
Zianna dan Aryanaka berjalan menuju ke dalam rumah sembari bercanda ria. Berkali-kali Aryanaka menggelitik pinggang Zianna sampai gadis itu tertawa kegelian.
Sesampainya di depan pintu rumah, kedua sejoli itu mengucap salam bersamaan. Tak ada sahutan lantaran suara mereka yang sengaja dipelankan.
Sayup-sayup mereka mendengar suara ramai dari arah ruang tamu. Mereka berdua kompak berhenti tatkala di depan sana sudah ada perkumpulan ibu-ibu yang tengah mengobrol ria entah membicarakan apa.
Yang pasti, tak jauh-jauh tentang kehidupan para tetangganya yang lain.
"Eh, udah pada pulang, ya?" Suara Nertaja terdengar menyapa mereka. Membuat percakapan di antara ibu-ibu itu terhenti sejenak.
"Hehe, iya, ma." Jawab Zianna sembari menyengir. Lengannya sedikit menyenggol siku Aryanaka guna mengkodenya agar membantunya bicara.
Di depan ibu-ibu ini, mereka berdua seakan mati kutu. Ingin pergi begitu saja juga mereka merasa tidak sopan. Walaupun kenyataannya memang tidak sopan, sih.
Zianna berjalan menghampiri Nertaja, mencium tangan wanita itu beserta ibu-ibu yang ada disana satu persatu. Dan diikuti oleh Aryanaka dibelakangnya.
Langkahnya terhenti tatkala salah satu ibu-ibu itu mencegah cekalan tangannya agar tidak terlepas.
"Duhh, ini putrimu yang jadi juara umum itu, Nertaja? Cantik sekali, ya. Akan sangat cocok bila disandingkan dengan putraku." Celoteh ibu-ibu itu sambil menggenggam tangan Zianna.
Zianna tertawa sumbang dibuatnya, wajahnya tertoleh menatap Aryanaka yang terlihat melunturkan senyum tulus. Wajahnya terlihat kesal beberapa saat, namun setelah itu ia kembali mengulum senyum terpaksa. Terlihat sangat tidak ikhlas. Begitu pula dengan Nertaja yang tertawa kaku.
Tatapan ibu-ibu yang mencekal tangan Zianna itu beralih menatap Aryanaka. Matanya seketika berbinar cerah, "Wah, ini temannya Zianna, ya? Tampan banget kamu." Seketika cekalan tangannya pada Zianna terlepas, berganti mencekal lengan Aryanaka. "Kenalin, nama saya Sora. Nama kamu siapa?"
Sontak saja ibu-ibu lain yang sedari tadi sudah menahan diri untuk menghampiri Aryanaka kompak mengerubunginya guna memperkenalkan diri. Mungkin, juga ingin memperkenalkan anak gadis mereka. Barangkali Aryanaka tertarik. Akan sangat menyenangkan bila mereka punya menantu tampan semacam ini. Selain bisa memperbaiki keturunan, mereka bisa memamerkannya pada semua orang. Duh, pemikiran yang gila.
Aryanaka memamerkan senyum terpaksa menghadapi para ibu-ibu ini, "Saya Aryanaka. Pacarnya Zianna." Tutur Aryanaka dengan sedikit menegaskan dua kata terakhir.
Agaknya ibu-ibu ini memang harus diberi paham dulu agar mengerti.
Penuturan Aryanaka itu sontak saja membuat ibu-ibu itu melunturkan senyuman. Harapan mereka untuk menjadikannya menantu hancur dalam sekejap.
Begitu pula dengan Sora yang raut wajahnya sudah berubah total lantaran terkejut dengan penuturan Aryanaka barusan. Niatnya yang ingin menjodohkan putranya dengan Zianna lebur begitu saja akibat kenyataan bahwa ternyata Zianna sudah memiliki pacar, yaitu Aryanaka.
Seketika juga, cekalannya pada lengan Aryanaka terlepas. Ia berdecak samar, "Huh, masih tampanan juga putraku!" Dengusnya pelan.
Aryanaka memelototkan matanya seketika, sedikit terkejut.
