjanya. Mengambil beberapa sayuran, daging, serta buah-buahan yang sekiranya ia suka.
Ia tak mengambil seafood seperti ikan atau udang dan lainnya lantaran selain ia tidak suka, ia juga sedikit alergi dengan makanan laut tersebut. Entahlah ini bisa disebut alergi atau bukan, karena selepas makan makanan laut itu, esoknya pasti badannya jadi gatal-gatal dan muncul ruam-ruam merah. Ada yang sama?
***
Zianna berjalan riang menuju rumah Aryanaka sembari mendekap susu kotak berbagai rasa. Tak tanggung-tanggung, ia mengambil lima susu kotak sekaligus saat berbelanja di supermarket tadi. Tentu saja Aryanaka yang membayarnya.
Aryanaka yang berjalan di belakangnya dengan membawa beberapa keresek belanjaan hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang gadis.
"Nanti mau dimasakin apa?" Tanya Aryanaka di tengah perjalanan.
Zianna menghentikan langkahnya, menengok kebelakang dan menunggu Aryanaka supaya berjalan sejajar dengannya. "Lo tadi beli apa aja?" Bukannya menjawab, Zianna malah balik bertanya.
Aryanaka memandang keresek yang dia bawa, "Banyak, ada sayur sama daging."
"Daging apa?"
"Daging gajah!" Sahut Aryanaka kesal. Zianna ini bukannya tinggal menjawab saja malah bertanya terus.
Zianna tergelak dibuatnya, dengan santainya ia kembali menyedot susu kotak yang ia bawa, "Beli ayam, gak?"
"Nggak."
__ADS_1
"Lah itu yang di keresek putih apaan?" Zianna memandang heran ke arah keresek Aryanaka yang berisi berbagai macam daging.
"Daging."
Zianna memandang Aryanaka kesal, "Ya, ayam, kan?"
"Daging ayam."
Zianna menghela nafasnya kesal, "Ya, ayam, kan namanya?"
Aryanaka menyerongkan badannya menghadap Zianna, "Namanya daging ayam, Anna. Bukan ayam." Ujarnya dengan sedikit penekanan. Lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Zianna.
Zianna yang tadi berhenti menunggu Aryanaka pun bergeming ditempat, memandang kesal ke arah Aryanaka yang mulai berjalan meninggalkannya, "Padahal, kan sama-sama ayam!" Gerutunya. Lalu melanjutkan langkah mengikuti Aryanaka dari belakang.
***
"Ayamnya mau dimasak apa?" Tanya Zianna dengan menyumbulkan kepalanya di belakang Aryanaka yang tengah menumis bumbu.
Aryanaka tak menoleh, masih fokus pada kegiatannya, "Daging ayam, maksudnya?"
Zianna mencibir, "Iya, ayam."
"Daging ayam."
"Iyaaa, daging ayammm. Puas?"
Aryanaka terkekeh, "Puas." Sahutnya santai diikuti Zianna yang mencebik.
Hanya saja, karena gara-gara salah memotong bawang dan berkali-kali salah mengambil bumbu penyedap, ia jadi dilarang membantunya memasak.
Huh, dasar manusia sok mampu. Dibantu saja tidak mau!
"Mau ayam pedas manis, gak?" Suara Aryanaka terdengar kembali.
Sontak saja Zianna menggebrak meja sedikit keras, "Kann, kann, ayammm!" Seru Zianna menunjuk mulut Aryanaka pongah dari tempatnya.
Membuat Aryanaka mengeryit ditempatnya. Ada yang salah, kah dengan ucapannya?
"Ayam pedas manis, kan namanya, bukan daging ayam pedas manis!" Seru Zianna lagi.
Mendengar itu, Aryanaka jadi mengurut pelipisnya dengan tangan kiri, ia mulai mengerti. "Kalo udah dimasak bukan daging lagi namanya, Zianna Azaya. Yang belum dimasak itu baru namanya daging." Ujar Aryanaka sabar. Begitu saja Zianna tidak tahu.