Zianna yang melihat kejadian itu mengatup bibirnya menahan tawa. Ia sungguh, merasa terhibur. Sekaligus, merasa terselamatkan.
***
Suasana rumah Zianna terasa sedikit tenang tatkala ibu-ibu sosialita baru saja keluar dari rumahnya.
"Aryanaka gak mau ganti baju dulu?" Suara lembut Nertaja membuat kepala Aryanaka menoleh menatapnya.
Aryanaka menggeleng, "Gak perlu, Ma." Ujarnya sambil tersenyum.
"Kamu perlu. Pakai bajunya Alshad dulu, ya?"
Aryanaka hendak menggeleng kembali, namun suara Zianna membuatnya menurut.
"Gak etis main ke rumah pacar masih pakai seragam." Tutur Zianna mengulang ucapan Aryanaka beberapa waktu lalu. Membuat Aryanaka terkekeh.
"Plagiat itu melanggar hukum loh, Na."
Zianna hanya melengos dibuatnya.
Nertaja tertawa geli, "Kalian ganti baju dulu, habis itu makan siang, oke?"
"Nanti Aryanaka ganti kok, Ma. Habis makan aja, ya?" Tutur Aryanaka.
Nertaja menggeleng tegas, "Ganti dulu." Titahnya.
Tak ada alasan selain menurut. Kedua sejoli itu lantas mengganti pakaiannya agar Nertaja tidak mengeluarkan taring.
***
Aryanaka dan Zianna menghampiri meja makan dengar riang. Meraka tak sabar ingin memakan masakan Nertaja yang tak tertandingi.
Mumpung Alshad belum pulang.
Mereka berencana untuk menghabiskan masakan Nertaja supaya Alshad tidak kebagian. Menurut mereka, menistakan Alshad adalah hal yang paling menyenangkan.
__ADS_1
"Duh, susu kotak yang barusan gue beli belum gue masukin ke kulkas." Zianna menepuk dahinya dan merutuki dirinya yang pelupa.
Aryanaka memandang Zianna geli, "Ambil dulu gih. Gue tungguin disini." Titahnya.
Zianna mengangguk, "Lo kalau udah laper banget makan aja sisa cemilan ibu-ibu tadi yang ada di meja. Jangan makan masakan mama dulu sebelum gue balik!" Peringat Zianna.
Aryanaka hanya terkekeh mendengarnya. Namun tak urung ia tetap mengangguk.
Selepas Zianna pergi mengambil susu kotaknya, Aryanaka mendudukkan diri di kursi meja makan. Ia melihat di meja masih ada banyak cemilan yang serupa dengan yang dihidangkan di ruang tamu tadi.
Aryanaka memandang tahu bakso yang terlihat menggoda, mengambilnya satu dan mulai memakannya dengan santai.
Aryanaka mengeryit sejenak, rasanya agak berbeda dengan tahu bakso biasanya. Namun rasanya tetap enak. Tak ingin berpikiran buruk, lantas Aryanaka tetap melanjutkan kegiatannya memakan itu.
Sampai akhirnya, tangannya menjadi sedikit gatal. Aryanaka memandang heran lengannya dan menggaruknya pelan. Mungkin hanya serangga yang tak sengaja menggigit.
Tak merasa curiga sama sekali, ia tetap memakan tahu bakso itu dengan santai.
"Makan apa Lo?"
Zianna yang baru saja datang dan mulai memasukkan susu kotaknya ke dalam kulkas mengeryit memandang Aryanaka yang asik memakan sesuatu. Sekaligus heran dengan Aryanaka yang sesekali menggaruk-garuk lengannya entah karena apa.
Aryanaka menunjukkan apa yang ia makan, "Tahu bakso." Jawaban santai Aryanaka itu sontak saja membuat Zianna melotot terkejut.
Dengan tergesa Zianna memasukkan susu kotaknya ke dalam kulkas dengan asal dan menghampiri Aryanaka, tangannya merampas tahu bakso yang baru saja akan Aryanaka masukkan ke dalam mulut.
"Ini tuh bakso tuna, tolol!"
Uhuk!
Aryanaka sampai tersedak saking terkejutnya, "Serius?"
Pantas saja tangannya terasa gatal sejak tadi. Apakah ini karma karena ingin menistakan Alshad?
"Gue pikir ini ayam." Ujarnya mulai terlihat panik.
Zianna meletakkan tahu itu kembali ke atas piring dan meraup wajahnya panik, "Masa Lo gak bisa bedain bakso ayam sama tuna, sih?!"
"Gue gak tau." Sahut Aryanaka lagi. Tangannya kembali menggaruk tangannya yang mulai terlihat memerah.
Zianna menatap Aryanaka nyalang, "jangan di garuk, anjir! Nanti tangan Lo makin merah!" Sentaknya kesal lekas mecekal lengan Aryanaka agar berhenti menggaruk.
"Gak usah ngomong kasar juga dong! Bibir Lo mau gue tampol pake bibir gue apa gimana?!" Gerutu Aryanaka ikut merasa kesal karena Zianna yang tak henti-hentinya mengumpat padanya.
"Ya abis Lo bikin gue panik!"
"Mending Lo bawa gue ke dokter. Tangan gue makin gatel."
Zianna berdecak, dengan tergesa ia berlari mengambil handphone dan berteriak-teriak memanggil sang mama saking paniknya.
Nertaja yang mendengar teriakan sang putri menghampiri dengan raut kesal yang khawatir, "Kenapa sih, Zi?"
"Arya makan bakso tuna, ma!"
Nertaja melotot terkejut, "terus kenapa malah teriak? Bawa ke dokter sana!" Titah Nertaja yang juga menjadi panik. Ia menghampiri tempat dimana Aryanaka berada.
"Ada yang sakit, Ka?" Tanyanya.
Aryanaka menggeleng, "Gatel, ma." Sahutnya.
Aryanaka ingin tertawa geli melihat wajah panik Zianna dan Nertaja. Kenapa mereka seheboh ini, sih? Tapi mengingat kondisinya yang makin mengenaskan membuat niatnya urung.
Lihat saja, tangannya sudah sangat memerah lantaran tak berhenti digaruk. Juga, ruam merah yang mulai muncul dimana-mana semakin membuatnya terlihat memprihatinkan.
***
"Lain kali kalau mulai terasa efeknya jangan langsung digaruk, itu malah akan memicu rasa gatalnya semakin menguat. Juga, ruamnya akan semakin menyebar." Nasihat sang dokter dan hanya diangguki santai oleh Aryanaka.
Saat ini mereka sedang ada di klinik kesehatan yang menangani berbagai macam alergi dan penyakit kulit.
Dokter itu mengoleskan salep secara perlahan di lengan Aryanaka yang penuh akan cakaran hasil garukan. "Salepnya dipakai setiap dua kali sehari, sampai bekas ruamnya menghilang."
Zianna ikut meringis melihat itu, "Salepnya bisa dipakai di muka juga gak, dok? Itu mukanya juga muncul ruam."
__ADS_1
"Bisa. Asal jangan sampai kena mata."
Zianna mengangguk mengerti.
Mata Aryanaka memicing menatap dokter itu, "Dok, kenapa tangan saya masih sedikit gatal? Salepnya gak manjur, ya?" Tuding Aryanaka kurang ajar.
Dokter itu sontak menatap Aryanaka dengan pandangan terkejut, "Fungsi utama salep ini hanya menyamarkan bekas ruam dan sedikit mengurangi rasa gatal, dek. Kalau ingin rasa gatalnya cepat hilang, ya harus minum obat. Kamu saya kasih obat gak mau." Tutur dokter itu.
Tadi, saat dokter itu memberikan sebuah obat pil untuk mereda rasa gatal lantaran Aryanaka yang tak berhenti mengeluh dan menggaruk lengannya, Aryanaka malah menolaknya mentah-mentah dengan alasan ia tak mau minum obat pahit.
Jelas saja dokter itu terkejut bukan main. Memangnya dia ingin obat yang seperti apa?
"Obatnya pahit begitu. Ya saya gak mau, lah!"