"Ya, kan, namanya juga sama-sama ayam!" Sahutnya tak mau salah.
"Pokoknya namanya ayam aja, deh. Gak usah daging-dagingan. Ribet bener!" Celetuknya lagi. Benar-benar tak mau di salahkan.
Aryanaka hanya mampu mengurut pelipis dan menggelangkan kepala melihat tingkah random dari gadis yang kata warga sekolah sangat judes itu.
***
Zianna bertepuk tangan girang tatkala ayam pedas manis yang Aryanaka buat telah jadi dan dihidangkan dengan apik di atas meja makan. Zianna meneguk ludah tanda tergiur dengan masakan yang sungguh menggoda ini.
__ADS_1
"Yey, mari makan!" Tangan Zianna hendak mengambil ayam itu namun Aryanaka buru-buru menepuknya, membuatnya meringis.
"Kenapa sih?!" Protesnya.
"Cuci tangan dulu." Ujar Aryanaka memperingati.
Zianna berdecak pelan, namun tak urung ia tetap menuju wastafel guna mencuci tangannya hingga bersih. Lalu mengelapnya dengan sapu tangan.
"Udah." Zianna menunjukkan kedua tangannya yang sudah bersih pada Aryanaka yang tengah mencentongkan nasi ke dalam sebuah piring.
Aryanaka hanya menoleh sekilas dan mengangguk, lalu berujar, "sepiring berdua, ya?"
Sontak saja ucapan itu membuat tatapan sinis Zianna mengarah padanya. "Nggak!" Tolaknya mentah-mentah.
"Ya udah, gak usah makan kalau gitu. Ini, kan masakan gue." Ujar Aryanaka santai sembari menyembunyikan sipiring nasi dan ayam dalam dekapan.
Hal itu tentu saja membuat Zianna menganga, "Eh ... gak bisa, gak bisa! Tadi gue juga ikut belanja, ya!" Serunya tak terima.
Tolong caps lock dan garis bawahi ya teman-teman, tadi ia juga ikut belanja. Iya, maksudnya hanya ikut. Tanpa membantu memilih belanjaan sedikitpun.
"Ikut doang, maksudnya?" Tanya Aryanaka sambil meninggikan alis.
"Ya, i–ya, lah!" Sahut Zianna sambil mengusap tengkuknya ragu. Yang penting, kan dia ikut!
Aryanaka lantas menarik sebuah senyuman saat melihat itu, "Udah gih. Mau makan gak, sih?"
"Ya, mau!"
"Makanya bareng aja. Biar gak banyak cucian." Sahut Aryanaka santai dan dihadiahi tatapan tak percaya dari Zianna.
Tak urung, dengan langkah setengah hati Zianna menuruti ajakan Aryanaka. Makan siang berlauk ayam pedas manis sepiring berdua. Terdengar romantis, tapi kalian tidak tau saja.
Zianna paling tidak suka makan sepiring berdua dengan Aryanaka. Biasanya, jika sebuah pasangan makan berdua begini, mereka akan berperilaku romantis, saling menyuapi, mengusap bibir pasangannya yang kotor, atau apalah hal romantis lainnya.
Tapi kalau Aryanaka ini berbeda!
Bukannya romantis, ia malah akan melahap semua lauknya sendiri. Terkadang, Zianna hanya diberi lebih banyak nasi ketimbang lauknya. Sedangkan Aryanaka sebaliknya.
Menyebalkan sekali.
"Kali ini gue lagi baik. Jadi gue mau kasih lauknya sama rata." Ujaran Aryanaka itu sontak membuat Zianna berbinar dan tersenyum senang.
"Tapi nanti Lo yang cuci piring."
Duar!
Senyuman Zianna luntur seketika berganti dengan tatapan datar. Seharusnya ia sudah menduganya sedari awal.
"Becanda." Aryanaka tergelak melihat raut Zianna yang berubah total, "Nanti kita cuci piringnya sama-sama."
–to be continue–
__ADS_1