Zianna sontak saja melotot menatap Aryanaka memberi peringatan. Lagi, selain Aryanaka tidak suka pedas, Aryanaka juga sangat membenci obat pahit. Menurutnya, rasa pedas dan pahit adalah rasa yang sama-sama menyiksa lidah.
Aryanaka tidak suka.
Zianna beralih memandang dokter itu tak enak, "Maaf ya, dok. Orangnya emang sedikit kurang ajar."
Dokter itu tersenyum ramah, "Gak apa-apa, manusia semacam ini ada banyak di muka bumi. Saya sudah sering menemuinya." Sahut dokter itu dengan sedikit bercanda.
Membuat Aryanaka yang mendengarnya mendengus. Aryanaka yakin, dokter itu tengah menyumpahinya didalam hati meski wajahnya terlihat sangat ramah.
"Setelah ini, sebisa mungkin jauhi makanan sejenis seafood, ya. Terutama ikan dan udang." Nasihat sang dokter dengan muka ramahnya.
"Kalau saya gak sengaja makan lagi gimana, dok?"
"Ya kamu balik lagi kesini." Sahut dokter itu.
"Gak mau lah, obat disini gak mujarab!" Ujar Aryanaka makin kurang ajar.
Bibir dokter itu berkedut menahan umpatan, namun ia tetap berusaha mempertahankan senyum ramahnya pada pasiennya yang 'sangat sopan' ini.
***
"Makanya, lain kali kalau mau makan tuh lihat-lihat dulu. Jangan asal main comot aja." Omel Zianna tatkala mereka baru saja mengambil obat dari resep dokter tadi.
"Gak mau tahu, ya. Ini obat harus Lo minum sampai habis. Gak usah ngerengek kepahitan. Lo bukan anak kecil yang masih minum obat sirup." Tekan Zianna lagi.
"Lagian kok bisa-bisanya gak bisa bedain mana ayam mana tuna. Udah gitu pas tahu rasanya gak familiar malah masih ngelanjutin makan!" Omelnya lagi dan lagi. "Pas ngerasain gatel bisa-bisanya gak curiga. Pas ngegaruk tuh mikirnya apa sih?!"
Aryanaka memandang geli bibir Zianna yang tak berhenti mengomel. Ada saja yang ia ucapkan. Melihat wajah Zianna yang terlihat lucu membuatnya menahan diri untuk tidak tertawa lantaran merasa gemas.
"Sekarang udah kapok?"
Aryanaka mengangguk, "udah."
Zianna mendengus. "Rasain tuh badan Lo yang bentol-bentol kaya macam tutul!"
"Entar juga sembuh."
Celetukan santai Aryanaka itu sontak saja membuat Zianna kembali membuka mulut ingin mengomel. Buru-buru Aryanaka membekapnya agar tak bersuara.
"Ngomelnya udahan dulu, ya. Malu dilihatin orang."
Zianna melepaskan bekapan itu dengan kasar, lalu mendengus sebal. Ia berjalan mendahului Aryanaka dengan wajah tertekuk. Lama-lama, emosinya semakin naik bila dengan Aryanaka.
Aryanaka mengikuti langkah Zianna sambil terkekeh geli. Ia mempercepat langkahnya menghampiri Zianna dan merangkulnya dari belakang.
"Gue udah lama gak makan ikan. Bahkan gue udah lupa sama rasanya saking gue gak suka."
Zianna yang mendengar itu hanya melirik Aryanaka tak minat.
"Pas gue makan baksonya tadi, rasanya emang agak aneh. Tapi enak."
Zianna masih mempertahankan wajah tak minatnya. Aryanaka ini seperti tak ada kapok-kapoknya.
"Gue gak suka sama ikan. Tapi ternyata kalau dibikin bakso enak juga."
Sudah cukup.
Zianna menghentikan langkahnya, membuat Aryanaka turut berhenti, "Lo gak ada niatan buat nyobain lagi, kan?" tanyanya menuding.
__ADS_1
Aryanaka buru-buru menggeleng, "Nggak. Gue kapok, Sumpah."
–to be continue–